Archive for December, 2007


Hidup Orang Farisi

Dalam perumpamaan Tuhan Yesus di Luk. 18:9-14 terdapat 2 tokoh, yaitu tokoh orang Farisi dan tokoh seorang pemungut cukai. Keduanya sama-sama berdoa kepada Allah di Bait Allah. Hanya bedanya orang Farisi berdoa demikian: “Ya Allah, aku mengucap syukur kepada-Mu, karena aku tidak sama seperti semua orang lain, bukan perampok, bukan orang lalim, bukan pezinah dan bukan juga seperti pemungut cukai ini; aku berpuasa dua kali seminggu, aku memberikan sepersepuluh dari segala penghasilanku” (Luk. 18:11-12). Sedang orang pemungut cukai hanya mampu menaikkan doa yang sangat pendek. Dia hanya berdoa: “Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini” (Luk. 18:13). Dengan dua bentuk doa yang berbeda itu, banyak orang segera mengambil kesimpulan bahwa Allah tidak membenarkan orang Farisi karena dia bersikap munafik; sebaliknya Allah lebih membenarkan doa pemungut cukai karena dia bersikap lebih tulus dan tidak berlaku munafik. Tampaknya stigma orang Farisi sebagai orang-orang yang munafik begitu kuat telah tertanam dalam benak atau pikiran kita. Karena memang berulangkali Tuhan Yesus menyebut orang Farisi sebagai orang-orang yang munafik (misal: Mat. 23:15, 33; Mark. 7:11; Luk. 12:1). Tetapi persoalannya adalah: apakah alasan Allah lebih membenarkan doa pemungut cukai, dan apakah Dia menolak doa orang Farisi dalam perumpamaan Tuhan Yesus karena masalah kemunafikan?

Sebenarnya orang Farisi yang berdoa di Bait Allah dalam perumpamaan Tuhan Yesus seorang yang sangat jujur ketika dia menaikkan doa: ““Ya Allah, aku mengucap syukur kepada-Mu, karena aku tidak sama seperti semua orang lain, bukan perampok, bukan orang lalim, bukan pezinah dan bukan juga seperti pemungut cukai ini; aku berpuasa dua kali seminggu, aku memberikan sepersepuluh dari segala penghasilanku” (Luk. 18:11-12). Orang Farisi tersebut sama sekali tidak berlaku munafik ketika dia menyatakan “mengucap syukur” kepada Allah karena dia tidak merampok, tidak berlaku lalim, tidak berzinah, dan tidak merugikan orang lain dengan menjadi pemungut cukai. Dia juga memang terbukti menjalankan ritual puasa dua kali seminggu, dan dia setia memberikan sepersepuluh dari seluruh penghasilannya kepada Tuhan sebagaimana yang diperintahkan oleh hukum Taurat. Jadi semua hal yang baik dan diperintahkan oleh kitab Taurat telah dilaksanakan orang Farisi tersebut dengan setia dan benar. Sehingga dapat dipahami bahwa orang Farisi tersebut merasa yakin dan benar dengan apa yang telah dilakukannya. Dia yakin bahwa apa yang telah dilakukannya adalah benar di hadapan Allah. Jika demikian, mengapa Tuhan Yesus menganggap bahwa doa orang Farisi tersebut sebagai yang tidak dibenarkan oleh Allah? Bukankah orang Farisi tersebut dalam perumpamaan Tuhan Yesus tergolong seorang yang saleh dan jujur di hadapan Allah? Dalam kategori ini, orang Farisi tersebut hampir seperti tokoh Ayub. Di Ayb. 1:1 disebutkan profil tokoh dari Ayub, yaitu: “Ada seorang laki-laki di tanah Us bernama Ayub; orang itu saleh dan jujur, ia takut akan Allah dan menjauhi kejahatan”. Bukankah orang Farisi tersebut juga seorang yang saleh, jujur, takut akan Allah dan dia menjauhi kejahatan? Allah berfirman: “siapa yang jujur jalannya, keselamatan dari Allah akan Kuperlihatkan kepadanya” (Mzm. 50:23). Jadi seharusnya orang Farisi tersebut juga memperoleh keselamatan dari Allah karena dia telah berlaku jujur dan saleh dengan melakukan firmanNya.

