Archive for July, 2005


Malesss Banget!!

Gara-gara liburan terlalu lama, gue jadi malesss banget. Mau ngapa2in rasanya maless banget.. Jadi sehari2 cuma makan, tidur, nonton ‘n nge-games mulu. Sehari ngegames isa 7 jam-an. Rekorr banget dalam kehidupan gue!!! Tapi herannya maen games gak selesai2… Padahal udah gue lakuin semua secara maksimal loh… YAch karena berhasil mempertahankan hidupnya sehingga gak matex2 kali… MAklum maen the Sims2 University… :) Gak tau dech ntar kalo masuk gimana?? Bakal gaswatttt nehhhhhh!!! :p

Mengapa perlu berdoa dengan sabar

George Muller, yang dijuluki sebagai seorang pejuang doa dan iman menghidupi anak-anak yatim-piatu tanpa pernah mengemis. Hingga menjelang akhir hayatnya (1897) jumlah yatim piatu yang ada padanya sekitar 9.500 orang, dan tak pernah sekalipun mereka tidak makan. Tuhan selalu mencukupkan kebutuhan anak-anak yatim piatu yang diasuhnya dalam 70 tahun pelayanannya. George Muller dipanggil Tuhan dalam usia 93 tahun (1805-1898). Pada bulan Nopember 1844, Muller mulai berdoa untuk pertobatan 5 orang. Setiap hari dia berdoa, baik dalam keadaan sakit, sehat, dalam perjalanan di darat, di laut atau apapun kesibukannya. Delapan belas bulan kemudian seorang dari 5 orang tersebut bertobat dan menyerahkan hidupnya kepada Kristus. Muller bersyukur untuk pertobatan 1 orang tersebut dan terus berdoa untuk empat orang lainnya. Lima tahun berikutnya 1 orang lagi bertobat dan Muller mensyukurinya dan terus mendoakan yang 3 orang lagi. Enam tahun kemudian 1 orang lagi bertobat dan menjadi Kristen. Sampai dengan 36 tahun sejak mulai berdoa, yaitu pada saat Muller memberikan kesaksian ini (November 1890), 2 orang lainnya belum bertobat. Namun menjelang Muller pergi ke pangkuan Bapa Sorgawi, 1 orang bertobat sedangkan 1 orang lainnya bertobat kemudian setelah Muller meninggalkan dunia. (Dikutip dari “George Muller”, oleh Roger Steer). Pesan dari cerita ini: Apabila Anda terbeban untuk mendoakan orang-orang, sekalipun mereka dalam pandangan manusia tidak mungkin untuk bertobat, berdoalah terus untuk mereka. Kesetiaan dalam doa tidak akan pernah sia-sia, bahkan kalau kita tidak ada lagi di bumi. Bagaimana kalau mereka adalah orang-orang yang Anda kasihi? As the Scripture says, “Anyone who trusts in Him will never be put to shame”. (Romans 10:11, New International Version).

JANGAN MENCETAK GENERASI MISKIN!

Kemiskinan adalah penyakit yang tak pernah mati di negeri ini. Silih bergantinya Presiden yang memimpin negeri ini. Begitu banyaknya oportunis yang mendirikan partai-partai baru dan mengisi gedung parlemen. Maraknya LSM-LSM berdiri mencari donasi. Tetapi-pun tidak mengubah angka kemiskinan. Yang miskin tetap miskin, bahkan jumlahnya terus menerus bertambah. Kemiskinan adalah penyakit yang sulit disembuhkan. Bahkan dalam berbagai kasus, kemiskinan bagai penyakit turunan yang menular dari generasi ke generasi. Orang yang dilahirkan miskin, tak akan jauh masa depannya dari situ. Mungkin saja ada segelintir orang miskin yang mendapatkan keberuntungan menjadi kaya, tetapi sedikit sekali yang mau kembali bergabung dengan komunitas miskin, karena takut penyakitnya kambuh lagi. Bangsa yang miskin memang sebuah ancaman. Tetapi ada ancaman yang lebih bahaya daripada kemiskinan yaitu ’kebodohan’.

