Mengapa Tuhan Mengijinkan Kita Kecewa?
Saya menemukan banyak orang kristen yang mundur sebab mereka mengalami
kekecewaan dalam hidup mereka. Mereka kecewa terhadap saudara seiman,
pemimpin rohani bahkan kecewa kepada Tuhan. Kekecewaan merupakan hal
yang wajar dalam kehidupan ini, malah sebenarnya kekecewaan itu
dibutuhkan bagi pertumbuhan rohani kita. Kasih yang terbesar tumbuh
dalam tanah kekecewaan yang tak tertahankan terhadap kehidupan ini.
Setiap kali kita merasa kecewa terhadap sesuatu sebenarnya kita telah
menggantungkan kebahagiaan kita kepada hal yang mengecewakan kita. Jika
kita tidak meletakkan kebahagiaan pada seseorang maka kita tidak akan
bisa kecewa dengan orang itu. Seorang suami/isteri kecewa dengan
pasangannya sebab dia menggantunggkan kebahagiaannya pada pasangannya
tersebut. Tatkala kita menggantungkan kebahagiaan kita pada seseorang
maka kita menuntut orang itu melakukan sesuatu agar dapat membahagiakan
kita, dan bila orang tersebut tidak melakukannya maka kita menjadi
kecewa. Sebenarnya kekecewaan hanya menunjukkan bahwa masih ada berhala
dalam hidup kita yang perlu dirubuhkan. Orang yang masih bisa merasa
kecewa sebenarnya masih hidup dalam sebuah ilusi. Yesus tidak merasa
kecewa meskipun para muridNya meninggalkan-Nya saat Dia sedang
menderita di atas kayu salib sebab Yesus hidup dalam realita. Bahkan
Yesus tidak kecewa terhadap Petrus yang menyangkal-Nya tiga kali, malah
sebaliknya Ia yang mencari Petrus dan mengajaknya untuk kembali
mengikuti-Nya.
Dalam menjalani
proses pendewasaan menjadi serupa karakter Kristus, kita tidak bisa
menghindar dari kekecewaan. Kekecewaan pasti akan terjadi sebab akibat
natur dosa yang kita bawa menyebabkan kita cenderung meletakkan
kebahagiaan kita di luar Tuhan. Respon kita menghadapi kekecewaan
sangat penting sebab hal itu akan menentukan apakah kita akan naik atau
turun. Milikilah sikap yang positif dan bersyukur saat menghadapi
kekecewaan sebab hal itu pasti akan menyebabkan kita menjadi naik.
Rajawali tidak takut dengan badai tetapi ia justru terbang semakin
tinggi saat badai datang. Orang kristen yang memiliki iman sejati akan
semakin kuat saat badai kehidupan datang menerpanya.
Satu hari Tuhan mengijinkan saya kehilangan seseorang yang sangat saya
kasihi sehingga saya sangat kecewa dan hati saya serasa mau mati.
Malamnya saya bermimpi melihat sebuah makam dengan batu nisan yang
bertuliskan nama saya. Lewat mimpi tersebut Tuhan hendak berbicara
bahwa Ia mengijinkan hal itu untuk mematikan keakuan saya. Proses
pengosongan memang sangat menyakitkan tetapi tanpa pengosongan tidak
akan ada pengisian. Kita harus semakin kecil dan Kristus harus semakin
besar. Namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup,
melainkan Kristus yang hidup di dalam aku (Gal 2:20a). Mengatakan atau
menghafalkan ayat ini tidak sukar tetapi untuk mengalaminya sangat
sukar. Biarlah kita semua boleh mengalami Kristus hidup di dalam diri
kita!