Archive for August, 2005


Blessing

If you woke up this morning with more health than illness, you are more blessed than the million who won’t survive the week. If you have never experienced the danger of battle,
the loneliness of imprisonment, the agony of torture or the pangs of starvation, you are ahead of 20 million people around the world. If you have food in your refrigerator, clothes on your back, a roof over
your head and a place to sleep, you are richer than 75% of this world.
If you have money in the bank, in your wallet, and spare change in a dish someplace, you are among
the top 8% of the world’s wealthy.
If your parents are still married and alive, you are very rare. If you hold up your head with a smile
on your face and are truly thankful, you are blessed because the majority can, but most do not.
If you can hold someone’s hand, hug them or even touch them on the shoulder, you are blessed because you can offer God’s healing touch.
If you can read this message, you are more blessed than over two billion people in the world
that cannot read anything at all. You are so blessed in ways you may never even know. If you are feeling blessed, replay the blessings bestowed unto you and do something for others.
A blessing cannot be kept. If it stops with you, then the blessing will disappear. The blessing will
only keep working if it is continuously passed around. If you are a recipient of a blessing, keep
the blessing working by being the source of blessing to other people.

10 ALASAN YANG MENDORONG COWOK MENIKAH

1.CINTA
Menikah karena alasan cinta memang hal yang paling
sering terjadi. Dan untuk yang satu ini, memang sulit
dicari penjelasannya. Mungkin lebih tepat jika disebut
misteri. Cinta memang bisa langsung muncul pada
pandangan pertama, namun bisa juga perlahan-lahan
tanpa disadari. Cowok yang menikah karena cinta,
umumnya tidak bisa menjelaskan, kenapa mereka
memutuskan menikah. Bagi mereka pernikahan
bukanlah suatu akhir dari sebuah proses, namun awal
sebuah perjalanan baru.

2.INGIN MEMILIKI KELUARGA
Bagi banyak cowok, memiliki keluarga yang harmonis
dan anak-anak yang lucu adalah cita-cita yang indah.
Bagi mereka, memiliki keluarga juga menjadi sumber
ketenangan, dukungan, kehangatan, dan pengalaman
hidup yang benar-benar baru.

3.KEBERSAMAAN
Beberapa cowok menganggap perkawinan adalah
semacam kerjasama antara dua orang untuk
menciptakan kehidupan yang lebih baik bagi mereka
bersama. Mereka berharap, perkawinan akan
membantu mereka lebih saling mendukung dan
memperhatikan selama masa-masa sulit dan masa-
masa menyenangkan. Karena itu mereka mencari
pasangan hidup yang sudah teruji kualifikasinya untuk
persyaratan tersebut.

4.KOMITMEN
Cowok memang terkadang tampak kurang suka terlibat
dalam komitmen. Tapi sesungguhnya keinginan
komitmen mereka lebih dari yang diduga. Percaya atau
tidak, sebagian besar cowok menginginkan menikmati
hari tuanya bersama seorang istri. Dan itu menunjukan
mereka tetap ingin setia pada satu pasangan hidup.

5.KEPERCAYAAN
Kepercayaan juga termasuk salah satu alasan cowok
menikah. Entah itu berupa keinginan untuk memiliki
seorang yang bisa mempercayai mereka, ataupun
sebaliknya, yang bisa mereka percayai. Kepada siapa
lagi kita bisa mengungkapkan segala kekesalan,
masalah, sakit hati, bahkan rahasia pribadi, jika bukan
pada pasangan hidup kita ? Kepada siapa mereka bisa
setia dan bersikap jujur. Cowok seperti ini akan
mengiba-iba memberikan hatinya kepada perempuan
yang telah mencurahkan rahasia kepadanya, yang
membuat lelucon tentang uang belanjaanya.

6.PERSAMAAN PANDANGAN HIDUP
Banyak cowok yang mencari istri yang memiliki
pandangan hidup sama dengan dirinya, meskipun
sering berganti pacar, namun jika ada yang memiliki
kesepakatan nilai-nilai hidup maka cowok akan segera
mengambilnya. Kecocokan bisa juga dipengaruhi oleh
latar belakang keluarga kedua pihak yang mirip.Dalam
beberapa kasus perbedaan pandangan ini memang
menjadi sumber keretakan sebuah rumah tangga.

7.PERSAHABATAN SEJATI
Sulit dipahami memang kalau ingin bersahabat kenapa
harus menikah ? namun perkawinan sesungguhnya
adalah menemukan seorang sahabat yang terbaik.