Kejujuran dan kesalehan orang Farisi dalam perumpamaan Tuhan Yesus tersebut tidak perlu kita ragukan. Tetapi kejujuran dan kesalehan belaka bukanlah segala-galanya. Dia jujur ketika dia berkata kepada Allah dalam doanya bahwa dia bukan perampok, bukan orang lalim, bukan pezinah, berpuasa dua kali seminggu dan memberikan sepersepuluh dari penghasilannya. Namun kejujuran, kebenaran diri dan kesalehannya diukur dengan “orang lain” yang dianggap lebih rendah. Orang lain yang dimaksudkan ternyata adalah para pemungut cukai; yang mana semua orang Israel pada umumnya memandang para pemungut cukai sebagai sebagai kelompok orang-orang berdosa dan sangat dibenci sebab mereka menjadi kaki tangan bangsa Romawi dan lintah-darat yang telah menghisap darah sebangsanya. Orang Farisi tersebut tidak mengukur kebenaran diri dan kesalehannya dengan sesama atau orang-orang yang terbukti memiliki moral terpuji; atau mengukur dengan spiritualitas seorang tokoh yang telah dikenal memiliki kesalehan dengan hidup benar di hadapan Allah. Sebaliknya dia mengukur kesalehannya dengan kehidupan orang-orang yang menjadi pemungut cukai! Keadaan tersebut sama seperti anak kita yang mendapat nilai ulangan: “5” dalam suatu mata pelajaran, tetapi dia berkata dengan penuh keyakinan bahwa “masih banyak teman-temannya yang lebih buruk dari pada dia”. Jadi anak kita tersebut memang mendapat nilai yang cukup tinggi yaitu nilai 5 dibandingkan dengan beberapa nilai teman-temannya yang lain, yaitu mereka yang mungkin sedikit lebih malas atau bodoh dari pada dia. Tetapi apabila anak kita tersebut dibandingkan dengan teman-temannya yang lebih pandai dan berprestasi di kelas, maka anak kita tersebut sebenarnya tergolong sebagai anak yang “bodoh”. Demikian pula orang Farisi dalam perumpamaan Tuhan Yesus tersebut. Dia sangat “saleh” apabila dibandingkan dengan kehidupan para pemungut cukai. Tetapi dia menjadi “sangat tidak saleh” bahkan mungkin dia tergolong “fasik” ketika spiritualitasnya dibandingkan dengan orang-orang yang terbukti mampu mengasihi Tuhan dan sesama dengan segenap hatinya.

Sikap orang Farisi tersebut juga sering kita praktekkan dalam kehidupan kekristenan kita. Itu sebabnya banyak orang Kristen yang merasa dirinya lebih saleh, lebih rohani dan benar di hadapan Allah. Dalam kehidupan sehari-hari mereka memang hidup setia sebagai orang Kristen yang rajin beribadah, membaca firman Tuhan, berdoa dan memberi persembahan serta melakukan pekerjaan pelayanan gerejawi dibandingkan dengan orang-orang Kristen yang jarang ke gereja atau orang-orang Kristen jenis “KTP”. Tetapi ketika spiritualitas mereka dibandingkan dengan sesama yang lebih tulus mengasihi Tuhan dan sesama, segera dapat terlihat bahwa “kesalehan” mereka ternyata masih sangat dangkal dan hanya menyentuh pada bagian permukaan dari kehidupan rohani. Jadi makna hidup benar di hadapan Allah tidaklah cukup “berhasil” hanya karena melakukan perintah atau firman Allah yang bersifat moril dan etika. Sebab orang-orang yang tidak mengenal Allah dan tidak memiliki agama juga dapat membuktikan dirinya sebagai orang-orang yang setia dan konsisten untuk melakukan hukum-hukum etis-moril secara universal seperti peraturan tidak mencuri, tidak berzinah, tidak merampok, membagi rezeki, dan menahan diri dari rasa lapar atau haus. Tetapi sesungguhnya makna hidup benar di hadapan Allah lebih dari pada sekedar suatu kemampuan mental/rohani untuk melakukan hukum-hukum etis-moral yang umum tersebut. Sebab apa artinya kita hanya sekedar berhasil melakukan hukum-hukum moral dan etika yang umum tersebut, tetapi kehidupan rohani atau spiritualitas kita tidak dilandasi oleh hubungan atau relasi yang personal dan penuh kasih dengan Allah? Apa artinya kita tidak berzinah, tidak mencuri atau tidak merampok; tetapi hati kita sarat dengan keangkuhan dan kesombongan serta kejahatan yang tersembunyi? Apa artinya kita sering berpuasa menahan rasa lapar, tetapi hati kita tidak berbelas kasihan dengan orang-orang yang sedang kelaparan dan miskin? Apa artinya kita sering memberi persembahan khusus kepada Tuhan, tetapi kita memperoleh uang/kekayaan yang banyak dengan cara memeras para pegawai dan buruh kita?

