Why does love hurt?
Pertanyaan ketiga ternyata membutuhkan waktu berbulan-bulan untuk ditulis, sejak saya menulis tentang pertanyaan kedua. Inilah pertanyaan ketiga yang ditanyakan oleh para siswa SMU yang disurvey tersebut. “Why does love hurt?”
Dengan penuh hormat dan tanpa prasangka buruk, bolehkah saya menduga bahwa cinta yang menyakitkan bagi kebanyakan remaja belasan tahun itu adalah kisah cinta remaja-remaji. Ketika mata mereka bertaut pada seorang gadis manis, juara kelas, primadona sekolah, anggota cheerleaders, senyumnya menawan (atau pada seorang pemuda tampan, juara kelas, pemain basket, body six-pack, anggota band yang terkenal, dll) – maka bergejolaklah suatu perasaan aneh yang membuat semua manusia bingung. Perasaan itu namanya ‘jatuh cinta’ atau ‘fall in love’. Lalu dengan semangat ’45 berjuanglah kita untuk mendapatkan dia yang kita cintai. Dan ketika cinta kita ditolak, maka berakhirlah kisah cinta kita dalam tragedi “cinta yang pahit”. Episode berakhir dengan memilukan dan dengan kesimpulan: “Cinta itu Menyakitkan”.
Yang menarik. Pernah ngga kita berpikir? Apakah perasaan jatuh cinta itu layak disebut cinta? Kita sama sekali ngga berbuat apa-apa, berusaha atau berkorban untuk ‘jatuh cinta’. Perasaan itu datang tanpa diundang dan tanpa usaha. Dan ketika kita berusaha untuk mengejar yang kita ‘cintai’, tidak lain adalah karena kita memikirkan kebahagiaan kita sendiri. Kita membayangkan betapa bahagianya kita (baca: AKU) kalau bisa jadian sama si ini atau si itu. Persepsi kita ketika membayangkan kita mencintai seseorang adalah karena kita mencintai diri sendiri. Kita mencintai dia karena dia cakep, baik, pinter, membanggakan, dll – hakekatnya semua untuk kepentingan kita sendiri. Sama seperti ketika, katakan kita melihat sebuah baju bagus, dan tertarik untuk membelinya. Kita berusaha untuk menabung (baca: berkorban) untuk memiliki baju itu. Apakah kita mencintai baju itu? Ya, kan..makanya rela berkorban. Tapi tentu kita ingin memiliki baju itu untuk kebahagiaan kita sendiri. Jadi, jatuh cinta itu juga cuma perasaan sekedar pengen punya sesuatu? Dan ketika kita gagal (untuk memperoleh apa yang kita ingini) itu, maka kita menyimpulkan cinta itu menyakitkan.
Jatuh cinta itu misteri. Bahkan ilmu psikologi modern mengakui sulit untuk menyelami perasaan jatuh cinta itu. Kata peribahasa Cina “Bahkan para dewa pun iri pada manusia karena mereka tidak memiliki perasaan jatuh cinta.” Perasaan itu memang menyenangkan, hanya ketahuilah kesemuan perasaan jatuh cinta tersebut.
So….cinta itu palsu belaka? Beserta dengan semua kesakitannya? Kelihatannya cinta sejati itu ada. Dan lebih menyakitkan lagi dari kisah jatuh cinta di atas. Cinta sejati merasa sakit, bukan karena dia tidak memperoleh apa yang dia ingini, tetapi karena dia mencintai sampai merasa sakit. Hmm…jadi persis seperti kata Bunda Theresa, jika engkau mencintai, cintailah sampai engkau sakit. Cinta yang tulus, yang dipaparkan dalam sepenggal puisi Gibran.
Cinta akan memahkotai dan menyalibkanmu
Menumbuhkan dan memangkasmu
Mengangkatmu naik, membelai ujung-ujung rantingmu yang gemulai dan membawanya ke matahari
Tapi cinta juga akan mencengkeram, menggoyang akar-akarmu hingga tercerabut dari bumi
Bagai seikat gandum ia satukan dirimu dengan dirinya
Menebahmu hingga telanjang
Menggerusmu agar kau terbebas dari kulit luarmu
Menggilasmu untuk memutihkan
Melumatmu hingga kau menjadi liat
Kemudian ia membawamu ke dalam api sucinya, hingga engkau menjadi roti suci perjamuan kudus bagi Tuhan.
********
Singapura, Maret 2007
Thank you Jesus, I am still alive.
Thank you for the love I don’t deserve.
from Glorianet.org
May 24th, 2007 at 11:54 pm
Whoa……Sus
kok ngeri2 men tho blog mu ki.
Cieeeee…..master tenan.
Mbok aku diajarin ehhehe.
Pokoke sip lah sus !
Go Chuchi go!