8.PENERIMAAN MASYARAKAT
Alasan menikah karena ingin lebih diterima
masyarakat memang terkesan agak dangkal, tapi pada
kenyataannya, banyak orang merasa lebih aman dan
nyaman jika bekerjasama dengan seseorang yang
sudah berkeluarga. Sebaliknya, mereka merasa
kurang safe jika bergaul dengan mereka yang masih
single. Disisi lain, status sebagai suami dipandang
lebih terhormat daripada cowok lajang.

9.KESEPIAN
Sebuah survei menyimpulkan bahwa cowok dua kali
lebih banyak mengungkapkan alasan kesepian
sebagai alasan untuk menikah dibanding cewek.
Masuk akal juga. Seberapa banyak pilihan kegiatan
seorang cowok yang tidak beristri ? kongkow-kongkow
dengan temannya ? jalan-jalan ke mall ? sewa video ?
Surfing ? olah raga? atau apapun, setelah beberapa
saat menjadi bosan sendirian. Tak heran jika kesepian
menjadi salah satu alasan cowok mencari istri.

10.TANGGUNGJAWAB
Banyak cowok menikah karena harus bertanggung
jawab apabila kejadian sang kekasih diketahui hamil,
dan pada masa sekarang ini banyak sekali kasus yang
seperti ini. Meskipun sang cowok masih kuliah tetapi ia
tetap akan menikahi cewek kekasihnya karena tidak
ingin membuat malu keluarganya lebih parah lagi.
Pernikahan yang seperti ini biasanya tidak langgeng
dan banyak rintangan karena cinta mereka
berdasarkan napsu belaka.

Lambatttt Bener Koneksi Di Jogja

Beberapa hari ini gue gak pergi ke mana2, karena perkuliahan udah dimulai. Meskipun aku cuma ambil beberapa mata kuliah aza.. Trus seperti biasa gue pergi ngenet… Ngenet di depan rumah lambaaaaaaaaaaaatt banget.. Gue dateng besoknya juga sama aza.. Yach udah dech.. Trus gue pergi ke kampus juga lambaaaaaaaaaattt amit… Disabar2in juga masih bikin kesel.. Apalagi gue barusan antri2 berjam2 untuk bayar kuliah.. Abis dari kampus, ke warnet2 langganan, waduhhh antrinya minta ampun banyaknya.. Akhirnya kuputuskan ke kos teman untuk nanya warnet, tapi disini baru cepat sebentar.. Udah koiiiit lagii.. KApookkk dah gue skr!!!

Soe Hok Gie II

Menanggapi soal Soe Hok Gie, yang aku liat filmnya.. Hmmm.. aku merasa kurang setuju akan sikapnya. Seperti ketika ia mengkritik tempat dia mengajar. Aku rasa dia memang kurang setuju akan sikap beberapa orang yang mengajar ataupun belajar disana, tetapi tidaklah hal itu perlu diangkat dalam sebuah koran. Sebab aku rasa itu masalah intern dalam suatu universitas. Lebih baik mengkritik yang bersangkutan secara dua mata dan pindah dari tempat dia mengajar jika memang merasa tidak ada kecocokan lagi, daripada terus bertahan tanpa dapat melakukan perubahan yang berarti dan hati terus menerus berontak melihat kenyataan-kenyataan yang ada.

Melihat kehidupan Soe Hok Gie, kita perlu bercermin akan diri sendiri. Kita seringkali tidak puas akan kenyataan-kenyataan yang ada dalam hidup kita. Yach.. dapat dibilang paling banyakkk 50-60% keinginan kita yang terjadi. Tapi, itulah dunia ini.. Dunia yang dipenuhi akan ketidak sempurnaan, memang bagus untuk melakukan kritik sekali-kali, tapi janganlah sampai kebahagiaan kita terengut akan keadaan-keadaan itu. Aku berpikir lebih baik menerima hal-hal yang ada dan mensyukurinya, daripada terus berpikir negatif, mencerca dan meratapinya. Cuma membuat diri kita menjadi sakit saja… :)

Soe Hok Gie

Soe Hok Gie (17 Desember 1942–18 Desember 1969) adalah salah seorang aktivis Indonesia dan mahasiswa Universitas Indonesia angkatan 60-an. Nama Soe Hok Gie adalah dialek Hokkian dari namanya Su Fu-yi dalam bahasa Mandarin (Hanzi: 蘇福&#32681.

Ia adalah seorang anak muda yang berpendirian yang teguh dalam memegang prinsipnya dan rajin mendokumentasikan perjalanan hidupnya dalam buku harian. Buku hariannya kemudian diterbitkan dengan judul Catatan Seorang Demonstran (1983).

Soe Hok Gie adalah adik kandung Arief Budiman atau Soe Hok Djin, dosen Universitas Satya Wacana yang juga dikenal vokal.