Manakala dalam perumpamaanNya, Tuhan Yesus membenarkan doa pemungut cukai juga tidak dimaksudkan bahwa kehidupan kita sebagai orang Kristen boleh meneladani perilaku para pemungut cukai yang juga sering berlaku kasar, kejam, dan suka mengancam atau menteror. Sebab Allah melawan setiap orang yang melakukan kekerasan. Mzm. 11:5 berkata: “Tuhan menguji orang benar dan orang fasik, dan Ia membenci orang yang mencintai kekerasan”. Jadi Tuhan Yesus tidak pernah membenarkan perilaku, pekerjaan dan kehidupan para pemungut cukai; tetapi Dia membenarkan sikap spiritualitasnya ketika pemungut cukai tersebut berdoa merendahkan dirinya di hadapan Allah. Pemungut cukai dalam perumpamaan Tuhan Yesus tersebut memposisikan dirinya sebagai seorang yang telah gagal melakukan kehendak Allah dan dia merasa sangat berdosa sehingga dia menepuk dadanya. Dia tidak berani menengadah ke langit sebagai simbolisasi tempat takhta Allah. Jadi pemungut cukai dalam perumpamaan Tuhan Yesus tersebut sama sekali tidak memiliki alasan sedikitpun untuk memegahkan dirinya di hadapan Allah. Justru kepada orang yang demikian Tuhan Yesus berkata: “Orang ini pulang ke rumahnya sebagai orang yang dibenarkan Allah, dan orang lain itu tidak. Sebab barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan” (Luk. 18:14). Pemungut cukai dalam doanya sama sekali tidak membuat “perbandingan rohani/moral” dengan teman-temannya seprofesi yang lebih buruk kelakuannya. Sebaliknya dia memposisikan dirinya di hadapan Allah sebagai “yang paling buruk” di antara “yang terburuk”. Bandingkan dengan sikap rasul Paulus di I Tim. 1:15, yang berkata: “Kristus Yesus datang ke dunia untuk menyelamatkan orang berdosa, dan di antara mereka akulah yang paling berdosa”. Sedang orang Farisi dalam sikap doanya lebih memposisikan dirinya di hadapan Allah sebagai “yang terbaik” di antara “yang terburuk”. Itu sebabnya orang Farisi tersebut tidak memperoleh apapun dari Allah, sebab dalam doanya dia sama sekali tidak memohon belas-kasihan dan kemurahan Allah. Berbeda dengan keadaan pemungut cukai. Dia dapat pulang dengan sejahtera, sebab dia memperoleh anugerah pengampunan dari Allah karena dia telah memohon belas-kasihan atau kerahiman Tuhan, dan juga dia telah memposisikan dirinya yang sebagai yang paling buruk serta orang yang gagal melakukan kehendak Allah.

Namun bukankah rasul Paulus juga melakukan “pembenaran diri” yang sama dengan orang Farisi ketika dia berkata: “Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman”? (II Tim. 4:7). Bukankah dari perkataan atau pernyataan rasul Paulus tersebut terkesan bahwa dia telah mengungkapkan suatu “kesombongan rohani” yaitu dia telah berhasil mengakhiri pertandingan yang baik dalam kehidupannya, dia juga berhasil mencapai garis akhir atau garis finis dan dia juga berhasil telah memelihara iman? Sehingga di II Tim. 4:8, rasul Paulus kemudian dengan begitu yakin berkata: “Sekarang telah tersedia bagiku mahkota kebenaran yang akan dikaruniakan kepadaku oleh Tuhan, Hakim yang adil, pada hariNya”. Apakah ini berarti ucapan atau pernyataan rasul Paulus tersebut juga tergolong sebagai seseorang yang meninggikan diri, sehingga Allah juga akan merendahkan dia?

Ungkapan rasul Paulus di II Tim. 4 dilatar-belakangi oleh situasi nyata yang mana disadari bahwa saat kematiannya sudah dekat. Kemungkinan rasul Paulus telah mendengar vonis terhadap dirinya dengan hukuman mati. Dalam hal ini rasul Paulus menghayati kematiannya yang tidak terlalu lama lagi itu sebagai “korban curahan”. Di II Tim. 4:6 dia berkata: “Mengenai diriku, darahku sudah mulai dicurahkan sebagai persembahan”. Makna korban curahan dilakukan untuk mengucap syukur atas penyataan Allah yang telah dialami seseorang. Misal di Kej. 35:14, Yakub mendirikan tugu dan kemudian dia mempersembahkan korban curahan sebab Allah telah menyatakan diri kepadanya. Jadi makna korban curahan sangat berbeda dengan korban penghapus dosa (asyam) atau korban penebus salah (hattat). Dalam hal ini rasul Paulus tidak pernah menganggap kematian yang akan dialaminya sebagai korban penghapus dosa atau penebus salah sebagaimana yang telah dilakukan Allah secara sempurna dalam kematian Kristus. Sebaliknya kematian yang akan dialami oleh rasul Paulus hanya sekedar suatu tanda dari penyataan Allah sehingga dia mengucap syukur telah diperkenankan untuk memperoleh kehormatan dalam kematian sebagai seorang saksi Kristus. Dengan demikian pernyataan rasul Paulus yaitu: “Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman” lebih tepat merupakan ungkapan syukur atas rahmat Allah yang telah memampukan dia untuk setia dan mengalami kematian sebagai seorang martir bagi Kristus. Itu sebabnya rasul Paulus tidak hanya berkata: “Sekarang telah tersedia bagiku mahkota kebenaran yang akan dikaruniakan kepadaku oleh Tuhan, Hakim yang adil, pada hariNya”. Sebaliknya rasul Paulus kemudian melanjutkan pernyataannya dengan: “tetapi bukan hanya kepadaku, melainkan juga kepada semua orang yang merindukan kedatanganNya” (II Tim. 4:8b). Jadi jelaslah bahwa rasul Paulus tidak pernah memposisikan diri atau mengklaim dirinya sebagai yang terbaik, tetapi dia juga mengakui bahwa bersama-sama dengan semua orang yang merindukan kedatangan Kristus akan memperoleh keselamatan kekal dari Allah.

