Archive for April, 2006


Yudas Iskariot

Orang banyak mengenalnya. Paling tidak, pernah mendengar namanya. Bahkan sepanjang sejarah orang mengingatnya dan……. mengutuknya! Ya, siapa yang tidak tahu Yudas Iskariot, sang pengkhianat Tuhan Yesus. Namanya pun sudah identik dengan pengkhianatan. Entah berapa banyak versi drama tentang dirinya yang telah ditulis dan dipertunjukkan pada setiap masa raya Paskah.

Tetapi tahukah Anda kenapa Yudas sampai mengkhianati Tuhan Yesus, Gurunya sendiri? Pasti bukan karena uang. Sebab kalau karena uang, kenapa setelah mendapatkan uang itu ia malah membuangnya? Pula, kenapa hanya 30 uang perak? Sungguh sebuah harga yang kecil. Kalau mau, Yudas bisa mendapatkan uang lebih banyak lagi. Para pemimpin agama Yahudi ketika itu tentunya akan mau membayar berapa pun yang Yudas minta untuk menyerahkan Tuhan Yesus.

Juga pasti bukan karena Yudas membenci Tuhan Yesus. Buktinya setelah ia berhasil mencelakakan Tuhan Yesus, sebaliknya dari senang Yudas malah sedih dan menyesal. Begitu menyesalnya, sampai-sampai ia gantung diri.
Lalu Karena Apa?

Ini pertanyaan yang sulit dijawab. Lebih-lebih karena Yudas sudah terlanjur dicap buruk. Sehingga seakan-akan tidak ada kebaikan sedikit pun dalam dirinya. Orang hanya tahu Yudas itu pengkhianat. Titik. Tetapi jarang mencoba mencari tahu, kenapa Yudas sampai tega berbuat begitu.

Mari kita rekonstruksi keadaan pada masa itu.

*

Pada waktu itu bangsa Yahudi sedang dijajah oleh bangsa Romawi. Orang Yahudi memiliki pengharapan mesianis; pengharapan akan datangnya Mesias, Sang Pembebas, yang akan menjadi pemimpin nasional dan mengembalikan kejayaan mereka seperti pada masa Raja Daud. Pengharapan itu sudah muncul jauh sejak zaman pembuangan di Babel ratusan tahun yang lalu.

Di pihak lain, Tuhan Yesus adalah tokoh yang sangat populer. Dia adalah tokoh dengan kharisma sangat besar. Kata-katanya penuh kuasa. Dia begitu populer sehingga dapat menghimpun orang dalam jumlah besar. Dia juga bisa membuat banyak mujizat yang luar biasa.

Sebagai salah seorang yang dekat dengan-Nya, Yudas tentunya menyadari potensi ini. Bahkan sejak awal tampaknya Yudas sudah tahu, bahwa Tuhan Yesus bukan tokoh sembarang tokoh. Bisa jadi karena itu juga ia mau mengikuti-Nya dan menjadi murid-Nya.

Tetapi kemudian rupa-rupanya Yudas jadi kecewa. Sang Guru bukannya segera menghimpun kekuatan massa untuk mengusir penjajah Romawi, Dia malah mengajarkan tentang mengasihi musuh dan memberkati orang yang menganiaya. Sang Guru bukannya aktif dalam pergerakan revolusi, Dia malah sibuk mengurusi orang-orang miskin dan terbuang.

Padahal seperti orang-orang Yahudi lainnya, Yudas juga sangat mencintai bangsanya. Ia ingin agar bangsanya terbebas dari cengkraman penjajah Romawi. Ia rindu melihat bangsanya berkembang menjadi bangsa yang besar, seperti pada zaman Raja Daud dulu.

Tampaknya Yudas lantas berpikir begini: Mungkin Sang Guru harus dipaksa untuk menunjukkan kekuasaan-Nya. Sang Guru harus diperhadapkan pada situasi dan kondisi dimana Dia tidak dapat mengelak untuk betindak. Kalau sampai itu terjadi, Yudas sangat yakin orang banyak akan berada di belakang-Nya. Tuhan Yesus hanya tinggal memerintahkan. Dan revolusi akan pecah.

Maka dibuatlah skenario “ciuman maut” di Taman Getsemani. Dan terjadilah tragedi itu. Tragedi yang membuatnya begitu merana dan menyesal, sampai-sampai ia mengambil jalan pintas gantung diri.

Yudas tidak pernah berpikir akhirnya akan seperti itu. Ia sama sekali tidak menduga, Tuhan Yesus akan membiarkan diri-Nya ditangkap tanpa perlawanan. Ia telah salah perhitungan, ternyata ambisinya malah mengundang tragedi. Tetapi apalah artinya sesal, nasi sudah menjadi bubur.

