Savin vs Ahab
Bertahun-tahun yang lalu, seorang yang hidup mengasingkan diri – dan kemudian dikenal sebagai St. Savin – tinggal di gua di dekat Viscos. Ketika itu Viscos tak lebih daripada desa kecil di perbatasan dan didiami oleh para penjahat yang melarikan diri dari hukum, perampok dan pelacur, penipu kelas kakap yang mencari pengikut, bahkan pembunuh yang sedang beristirahat sebelum mulai membunuh lagi. Ahab, yang paling jahat di antara mereka semua menguasai seluruh desa dan wilayah sekitarnya. Terhadap para petani yang bersikeras hidup secara terhormat, Ahab mengenakan pajak yang sangat tinggi.
Pada suatu hari Savin meninggalkan guanya, tiba di rumah Ahab, dan memohon agar diperbolehkan menginap. Ahab tertawa, katanya, ‘Kau tahu, bukan, aku ini pembunuh yang telah sering menggorok leher orang, dan nyawamu sama sekali tidak berharga bagiku?’ ‘Ya, aku tahu,’ sahut Savin, ‘tapi aku bosan hidup di gua dan aku ingin menginap barang semalam di sini bersamamu.’ Ahab tahu reputasi Savin tak kalah dengan reputasinya sendiri, dan ini membuatnya gelisah. Dia tidak suka dirinya disejajarkan dengan orang selemah itu. Ahab bertekad membunuh Savin malam itu juga, dan membuktikan pada semua orang bahwa dialah penguasa sesungguhnya desa itu. Mereka bercakap-cakap sebentar. Ahab bertekad menantang orang kudus itu, dan karenanya dia bertanya pada St. Savin. ‘Jika malam ini pelacur tercantik di desa ini datang kemari, apakah kau akan sanggup memandangnya dan menganggapnya tidak cantik dan tidak menggoda?’ ‘Tidak, tapi aku akan bisa mengendalikan diriku,’ sahut si orang kudus. ‘Dan jika aku menawarimu setumpuk kepingan uang emas agar kau meninggalkan guamu dan bergabung dengan kami, sanggupkah kau memandang emas itu dan menganggapnya batu kerikil?’ ‘Tidak, tapi aku akan bisa mengendalikan diriku.’ ‘Dan jika kau dicari-cari oleh dua bersaudara, yang satu membencimu dan yang lain menganggapmu suci, sanggupkah kau memiliki perasaan yang sama terhadap keduanya?’ ‘Itu benar-benar sulit, tapi aku akan bisa mengendalikan diriku sendiri dan memperlakukan mereka dengan sama.’ Ahab terkesan mendengar perkataan Savin, tapi dia tidak percaya Baik itu ada. Setelah menunjukkan dimana Savin bisa tidur, dia meneruskan mengasah pisaunya. Setelah memperhatikan Ahab sejenak, Savin memejamkan mata dan tidur. Ahab mengasah pisaunya sepanjang malam.
Saat terbangun keesokan paginya, Savin menemukan Ahab menangis di sisinya. ‘Kau tidak takut padaku dan kau tidak menghakimiku. Untuk pertama kali dalam hidupku, seseorang tidur di sisiku dan percaya aku bisa menjadi orang baik, orang yang bersedia menawarkan keramahtamahan kepada orang yang membutuhkannya. Karena kau percaya aku bisa bersikap baik, aku pun bersikap seperti itu.’ Sejak itu Ahab meninggalkan kehidupannya sebagai penjahat dan menjadi Katolik. Viscos tak lagi hanya desa perbatasan yang dihuni sampah masyarakat, melainkan pusat perdagangan penting di perbatasan antara dua Negara. ~ from The Devil and Miss Prym
————————————-
Kita mempunyai Ahab dan Savin kita sendiri. Di dalam jiwa kita, tidak ada yang benar-benar hitam dan benar-benar putih. Yang ada hanyalah manusia abu-abu dengan segala gradasinya. Tapi kita sering tidak menyadarinya. Biasanya sebagian besar dari kita meyakini atau berusaha meyakinkan diri bahwa kita ada di kolom putih, sehingga cenderung segan untuk turun kasta ke kolom hitam (itu jika dua kolom tadi benar-benar ada). Jiwa kita dipenuhi yang jahat dan juga yang baik. Setiap hari berangkat bersama-sama, melihat ke diri orang lain dan dengan cepat langsung menjatuhkan penilaian; tanpa sadar bahwa sesungguhnya yang kita lihat bukanlah orang lain melainkan pantulan diri kita sendiri. Cacat yang paling berbahaya adalah keyakinan bahwa diri kita lebih baik daripada orang lain. Beri kesempatan untuk berubah, maka ia akan berubah. Dan kita juga. —————————————- Ketika Ahab menyadari Savin tidak berbeda dengan dirinya, dia pun menyadari dirinya tidak berbeda dengan Savin. Semuanya hanya masalah pengendalian diri. Dan pilihan. Tidak kurang. Tidak lebih. ~ from The Devil and Miss Prym