Sosialisasi Kurikulum
Hari yang kupikir akan sangat capek dan menyesakkan hati kupikir akan segera tiba. Aku pun tidak mengerti apa yang akan terjadi pada hari itu. Hari-hari yang kulalui membuatku semakin capek berharap dan capek untuk melihat. Karena aku merasa bahwa perjuanganku yang melelahkan itu tak ada gunanya lagi. Perjuangan selama 4 tahun lebih yang sudah kulalui terasa tak ada lagi, karena adanya perubahan kurikulum itu.
Rasa pusing yang sangat mendera membuat tak mampu bernapas dan menjadi mimpi burukku itu membuat semakin lemah rasanya. tapi tak ingin aku menyerah. Tak ada yang dapat kulakukann setelah kepusingan dan merasa sebagai seonggok daging yang tak berharga di tengah keadaan yang tak terkendali. Hanya doa yang kupanjatkan kepada-Nya, yang lebih tau dan lebih mampu untuk mengerti makhluk-makhlukNya. Setelah kepasrahan itu pun aku menjadi lebih tenang dan tenang, sebab aku tahu kalo yang terbaik itu yang akan terjadi.
Aku sungguh mengira klimaks itu akan terjadi hari ini, tapi ternyata klimaks itu sudah lama berlalu. Beberapa hari yang lalu klimaks itu terjadi di sana. Di sana dibicarakan tentang nasib kami… yang ternyata… ternyata.. ternyata.. tidak seburuk yang kukira. Hari ini yang kurasa hanyalah hampa, hampa sahaja… Hanya pengumuman yang ternyata sudah disepakati sebelumnya. Meskipun hal-hal itu melegakan buat sebagian kami (ach tentu saja lah.. sapa sich yang bisa nyenengin semua orang.. mustahal itu… ), namun aku merasa agak sedikit kecewa.. Karena rasanya aku dan teman-teman angkatanku tidak diberikan suatu kesempatan untuk berperan serta dalam pembuatan atau pengubahan kurikulum itu…