*

Jadi sebetulnya, dalam hati Yudas tidak sedikit pun terbersit keinginan untuk mencelakakan Tuhan Yesus. Seperti para murid yang lain, ia sangat mengagumi dan hormat terhadap Gurunya itu. Yudas hanya salah langkah, telah memaksakan keinginan dan caranya sendiri untuk Tuhan Yesus lakukan. Itu saja. Sejarah telah mencatat, betapa keinginan dan ambisi pribadi yang dipaksakan terhadap orang lain kerap mengundang tragedi. Kisah Yudas hanya salah satu contoh.

Kisah Yudas juga membuktikan, bahwa cinta tidaklah bisa diwujudkan dengan menghalalkan segala cara. Pun cinta kepada bangsa dan negara. Cinta terhadap apa pun dan diapa pun tetaplah harus didasarkan pada koridor kebenaran yang berlaku. Cinta tanpa kebenaran adalah cinta yang membabi buta. Cinta yang membabi buta hanya akan menciptakan bencana.

**Dari Buku: Bersyukur Itu Indah - Ayub Yahya

7 Role to Being Happy — by Ayub Yahya

SMS (Short Messagge Service) sekarang ini sedang jadi trend. Selain praktis dan murah, SMS juga mengasyikkan. Maka, jangan heran kalau di rumah, di kantor, di kendaraan umum, di WC, di kampus, atau di mana saja, orang asyik ber-SMS ria. Mereka asyik memencet tombol-tombol huruf pada hand phonenya; bisa sambil duduk, sambil tiduran, sambil makan, sambil jalan kaki, atau bahkan sambil nyetir mobil.

Apalagi hand phone juga sudah bukan merupakan barang mewah lagi, seperti pertama kali kemunculannya. Hampir semua kalangan – dari ABG (anak baru gede) sampai profesor; dari penjual bakmie jawa di pinggir jalan sampai tros eksekutif hotel berbintang lima – membawa hand phone.

Setiap hari entah berapa puluh atau ratus juta SMS tersebar dari satu hand phone ke hand phone lain. Entah untuk urusan bisnis, entah sekadar just to say hello antar teman; dengan mengirim cerita humor, gambar-gambar lucu, atau juga pepatah-pepatah yang bagus untuk direnungkan.

Seperti tempo hari, dari seorang teman saya menerima SMS ini: 7 role 2 be happy: 1. Never hate 2. Don’t worry 3. Live simple 4. Expect the little 5. Give a lot 6. Always smile 7. Have a good friend like me :)
Bahagia? Siapa sih yang tidak mendambakannya?! Semua orang ingin bahagia. Semua orang, sadar atau tidak sadar, melakukan ini dan itu – bekerja, berkeluarga, menabung, studi, masuk sebuah club member, atau apa saja – pada dasarnya adalah demi meraih kebahagiaan.

Namun ada anggapan yang keliru tentang kebahagiaan. Yaitu anggapan, bahwa kebahagiaan terletak di luar diri kita; pada apa-apa yang bisa kita miliki – kekayaan, jabatan, pengaruh, popularitas. Padahal semua hal itu sebetulnya seperti air laut, semakin kita meminumnya semakin kita merasa haus; kita akan selalu merasa kurang.

Kebahagiaan sesungguhnya terletak di dalam diri kita; dalam pikiran dan sanubari kita. Pikiran yang diisi dengan kebaikan, bersih dari niat dan keinginan jahat. Sanubari yang dipenuhi oleh cinta, bebas dari perasaan dan prasangka buruk.

Maka, betul sekali pesan SMS tadi, kita tidak akan jauh dari kebahagiaan kalau kita tidak menyimpan kebencian, tidak membiarkan diri dikuasai kekuatiran, hidup sederhana (tidak neko-neko orang Jawa bilang), tidak berharap terlalu banyak terhadap sesuatu atau
seseorang, memiliki semangat memberi yang besar, banyak tersenyum, dan terakhir, ini yang menarik bagi saya, “punya teman seperti diriku”.

Siapa “diriku”? Bisa Anda, bisa saya. Bisa jadi yang terakhir ini hanya gurauan tambahan dari si pengirim SMS. Karenanya ada tambahan tanda :).Tetapi menurut saya, di situ terkandung kebenaran juga. Betapa baiknya kalau kita bisa menjadi teman bagi seseorang, yang karenanya kemudian ia berbahagia. Bagi kita sendiri itu bisa merupakan kebahagiaan tersendiri.

Betul, sebab sungguh sangat membahagiakan, apabila sikap dan tindakan kita dapat membahagiakan orang-orang di sekitar kita. Sungguh sangat membahagiakan, apabila karena karya dan pemberian kita, anak-anak jalanan di lorong-lorong kumuh, opa-oma di panti jompo, atau siapa saja yang kita temui, tersenyum bahagia.