Dalam nubuatannya, nabi Yoel menyatakan pada hari kedatangan Tuhan kriteria dari orang-orang yang akan diselamatkan, yaitu: “Dan barangsiapa yang berseru kepada nama Tuhan akan diselamatkan” (Yl. 2:32). Makna “berseru kepada nama Tuhan” pada hakikatnya menunjuk kepada sikap hati atau spiritualitas yang sungguh-sungguh merendahkan diri di hadapan Allah untuk memohon kemurahan dan belas-kasihanNya. Hanya kepada orang-orang yang rendah hati saja, Allah akan berkenan menganugerahkan dan mencurahkan RohNya yang kudus. Sebab: “setiap orang yang tinggi hati adalah kekejian bagi Tuhan; sungguh, ia tidak akan luput dari hukuman” (Amsal 16:5). Dengan demikian sikap tinggi hati orang Farisi yang membenarkan diri bukan hanya sekedar suatu gejala psikologis yang kurang dewasa, atau kelemahan secara etis dan moril belaka. Tetapi sikap tinggi hati dan pembenaran diri dari orang Farisi dalam perumpamaan Tuhan Yesus tersebut mencerminkan suatu bentuk perlawanan manusia terhadap kedaulatan Allah sebab seakan-akan orang Farisi tersebut merasa dapat “mengendalikan” keselamatan Allah dengan perbuatan amal dan ibadahnya. Fanatisme beragama, atau sikap radikalisme agama umumnya lahir dari sikap merasa diri paling benar di hadapan Allah dengan “kesalehannya” atau prestasi rohani tertentu. Itu sebabnya orang-orang yang demikian sering merasa berhak menentukan pihak lain yang dianggap “kurang saleh” atau “kurang rohani” dibandingkan dengan diri mereka. Bahkan mereka merasa berhak untuk menentukan “mati atau hidupnya” seseorang atau kelompok agama/kepercayaan lain berdasarkan pada keyakinan akan agama dan kesalehannya.

Pemungut cukai dalam perumpamaan Tuhan Yesus tersebut disebutkan pulang dengan damai-sejahtera sebagai orang yang dibenarkan oleh Allah. Namun sayang sekali kitab Injil tidak mencatat bagaimana kelanjutan kehidupan dari pemungut cukai tersebut. Tetapi kita tahu dengan iman, seseorang yang telah merasakan dan mengalami kasih-karunia dan anugerah pengampunan Allah, dia akan mengalami perubahan hidup yang menyeluruh. Pemungut cukai tersebut pastilah akan meninggalkan profesi dan pola hidupnya yang semula gemar memeras dan mengancam sesamanya yang lebih lemah. Tetapi kini anugerah Allah telah memampukan dia untuk mengalami suatu pertumbuhan rohani yang membuat dia mampu berlaku benar secara utuh, yaitu berlaku benar secara etis-moril maupun secara imaniah di hadapan Allah dan sesamanya. Tetapi bagaimana sikap orang Farisi kemudian? Dia pasti tetap merasa diri lebih benar dan lebih saleh. Sehingga dia tidak mengalami perubahan hidup yang signifikan. Sebab dia kehilangan kekuatan dari anugerah dan rahmat Allah yang seharusnya. Prestasi kesalehan dan perbuatan baiknya tidak berhasil menuntun dan menolong dia kepada keselamatan yang ditawarkan oleh Allah. Jika demikian bagaimanakah dengan kehidupan rohani atau spiritualitas saudara? Apakah kehidupan rohani kita seperti pemungut cukai yang secara tulus merendahkan diri di hadapan Allah dan bersandar kepada anugerah pengampunanNya; ataukah kehidupan rohani kita seperti orang Farisi yang meninggikan dirinya? Namun yang jelas sikap kita yang diubahkan oleh Roh Kudus ataukah sama sekali belum berubah sangat terlihat dalam tingkah-laku atau perlakuan kita kepada orang-orang di sekitar kita, yaitu apakah kehadiran kita senantiasa membawa damai-sejahtera dan keselamatan Allah ataukah sebaliknya. Amin.

