Musuh & Kritik ?
Musuh bebuyutan. Kata-kata pasti tidak asing lagi indera pendengaran kita. Siapa sih yang pertama kali menciptakan kata-kata tersebut ? Dari mana sih asal muasal kata tersebut ? Pembahasan panjang tentang kata tersebut tidaknya membuahkan hasil yang memuaskan. Tidak dapat
meningkatkan kebijaksanaan kita.
Setiap orang – tanpa terkecuali pasti
mempunyai musuh, sebut saja Sang
Buddha, Mahatma Gandhi, Abraham
Lincoln, Yesus, Muhammad, semua
memiliki lawan dan musuh. Bahkan orang
yang bekerja demi kesejahteraan saja
masih memiliki musuh.
Kita sudah ada di zaman yang konon
katanya Demokrasi, bebas mengeluarkan
pendapat. Diam juga dicela, bicara
banyak atau sedikit juga pasti dicela.
Makanya tidak ada orang di dunia ini
yang tidak dicela. Lalu bagaimana kita
menghadapi celaan-celaan, cacian maki,
dkk. Mari kita cermati secara
sistematis.
Bagaimana hidup, pengalaman, keadaan
seseorang terbentuk dari cari berpikir
dan kepercayaan orang tersebut. Kita
mungkin sudah familiar dengan kalimat
Pikiran adalah pemimpin, segalanya
diciptakan oleh pikirin. Dengan
pikiran yang jernih bersih maka ucapan
dan perbuatan melalui jasmani juga
akan bersih. Dalam istilah
kerenya “Positif Thinking”.
Setiap orang adalah cermin dari citra
mentalnya, apabila kita tidak sadar
maka kita akan menjadi korban keadaan,
apabila kita sadar maka kita dapat
membebaskan diri dari racun niat
jahat. Kejelakan yang dilihat dari
orang lain adalah cermin dari
kejelekan diri kita sendiri
Dari PIKIRAN munculah UCAPAAN
dan/atau TINDAKAN, hal ini terus
terjadi berulang – ulang terakumulasi
menjadi KEBIASAAN(HABBIT), seiring
berjalannya waktu terkumpullah menjadi
suatu KARAKTER yang mempengaruhi
BELIVInG SYSTEM seseorang,
mempengaruhi PENGAMBILAN KEPUTUSAN
SESEORANG, mempengaruhi INTERAKSI
seseorang baik dengan dirinya maupun
masyarakat.
Analogi sedehana yang dapat kita lihat
dalam kehidupan sehari – hari antara
lain, tetesan air yang menetes di atas
sebuah batu besar lama-lama dapat
melobangi batu tersebut. Begitu
hebatkah Habbit itu. ?
Oleh sebab itu sebelum kita
menghadapi celaan mari kita siapkan
diri kita terlebih dahulu.
Ada sebuah
syair yang cukup menarik bagi saya,
Kulihat saudaraku
dengan mikroskop kritik
Dan kubilang “Sungguh
jahat saudaraku ini”
Kulihat lagi ia dengan
teleskop kehinaan
Dan Kubilang “Alangkah
kecilnya ia”
Kemudian kupandang
cermin kebenaran
Dan kubilang “Betapa
miripnya ia denganku”
Intisari dari bait tersebut di atas
adalah sungguh sangat mudah untuk
dapat melihat kesalahan – kesalahan
orang lain. Orang menampi kesalahan
orang lain seperti dedak, tapi
menutupi kekurangan atau kesalahannya
bagaikan penjudi licik yang
menyembunyikan kartunya.
Jangan terlalu gampang
menempelkan sticker “MUSUH” terhadap
orang – orang yang berbeda pendapat
dengan kita, menempelkan
sticker “MUSUH” terhadap orang – orang
yang memberikan kritik kepada kita.
Ketika kita di kritik, mari
kita cermati kritikan tersebut apakah
konstruktif atau destruktif. Kalau
kritikan itu membangun maka terima lah
dan jadikan sebagai pengalaman hidup.
Kalau tidak ya….so what gitu
lohhhhh.
Kalau kita benar berpegang
teguhlah pada prinsip kebenaran, kalau
kita salah, tidak akan terhina jika
kita menyadari kesalahan dan meminta
maaf.
Hindari menghapi kritikan
dalam bentuk apapun dengan kekerasan,
dengan kemarahan, dengan emosi. Ini
malah akan menurunkan VALUE kita
sebagai seorang yang sedang
bermetamorfosis menjadi orang yang
Bijak. Kendalikan pikiran kita,
kendalikan perasaan kita. Seorang
Jenderal Tangguh akan mudah
memenangkan seribu kemenangan dalam
seribu peperangan, namun Seseorang
yang mampu menaklukan diri sendiri
adalah The Noble Conqueror.