Akhir-akhir ini di berbagai media, kita disuguhi berbagai portret kemiskinan di masyarakat kita yaitu penyakit ‘malnutrisi’. Busung lapar tidak hanya terjadi karena kemiskinan tetapi juga karena minimnya pengetahuan masyarakat tentang makanan sehat. Malnutrisi tidak hanya melanda mereka yang sungguh-sungguh miskin, tetapi melanda masyarakat yang miskin pengetahuan kesehatan sebenarnya. Hal tersebut bisa kita lihat di TV, banyak ibu-ibu dari anak-anak penderita busung lapar itu tidak kurus kering kerontang seperti keadaan anak-anak balitanya kering-kerontang yang perutnya membusung. Karena terjadinya busung lapar itu akibat dari nutrisi yang tidak balance. Pemerintah dan lembaga-lembaga sosial tidak hanya perlu menanggapi kebutuhan pangan itu dengan sekedar men-supply bahan-bahan makanan, mensupply obat-obatan dll bagi rakyat miskin terus selesai, tetapi perlu juga tindakan lanjutan yaitu segera diadakannya penyuluhan-penyuluhan pengetahuan tentang pangan sehat yang murah (terjangkau). Suatu keheranan, wabah busung lapar ini terjadi di saat cuaca dan musim sebelum kemarau, tetapi kelangkaan pangan sudah menimpa bagian-bagian negara ini. Dan memang bukan sekedar akibat alam, tetapi malnutrisi juga disebabkan oleh daya beli masyarakat tidak mampu membeli bahan pangan yang bergizi.

Akhir-akhir ini kita juga disuguhi berbagai macam wabah penyakit : polio, lumpuh layuh, busung lapar, dan terakhir adalah wabah muntaber. Di Tangerang-Banten saja dalam seminggu terakhir ini wabah muntaber telah merenggut 22 nyawa anak-anak dari keluarga miskin, yang mungkin hari ini bertambah korbannya. Belum lagi yang ada di daerah-daerah lain. Bisa kita lihat penderita utama akibat kemiskinan ini adalah anak-anak. Betapa geram dan sedih saya melihat berita ‘kematian tiba-tiba’ bagaikan wabah penyakit sampar, menimpa anak-anak yang tertimpa muntaber ini. Hanya dalam waktu semalam saja seorang anak yang tertimpa penyakit itu harus mati karena dehidrasi (kekurangan cairan). Mengapa hal ini terjadi? Karena menimnya pengetahuan para orang-tua bagaimana mengatasi penyakit yang sebenarnya ‘umum’ ini. Setiap orang pernah mengalami penyakit demikian, murus-murus dst. Saya ingat sekali dahulu pernah di puskesmas-puskesmas, posyandu (pos pelayanan terpadu), digalakkan pengetahuan tentang ‘garam oralit’, jika terhalang/ ada hal yang menunda untuk bisa pergi ke rumah sakit. Pertolongan pertama pada si-sakit itu bisa diatasi dengan meminumkan cairan garam oralit untuk menjaga agar tubuh tidak kekurangan cairan (dehidrasi), jika tidak bisa membelinya bisa dibuat dengan sederhana di rumah : garam campur gula campur air. Tetapi, akibat tidak dipunyainya pengetahuan sederhana ini nyawa anak-anak melayang. Maka kematian anak-anak bukan hanya karena kemiskinan, tetapi juga karena kebodohan.

Tidak dipungkiri, ribuan posyandu terbengkalai, terutama sejak masa krismon- masa reformasi/ lengsernya Pak Harto. Padahal pos pelayanan kesehatan cuma-cuma itu penting bagi rakyat kita. Terlebih lagi sudah menyurutnya program-program penyuluhan kesehatan, KB, pekan imunisasi dan lain-lain. Belum lama ini Bapak Presiden SBY mengatakan “tidak semua program yang dicanangkan ORBA itu jelek”. Beliau menegaskan bahwa “peran posyandu-posyandu dengan penggerak para pengurus PKK di setiap RT-RW kembali akan dihidupkan untuk mengatasi masalah busung lapar dan gizi buruk anak-anak balita kita”.