Kehidupan Kita

"Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga. Pada hari terakhir banyak orang akan berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi nama-Mu, dan mengusir setan demi nama-Mu, dan mengadakan banyak mujizat demi nama-Mu juga? Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan!" Mat. 7:21-23

Membaca perikop ini apa yang kita pikirkan ? Banyak orang-orang di akhir zaman ini yang pada akhirnya dia tidak masuk ke dalam kerajaan surga. Mengapa hal ini bisa terjadi ? Sebab dalam diri orang ini tidak melakukan kehendak Allah. Mereka memang mendapatkan banyak karunia dari Tuhan, tetapi hidup mereka menjauh dari Tuhan. Mereka tetap rajin ke gereja bahkan pelayanan, tapi hidup mereka tidaklah beda dengan orang-orang dunia yang berlumuran dengan dosa. Mereka berbohong, menipu, bersaksi dusta atas sesamanya dan lain hal, bahkan kadang mengutip ayat berikut ini dan terus menerus berbuat dosa.

"Namun Aku Allah yang menghapus dosamu, Aku mengampuni engkau karena begitulah sifat-Ku; Aku tidak mengingat-ingat dosamu." Yesaya 43:25

Ingatlah bahwa ayat berikut ini juga terjadi dalam hidup mereka.

"Tuhan tidak membiarkan diriNya dipermainkan. Karena apa yang di tabur orang, itu juga yang akan dituainya" Mat. 7:21-23

Bertobat adalah ketika kita berbalik dari jalan kita yang salah. Yesaya 43:25 itu berlaku, tapi kalo kita membiarkan hidup kita terus menerus dikuasai olehnya (pertobatan semu) Matius 7:21-23 akan berlaku dalam hidup kita.

Padang Gurun

Tuntunan Tuhan hari-hari ini adalah untuk kita menjadi serupa dengan gambaran Allah. Bagaimana prosesnya? Melalui Padang gurun.
Padang gurun memang berbicara sesuatu/ perjalanan yang tidak enak, akan tetapi kita harus kuat melewatinya. Seperti halnya bangsa Israel pada waktu keluar dari Mesir mereka melalui padang gurun, kita pun anak-anakNya pasti melalui padang gurun. Sebab tidak ada jalan lain, jalur Mesir - Tanah perjanjian semuanya merupakan padang gurun.
Sebelum kita mempelajari arti rohani dari padang gurun, kita akan melihat perjalanan bangsa Israel di padang gurun.

1. Keluar dari Mesir
Sebelum memasuki padang gurun bangsa Israel mendapatkan berkat yang luar biasa, pada saat keluar dari Mesir mereka mendapatkan:
- Keselamatan : Kel 12:13 “Dan darah itu menjadi tanda bagimu pada rumah-rumah di mana kamu tinggal: Apabila Aku melihat darah itu, maka Aku akan lewat dari pada kamu. Jadi tidak akan ada tulah kemusnahan di tengah-tengah kamu, apabila Aku menghukum tanah Mesir.”
- Berkat : Kel 12:35-36 “Orang Israel melakukan juga seperti kata Musa; mereka meminta dari orang Mesir barang-barang emas dan perak serta kain-kain. Dan TUHAN membuat orang Mesir bermurah hati terhadap bangsa itu, sehingga memenuhi permintaan mereka. Demikianlah mereka merampasi orang Mesir itu.”
- Mujizat : Kel 13:18-14:31 menceritakan bagaimana Tangan Tuhan meluputkan bangsa Israel dari kejaran pasukan Mesir dengan cara yang ajaib, Tuhan membelah laut Merah dan bangsa Israel berjalan melaluinya. Sungguh mujizat luar biasa yang Tuhan lakukan untuk bangsa Israel

Arti rohani, Sewaktu kita mengambil keputusan untuk sungguh-sungguh mengikut Tuhan dan keluar dari Mesir (Dosa), kita akan merasakan penyertaan dan pertolongan Tuhan dalam kehidupan kita. Pada saat Saudara dan saya baru bertobat, kita mengalami apa yang namanya hidup di suatu keadaan yang penuh dengan suka cita, damai sejahtera dan suatu keadaan dimana Allah nyata. Sukacita, Berkat, Mujizat, hingga jawaban doa begitu nyata dalam kehidupan anak-anak Tuhan yang baru bertobat.
Akan tetapi apa yang terjadi setelah beberapa waktu berlalu? Padang Gurun! Seperti halnya bangsa Israel kita pun akan memasuki padang gurun…