Hok Gie meninggal di gunung Semeru tahun 1969 tepat sehari setelah ulang tahunnya yang ke-27 akibat menghirup asap beracun di gunung tersebut.

Referensi oleh : Arif Budiman

Ada dua hal yang membuat saya sulit untuk menulis tentang almarhum adik saya,
Soe Hok Gie. Pertama, karena terlalu banyak yang mau saya katakan, sehingga saya
pasti akan merasa kecewa kalau saya menulis tentang dia pada pengantar buku ini.
Kedua, karena bagaimanapun juga, saya tidak akan dapat menceritakan tentang diri
adik saya secara obyektif. Saya terlalu terlibat di dalam hidupnya.
Karena itu, untuk pengantar buku ini, saya hanya ingin menceritakan suatu
peristiwa yang berhubungan dengan diri almarhum, yang mempengaruhi pula hidup
saya dan saya harap, hidup orang-orang lain juga yang membaca buku ini.

Saya ingat, sebelum dia meninggal pada bulan Desember 1969, ada satu hal yang
pernah dia bicarakan dengan saya. Dia berkata, “Akhir-akhir ini saya selalu
berpikir, apa gunanya semua yang saya lakukan ini. Saya menulis, melakukan
kritik kepada banyak orang yang saya anggap tidak benar dan yang sejenisnya
lagi. Makin lama, makin banyak musuh saya dan makin sedikit orang yang mengerti
saya. Dan kritik-kritik saya tidsak mengubah keadaan. Jadi apa sebenarnya yang
saya lakukan? Saya ingin menolong rakyat kecil yang tertindas, tapi kalau
keadaan tidak berubah, apa gunanya kritik-kritik saya? Apa ini bukan semacam
onani yang konyol? Kadang-kadang saya merasa sungguh-sungguh kesepian”.

Saya tahu, mengapa dia berkata begitu. Dia menulis kritik-kritik yang keras di
koran-koran, bahkan kadang-kadang dengan menyebut nama. Dia pernah mendapat
surat-surat kaleng yang antara lain memaki-maki dia sebagai “Cina yang tidak
tahu diri, sebaiknya pulang ke negerimu saja”. Ibu saya sering gelisah dan
berkata: ” Gie, untuk apa semuanya ini. Kamu hanya mencari musuh saja, tidak
mendapat uang”. Terhadap ibu dia Cuma tersenyum dan berkata “Ah, mama tidak
mengerti”.

Kemudian, dia juga jatuh cinta dengan seorang gadis. Tapi orangtuanya tidak
setuju - mereka selalu dihalangi untuk bertemu. Orangtua gadis itu adalah
seorang pedagang yang cukup kaya dan Hok Gie sudah beberapa kali bicara dengan
dia. Kepada saya, Hok Gie berkata: “Kadang-kadang, saya merasa sedih. Kalau saya
bicara dengan ayahnya si., saya merasa dia sangat menghargai saya. Bahkan dia
mengagumi keberanian saya tanpa tulisan-tulisan saya. Tetapi kalau anaknya
diminta, dia pasti akan menolak. Terlalu besar risikonya. Orang hanya
membutuhkan keberanian saya tanpa mau terlibat dengan diri saya”. Karena itu,
ketika seorang temannya dari Amerika menulis kepadanya: “Gie seorang intelektual
yang bebas adalah seorang pejuang yang sendirian, Selalu. Mula-mula, kau
membantu menggulingkan suatu kekuasaan yang korup untuk menegakkan kekuasaan
lain yang lebih bersih. Tapi sesudah kekuasaan baru ini berkuasa, orang seperti
kau akan terasing lagi dan akan terlempar keluar dari sistem kekuasaan. Ini akan
terjadi terus-menerus. Bersedialah menerima nasib ini, kalau kau mau bertahan
sebagai seorang intelektual yang merdeka: sendirian, kesepian, penderitaan”.
Surat ini dia tunjukkan kepada saya. Dari wajahnya saya lihat dia seakan mau
berkata: Ya, saya siap.

Dalam suasana yang seperti inilah dia meninggalkan Jakarta untuk pergi ke puncak
gunung Semeru. Pekerjaan terakhir yang dia kerjakan adalah mengirim bedak dan
pupur untuk wakil-wakil mahasiswa yang duduk di parlemen, dengan ucapan supaya
mereka bisa berdandan dan dengan begitu akan tambah cantik di muka penguasa.
Suatu tindakan yang membuat dia tambah terpencil lagi, kali ini dengan beberapa
teman-teman mahasiswa yang dulu sama-sama turun ke jalanan pada tahun 1966.