Pemerintah kita sebenarnya sudah mempunyai acuan bagaimana mengatasi kemiskinan : Pasal 34 UUD 1945 dengan jelas menuliskan “Fakir miskin dan anak-anak terlantar dipelihara oleh negara.” Kemudian dijabarkan lebih lanjut oleh Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1974 tentang Ketentuan Pokok Kesejahteraan Sosial. Pasal 1 UU 6/1974 menyatakan bahwa “Setiap warga negara berhak atas taraf kesejahteraan sosial yang sebaik-baiknya dan berkewajiban untuk sebanyak mungkin ikut serta dalam usaha-usaha kesejahteraan sosial”. Kemudian diteruskan lagi dengan Peraturan Pemerintah RI no.42 tahun 1981 : “Fakir miskin berhak mendapatkan sarana bantuan sosial dan rehabilitasi sosial.”(Pasal 2). Tetapi uturan-aturan itu tidak terlaksana dengan baik, sekarang yang ada adalah saling menyalahkan : masyarakat menyalahkan pemerintah dan pemerintah menyalahkan masyarakat. Sebagai contoh : di berita yang disampaikan beberapa media, Menteri Sosial Bachtiar Chamsyah mengkritik “LSM-LSM mempolitisasi kasus busung lapar untuk keuntungan mereka sendiri. Banyak dari LSM-LSM yang memperoleh dana dari luar negeri, tapi tidak jelas penggunaannya”.

Mencuatnya kasus busung lapar dan semua kasus kemiskinan memang tidak lepas dari minimnya anggaran kesejahteraan rakyat miskin. Dana subsidi BBM yang katanya dialihkan untuk rakyat miskin ternyata belum sampai ke sasaran. Maka, kebijakan kenaikan harga BBM akhirnya juga dampaknya mengenai rakyat sehingga daya beli untuk kebutuhan primer semakin menurun.

Hal lain yang tak kalah penting adalah ‘Anggaran Pendidikan’ untuk mensubsidi rakyat miskin mendapatkan pendidikan yang layak, sehingga generasi miskin berikutnya bisa diminimumkan. Karena dengan pendidikan yang dimiliki otomatis akan meningkatkan kesejahteraannya. Anggaran pendidikan ini bisa diatikan sebagai investasi negara jangka panjang, dan akan terlihat jelas manfaatnya kedepan. Negara tetangga kita, Malaysia sudah melakukan hal ini, dan kelanjutan investasi pendidikan ini kemudian mereka teruskan dengan visi jangka panjang berikutnya yaitu pengembangan Sistem Informasi yang dikenal dalam program yang mereka sebut Malaysia 2020. Sementara negara kita ini visi kedepannya belum jelas kemana.

Bisa kita bayangkan, apabila investasi pendidikan ini dilaksanakan, mungkin kita tidak lagi mengekspor TKI-TKW untuk tenaga kasar dan pekerjaan-pekerjaan domestik saja. Tetapi kita akan mensupplay tenaga kerja yang terdidik dan terampil. Seharusnya kita marah melihat para TKI di Malaysia tangannya diborgol dengan kaki diikat dengan rantai besi, mereka dianiaya seolah-olah mereka itu penjahat/teroris. Kasus-kasus pelecehan TKI-TKW di negeri asing tidak akan terjadi lagi jika pekerja yang dikirim itu mempunyai bekal intelektual. Kemalangan-kemalangan yang menimpa TKI-TKW di negeri asing sebenarnya merupakan tamparan berat negara ini, seolah-olah negara ini identik dengan negara budak. Jika kemakmuran negeri ini tercipta, saya yakin saudara-saudara kita tidak perlu mengais-ngais rejeki di negeri lain yang akhirnya-pun pulang dengan tangan hampa plus pengalaman buruk dianiaya di negeri orang.