2. Padang Gurun
Padang Gurun dalam bahasa aslinya adalah midbar (Ibrani) yang asal katanya adalah dabar (= berbicara, berbincang-bincang, ber-komunikasi atau memberi tahu).
Jadi padang gurun mengandung arti: Padang belantara (wilderness), Padang gurun (Desert) dan berbicara (to Speech). Padang Gurun memiliki arti sesuatu yang tidak enak akan tetapi disana juga tempat Tuhan berbicara.
Kehidupan didalam Tuhan tidaklah seperti di dunia dongeng yang segala sesuatunya serba indah, selalu diberkati, selalu manis atau kita akan mendapat jalan yang lurus. Mengikut Tuhan kita akan diperhadapkan dengan ujian, agar anak-anak-Nya menjadi “dewasa.” Padang gurun merupakan ujian. Seperti seorang murid tidak akan mengalami kelulusan jika tidak melalui sebuah ujian. Tuhan akan banyak berbicara di padang gurun.
Ada banyak tempat yang dilalui bangsa Israel di Padang Gurun:
Mara di padang gurun Elim, Air pahit
Inilah padang gurun pertama setelah bangsa Israel menyeberangi Laut Teberau. Di sinilah Bangsa Israel bersungut-sungut dan bertanya “Apakah yang akan kami minum?” (Kel 15:24) Mereka bertanya tentang hal ini, karena mereka tidak dapat meminum air yang terdapat di Mara, karena pahit rasanya. Mara adalah tempat ujian pertama yang harus mereka hadapi, yang sebenarnya Tuhan hendak berbicara kepada bangsa Israel untuk mengajarkan mereka untuk melepaskan kepahitan (Ibr. Mar= pahit/ kepahitan).
Arti rohani, Jika kita merasa orang di sekitar kita berlaku pahit, atau saat keadaan terasa segalanya pahit LUPAKAN ITU! Kita sedang berada di Mara. Melupakan/mengampuni kepahitan terhadap seseorang tidaklah mudah, akan tetapi sangat penting untuk dilakukan. Sebab itu menentukan respon Tuhan untuk mengampuni kita. “Tetapi jikalau kamu tidak mengampuni orang, Bapamu juga tidak akan mengampuni kesalahanmu.” (Mat 6:15)

Padang gurun Sin, Tidak ada makanan
Bangsa ini lebih menyukai makanan daripada kebebasan, malah daripada kehidupannya sendiri. Mereka menggerutu “Apa yang akan kami makan?” Di sini Tuhan hendak mengajarkan bahwa hidup itu bukan hanya dari makanan saja, tetapi makanan rohani yaitu Firman Tuhan juga perlu. “Ada tertulis: Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah.” (Mat 4:4) Tuhan mengirimkan dari langit hujan roti. ‘Roti dari langit’ ini dinamakan manna. Manna menjadi makanan khusus yang secara ajaib dikirim setiap hari (kecuali hari sabath) dari Allah untuk bangsa Israel setelah keluar dari Mesir.
Arti rohani, di padang gurun Tuhan mengajarkan kita untuk hidup dalam Firman Tuhan dan belajar untuk mematikan kedagingan kita. Tuhan Yesus sendiri tiga kali dicobai iblis di padang gurun dan salah satunya adalah pencobaan mengenai makanan (Mat 4:2-4).

Rafidim, Tidak ada air
Berjalan di padang gurun tanpa air adalah sesuatu yang mustahil, oleh sebab itu di Rafidim bangsa Israel kembali bersungut-sungut. Di Rafidim sebenarnya Tuhan hendak mengajarkan kepada bangsa Israel agar bergantung dan beriman hanya kepadaNya, mintalah air, sebab Tuhan pasti memberikan-nya. Tapi apa yang mereka katakan “Adakah Tuhan di tengah-tengah kita atau tidak?” Respon mereka kembali buruk, yaitu bersungut-sungut dan mencobai Tuhan bahkan mereka bertengkar dengan Musa.
Sebenarnya di padang gurun sekalipun Tuhan sanggup memelihara umatNya tanpa sumber mata air. Tuhan sanggup mengeluar-kan air dari batu cadas sekalipun, dan itulah yang Tuhan lakukan di Refidim, air keluar dari gunung batu.
Oleh sebab itu setelah Tuhan memberikan air kepada bangsa Israel, di tempat yang sama – Rafidim – Tuhan menyuruh mereka berperang melawan bangsa Amalek dengan cara yang ajaib. (= Amalek adalah cabang bangsa Edom, keturunan Esau. Mereka adalah bangsa pengembara dan sangat memusuhi Israel), yaitu bilamana Musa mengangkat tangannya maka lebih kuatlah bangsa Israel tetapi jika Musa menurunkan tangannya maka lebih kuatlah bangsa Amalek.
Dengan demikian Tuhan berbicara kepada bangsa Israel bahwa dengan mengangkat tangannya Musa/ bangsa Israel menunjukkan ketergantungan dan imannya kepada Tuhan, dan disitu ada kemenangan, berkat, perlindungan, kasih karunia dan kehidupan.
Arti rohani, sudahkan Saudara dan saya bergantung dan beriman kepada Tuhan SEPENUHNYA?