Ketika dia tercekik oleh gas beracun kawah Mahameru, dia memang ada di suatu
tempat yang terpencil dan dingin. Hanya seorang yang mendampinginya, salah
seorang sahabatnya yang sangat karib. Herman lantang.
Suasana ini juga yang ada, ketika saya berdiri menghadapi jenazahnya di tengah
malam yang dingin, di rumah lurah sebuah desa di kaki Gunung Semeru. Jenazah
tersebut dibungkus oleh plastik dan kedua ujungnya diikat dengan tali,
digantungkan pada sebatang kayu yang panjang, Kulitnya tampak kuning pucat,
matanya terpejam dan dia tampak tenang. Saya berpikir: “Tentunya sepi dan dingin
terbungkus dalam plastik itu”.
Ketika jenazah dimandikan di rumah sakit Malang, pertanyaan yang muncul di dalam
diri saya alah apakah hidupnya sia-sia saja? Jawabannya saya dapatkan sebelum
saya tiba kembali di Jakarta.

Saya sedang duduk ketika seorang teman yang memesan peti mati pulang. Dia tanya,
apakah saya punya keluarga di Malang? Saya jawab “Tidak. Mengapa?” Dia cerita,
tukang peti mati, ketika dia ke sana bertanya, untuk siapa peti mati ini? Teman
saya menyebut nama Soe Hok Gie dan si tukang peti mati tampak agak terkejut.
“Soe Hok Gie yang suka menulis di koran? Dia bertanya. Teman saya mengiyakan.
Tiba-tiba, si tukang peti mati menangis. Sekarang giliran teman saya yang
terkejut. Dia berusaha bertanya, mengapa si tukang peti mati menangis, tapi yang
ditanya terus menangis dan hanya menjawab ” Dia orang berani. Sayang dia
meninggal”.

Jenazah dibawa pleh pesawat terbang AURI, dari Malang mampir Yogya dan kemudian
ke Jakarta. Ketika di Yogya, kami turun dari pesawat dan duduk-duduk di lapangan
rumput. Pilot yang mengemudikan pesawat tersebut duduk bersama kami. Kami
bercakap-cakap. Kemudian bertanya, apakah benar jenazah yang dibawa adalah
jenazah Soe Hok Gie. Saya membenarkan. Dia kemudian berkata: “Saya kenal
namanya. Saya senang membaca karangan-karangannya. Sayang sekali dia meninggal.
Dia mungkin bisa berbuat lebih banyak, kalau dia hidup terus”. Saya memandang ke
arah cakrawala yang membatasi lapangan terbang ini dan hayalan sayamencoba
menembus ruang hampa yang ada di balik awan sana. Apakah suara yang perlahan
dari penerbang AURI ini bergema juga di ruang hampa tersebut?

Saya tahu, di mana Soe Hok Gie menulis karangan-karangannya. Di rumah di Jalan
Kebon jeruk, di kamar belakang, ada sebuah meja panjang. Penerangan listrik
suram, karena voltase yang selalu turun akalau malam hari. Di sana juga banyak
nyamuk. Ketika orang-orang lain sudah tidur, seringkali masih terdengar suara
mesin tik dari kamar belakang Soe Hok Gie, di kamar yang suram dan banyak nyamuk
itu, sendirian, sedang mengetik membuat karangannya. Pernahkan dia membayangkan
bahwa karangan tersebut akan dibaca oleh seorang penerbang AURI atau oleh
seorang tukang peti mati di Malang?
Tiba-tiba, saya melihat sebuah gambaran yang menimbulkan pelbagai macam perasaan
di dalam diri saya. Ketidakadilan bisa merajalela, tapi bagi seorang yang secara
jujur dan berani berusaha melawan semua ini, dia akan mendapat dukungan tanpa
suara dari banyak orang. Mereka memang tidak berani membuka mulutnya, karena
kekuasaan membungkamkannya. Tapi kekuasaan tidak bisa menghilangkan dukungan
dukungan itu sendiri, karena betapa kuat pun kekuasaan, seseorang tetap masih
memiliki kemerdekaan untuk berkata “Ya” atau “Tidak”, meskipun Cuma di dalam
hatinya.

Saya terbangun dari lamunan saya ketika saya dipanggil naik pesawat terbang.
Kami segera akan berangkat lagi. Saya berdiri kembali di samping peti matinya.
Di dalam hati saya berbisik “Gie, kamu tidak sendirian”. Saya tak tahu apakah
Hok Gie mendengar atau tidak apa yang saya katakan itu.
Suara pesawat terbang mengaum terlalu keras.

Arief Budiman (Soe Hok Djin)
(seperti dimuat dalam buku Catatan Seorang Demonstran edisi 1993)