Kebahagiaan yang kita tebar, seumpama pedang bermata dua; mengenai yang
menerima, mengenai pula kita yang memberi. Kuncinya cuma satu: cinta. Sebab kebahagiaan memang tidak pernah jauh dari cinta; cinta kepada sesama, cinta kepada Tuhan. Dan itu, sekali lagi, terletak dalam pikiran dan sanubari kita.

Maka, ketika Kristus, Sang Guru Agung, berkata, “Cintailah Tuhan Allahmu dengan segenap hatimu, segenap jiwamu, dan segenap akal budimu; dan cintailah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.”, sebetulnya itu demi kebahagiaan kita juga. Sungguh. Tidak percaya?
Buktikanlah!

SEKILAS MENGENAI PENULIS

Ayub Yahya: Saya lahir dan besar, sampai menyelesaikan STM di Bandung. Melanjutkan kuliah di Yogyakarta, di Fakultas Teologi Duta Wacana. Sekarang tinggal di Jakarta. Pertama kali menulis, membuat cerita pendek untuk Majalah Kawanku, kelas tiga SMP. Setelah agak lama vakum, beberapa tahun belakangan ini, saya intensif (lagi) menulis. Dulu saya menulis sekadar mengikuti keinginan hati – kalau pun pernah ada motivasi lain; butuh uang untuk menambah biaya hidup waktu kuliah – mangkanya saya bisa seharian menulis tanpa henti, bisa juga berbulan-bulan tidak menulis. Bahkan pernah sampai sekitar enam tahun tidak menulis apa-apa. Waktu SD saya bercita-cita jadi insinyur. Ketika remaja berubah ingin menjadi wartawan perang. Keduanya tidak tercapai. Sekarang cita-cita saya sederhana: menjadi orang yang berguna buat orang lain. Minimal buat keluarga. Beberapa tulisan saya – cerita pendek, artikel dan renungan – pernah dimuat di Kawanku, Sinar Pagi, Pikiran Rakyat, Suara Pembaruan, Kairos, dan Narwastu. Sampai sekarang, sudah menulis lebih dari 20 buku. Antara lain, Ngejomblo Itu Nikmat, Bila Cinta Menyapa, dan Pacaran Ada Sebalnya

Nice Girls Don’t Get the Corner Office

Kini, dengan nasihat blak-blakan serta informasi berdayaguna yang menjadikan Nice Girls Don’t Get the Corner Office buku terlaris di Amerika, Lois Frankel membahas 75 kesalahan finansial yang menghalangi perempuan memiliki kekayaan yang patut mereka dapatkan. Ia mengidentifikasi pesan - pesan tentang uang yang diterima gadis kecil tetapi tidak pernah didengar oleh anak laki - laki. Selanjutnya, ia menolong Anda menemukan pemikiran-pemikiran finansial yang membuat Anda terpaku pada pola-pola lama, hubungan yang tidak mandiri, dan pekerjaan yang memberikan imbalan lebih sedikit daripada yang patut Anda terima.

Begitu Anda menemukan akar permasalahan, Frankel membantu Anda memecahkannya-dengan hasil yang luar biasa. Kiat-kiat bimbingannya membantu Anda mengendalikan keuangan serta menghasilkan uang lebih banyak daripada yang menurut Anda bayangkan. Apakah Anda juga membuat kesalahan-kesalahan “gadis manis” berikut?

Kesalahan # 4: Tidak Bermain untuk Menang. Bersikap sopan, tenang, dan adil terhadap kesalahan berarti Anda memainkan permainan uang “seperti seorang gadis kecil”.

Kesalahan # 10: Memilih untuk Tetap Buta Finansial. Pengetahuan adalah kekuatan. Belajarlah mengelola pembelian, investasi, dan masalah perbankan besar Anda.

Kesalahan # 20: Membelanjakan Uang untuk Melipur Lara. Pahamilah emosi Anda; jangan berbelanja hanya untuk meningkatkan semangat.

Kesalahan # 45: Menabung, Bukan Berinvestasi. Rasa takut bisa membuat dana Anda tetap memiliki bunga rendah. Carilah pengetahuan tentang investasi. Jadilah kaya.

Bagi sebagian perempuan, mengelola uang (bukan membelanjakan uang) adalah hal baru. Buku ini berisi kiat-kiat yang tepat guna untuk mengelola uang dengan baik.

***

“Akhirnya, ada pandangan baru mengenai cara perempuan berpikir tentang uang. Buku ini juga tentang waktu. Lois berurusan dengan alasan nyata kenapa perempuan memiliki begitu banyak kesulitan dengan keuangan mereka.”
Barbara Stanny
Gcqo3237