Padang gurun Sinai, tidak ada pemimpin/ tuntunan (kel 32)
Saat Musa menghadap Tuhan di gunung Sinai untuk waktu yang cukup lama, bangsa Israel mulai resah. Mereka mulai berfikiran negatif bahwa Musa dan Tuhan telah meninggalkan mereka, sehingga mereka mengangkat pemimpin baru dengan membuat tuhan baru (patung anak lembu emas) dan menyamakan patung tersebut dengan Allah.
Luar biasa jahatnya bangsa ini, baru saja melihat segala keperkasaan dan perbuatan Tuhan yang mereka sembah tapi dalam satu kejadian mereka berbalik kepada allah lain yang jelas-jelas tidak dapat berbuat apa-apa (sebab ia adalah patung).
Sebenarnya di gunung Sinai Tuhan hendak berbicara banyak kepada bangsa ini tentang ketetapan-ketetapan dan hukum bagi mereka melalui Musa. Disinilah Tuhan memberikan ke sepuluh hukum Tuhan dalam loh batu. Namun mereka tidak sabar menantikan Musa yang sedang berbicara dengan Tuhan lalu beralih kepada allah lain.
Arti rohani, inilah saat terpenting bagi kita saat memasuki padang gurun, yaitu menantikan dan mendengarkan Tuhan berbicara. Jangan lekas kecewa jika ternyata kita tidak juga mendengar Tuhan berbicara, nantikan sajasambil terus mencari wajahNya, merenungkan FirmanNya dan bersekutu dengan saudara-saudara seiman. Jangan beralih kepada “allah lain” pada waktu seolah-olah Tuhan meninggalkan kita sebab Allah kita sembah jauuuuuh terlalu berharga untuk digantikan dengan allah dunia ini. Ia tidak pernah meninggalkan Saudara dan saya, PERCAYALAH!

Padang gurun Paran
- Tabera – menyesali nasib. bangsa Israel bersungut-sungut dan berkeluh kesah terhadap apa yang mereka alami, mereka benar-benar merasa kekurangan, tidak menyenangkan, bernasib buruk dan bosan hidup di padang gurun.
Arti rohani, masa padang gurun yang kita alami mungkin berupa hal-hal yang membuat kita kekurangan, usaha bangkrut, di PHK, terlilit hutang, kekurangan uang dll., Tapi di sini Tuhan hendak berbicara bahwa kita sebagai anak-anakNya jangan pernah berhenti bersyukur, mungkin kita berkekurangan akan tetapi dibandin dengan pengorbanan Kristus di kayu salib dan keselamatan yang telah kita terima itu tidak berarti apa-apa. Dia lah Allah yang akan mencukupi dan pemberi jalan keluar di setiap kesulitan yang kita hadapi.
- Kibrot-Taawa – menginginkan makan daging. Sebenarnya yang menginginkan makan daging (salah satu kebiasaan mereka di mesir) adalah orang bukan Israel yang ikut di dalam rombongan, mereka mempengaruhi bangsa Israel untuk memberontak kepada Allah dan menginginkan kesenangan yang ada di Mesir.
Arti rohani, Hati-hati terhadap lingkungan dimana kita berada, hati-hati dengan orang-orang “penyusup” yang iblis gunakan untuk membawa kita kepada pemberontakan terhadap Allah. Masa padang gurun keadaan kita akan lemah, oleh sebab itu akan sangat mudah untuk para “penyusup” mempengaruhi kita dan mulai mengajak lagi kepada kesenangan Mesir (DOSA) yang seharusnya kita lupakan.
- Hazerot – pemberontakan terhadap pemimpin.
- Kadesy – ketidak percayaan terhadap janji Allah. Awalnya di mulai dengan ketakutan dan tidak adanya kepercayaan pada waktu para pengintai kembali dari Kanaan. Bangsa Israel melihat bahwa bangsa Kanaan begitu besar, kuat dan tak terkalahkan sehingga mereka menginginkan pemimpin baru untuk menuntun mereka kembai ke mesir.
Padahal Tuhan sudah berkata: “Kepadamu dan kepada keturunanmu akan Kuberikan negeri ini yang kaudiami sebagai orang asing, yakni seluruh tanah Kanaan akan Kuberikan menjadi milikmu untuk selama-lamanya; dan Aku akan menjadi Allah mereka.” (Kej 17:8)
Arti rohani, banyak kejadian di padang gurun Paran.