Penanggulangan maraknya generasi miskin bukan melulu tugas pemerintah, tetapi tugas semua orang di negeri ini. Ayah saya selalu bilang “kalau belum punya pekerjaan jangan menikah, jangan mencetak generasi miskin!”. Wejangan yang terkesan sinis ini bukannya menekankan paham materialisme, tetapi wejangan ini merupakan pemikiran realistis yaitu memberikan beban tanggung-jawab, bahwa jangan berani menikah kalau belum siap menjadi ‘orang-tua’. Bagaimanapun hadirnya anak-anak ada didalam tanggung-jawab orang-tua yang menyebabkan mereka lahir kedunia. Orang-tua mempunyai mandat ilahi bahwa anak-anak adalah harta titipan yang Maha Kuasa. Wejangan itu mempunyai latar belakang, ketika kami masih kecil-kecil, ayah saya pernah kehilangan pekerjaan. Dengan tanggungan anak-anak yang masih kecil, umur 10 tahun kebawah dan ibu saya yang dalam keadaan hamil bekerja untuk membantu mencukupi kebutuhan, akhirnya adik saya yang bungsu lahir dengan keadaan kurang sehat karena kurang gizi sejak dalam kandungan. Kemiskinan masa lalu ini menjadi pelajaran berharga bagi kami, bahwa orang-tua bertanggung-jawab akan kesejahteraan anak-anaknya.

Para elemen pemerintahan di pusat maupun daerah, dan kita semua, untuk mewujudkan Indonesia sebagai bangsa yang besar : Jangan mencetak generasi miskin!.

NGenett

Berhubung hari Sabtu ini gue lagi nganggurr… makanya gue ngenett.. :P Rencanaanya sich mau dipuas-puasin, tapi berhubung ada imbauan untuk hemat BBM dan listrik makanya gue hematt juga penggunaan internet.. :P YAch apalagi sekarang udah gak langganan lagi…

MENGASIHI

Sehari-hari, kita pasti menemui banyak hal dan berbagai karakter. Dari suatu relasi (relationship) pasti kita menemui cukup gesekan baik dengan teman, keluarga, maupun pasangan kita. Kemudian seiring dengan berjalannya waktu, rasa sayang kita pada mereka pun menjadi pudar, pudar dan semakin pudar. Orang yang semula kita kasihi, kita sayangi menjadi orang yang kita musuhi. Dari kata-kata “Kau berarti bagiku”, “I love you”, dsb menjadi “SIAPA SICH DIA?”, “I HATE YOU”, dan berbagai kata-kata menyakitkan lainnya.

Saat Tuhan menegur kita, mempertanyakan kasih kita pada orang itu. Kita pun hanya berkata,”Memangnya siapa dia?” Kembali kita pun berkata,”Apa sich keahlian dia, kedudukan dia, kepandaian dia sehingga aku harus menghargai dia, memaafkan, ataupun baik padanya?” Kemudian kita pun hanya terdiam ataupun malah ngedumel mulu.. :P
Ingatlah DIA yang pernah berkata,”Tidaklah mungkin seseorang bisa mengasihi-KU yang tidak kelihatan, sedangkan dia tidak mengasihi saudaranya yang kelihatan!”

MUNAFIK

Dalam kehidupan sehari-hari, mungkin kita sering mengatai seseorang ataupun sekelompok sebagai orang yang munafik. Kita mengatakan hal itu mungkin karena sengaja ataupun tidak sengaja, tapi yang pasti disebabkan karena kelakuan mereka yang bertentangan ataupun sangat bertentangan dengan apa yang diajarkan ataupun apa yang orang itu ucapkan sehari-hari. Mungkin orang itu teman kita, mungkin orang tua, mungkin orang itu pembimbing kita, ataupun bahkan pendeta kita.

Namun sadarkah kita.. Bahwa seringkali kita pun melakukan hal yang sama?? Kita melakukan banyak hal, entah itu pelayanan entah itu membantu orang lain, tapi seringkali motivasi kita gak benar. Kita melayani bukan lagi untuk KEMULIAAN TUHAN.. Kita melayani hanyalah untuk kepentingan kita sendiri, entah mungkin supaya terkenal, supaya masuk surga, supaya dapet imbalan, supaya dapet penghasilan tambahan atau yang biasa disebut PK, atau mungkin dikarenakan kita terlanjur gak enak sama teman, sama pemimpin ataupun bahkan sama pendeta (orang-orang yang kita tuakan). Bukankah itu MUNAFIK juga!!!??

Karena itu sodara-sodara, hendaklah kita mengingat kembali akan tujuan kita semula.. Bukankah sepantasnya kita melakukan segala sesuatu seperti yang tertulis: “Hendaknya kita melakukan segala sesuatu seperti TUHAN dan bukan untuk manusia.”