Jangan bersungut-sungut
Perbedaan sebagian besar bangsa Israel dengan Musa dalam menghadapi padang gurun adalah:
Sebagian besar bangsa Israel: Bersunggut-sungut kepada Tuhan.
Musa: Berseru-seru kepada Tuhan.
Dan semakin bangsa Israel bersungut-sungut semakin lama mereka berada di padang gurun. Sebenarnya jarak dari Mesir/ Gosyen ke tanah perjanjian hanya berjarak sekitar 2 minggu perjalanan, akan tetapi bangsa Israel berada di padang gurun untuk jangka waktu 40 tahun. Mengapa? Karena respon mereka yang negatif terhadap padang gurun (ujian) yang mereka alami. Bahkan tragisnya lagi bahwa hanya sedikit dari mereka yang mencapai tanah perjanjian, selebihnya – yaitu sebagian besar – mati di padang gurun.

Gosyen
Beberapa kali bangsa Israel rindu kembali ke Mesir, walaupun pada waktu disana mereka berseru-seru untuk keluar (Kel 2:23). Mereka masih mengingat-ingat Mesir sebagi tempat yang jauh lebih menyenangkan dari pada berada di padang gurun. Banyak hal yang mereka dapatkan di Mesir/ Gosyen, seperti:
Mendapat tanah untuk tempat tinggal (Kel 14:11)
Mendapat pekerjaan (Kel 14:12)
Mendapat roti dan daging (Kel 16:3)
Mendapat banyak air (Kel 17:3)
Mendapat Ikan secara gratis, sayur-mayur dan buah-biahan (Bil 11:5)
Tidak usah berperang (Bil 14:2-3)

Arti rohani, terkadang kita anak-anak Tuhan rindu dengan kehidupan lama pada waktu hidup dalam dosa, sebab segalanya terlihat indah, menyenangkan dan bebas melakukan apa saja. Sehingga pada saat menghadapi padang gurun yang akan membawa kita kepada kedewasaan kita akan lebih memilih kembali ke “Mesir” seperti yang Tuhan ingatkan di II Pet 2:20 “Sebab jika mereka, oleh pengenalan mereka akan Tuhan dan Juruselamat kita, Yesus Kristus, telah melepaskan diri dari kecemaran-kecemaran dunia, tetapi terlibat lagi di dalamnya, maka akhirnya keadaan mereka lebih buruk dari pada yang semula.”
Tapi biarlah Saudara dan saya dengan tekun menghadapi setiap padang gurun sambil terus berharap kepada Tuhan, sebab di padang gurun tersebut ada rencana Tuhan bagi kita, seperti:
1. Tuhan hendak berbicara kepada kita
2. Tuhan hendak mengajarkan kita beperang untuk memperoleh semua janji Tuhan dan berkat-berkatnya
3. Tuhan hendak mengikis kehidupan “Mesir” kita
4. Tuhan hendak mengajarkan agar kita bergantung pada Tuhan.

Pemeliharaan Tuhan
Bangsa Israel tidak mungkin bertahan hidup di padang gurun tanpa pemeliharaan Allah secara ajaib. Tapi jangan takut seperti Tuhan memelihara bangsa Israel selama di padang gurun demikian juga kita harus percaya penyertaan Tuhan selama di padang gurun.
“Empat puluh tahun lamanya Aku memimpin kamu berjalan melalui padang gurun; pakaianmu tidak menjadi rusak di tubuhmu, dan kasutmu tidak menjadi rusak di kakimu” (Ul 29:5) Amin (Vic.).

Bersungut-sungut (Part 1)

Stop Mengomel (Bersungut-sungut)

Minggu, 2 Oktober 2005

Oleh: Pdt. Paulus Budiono

Shalom dan senang berjumpa lagi dalam kasih Kristus!

Rasul Paulus menasihatkan jemaat Korintus: “Dan janganlah bersungut-sungut, seperti yang dilakukan oleh beberapa orang dari mereka (Israel), sehingga mereka dibinasakan oleh malaikat maut” (1Kor. 10:10). Pertanyaannya: Bisakah manusia tidak (perlu lagi) mengomel/bersungut-sungut dalam sikon apa pun? Alkitab satu-satunya jawaban bagi kita! Mari kita telusuri persungut-sungutan bangsa Israel ini:

Mengapa dan dalam sikon apa bangsa Israel bersungut-sungut?

Sebab Lapar dan Haus di padang gurun! (baca: Kel. 15 & 16)

“Persungutan” menggantikan “sukacita dan nyanyian”, itulah yang sedang terjadi di antara orang Israel yang baru saja keluar dari perbudakan di Mesir. Ketika bangsa Israel keluar dari Mesir, menyeberangi laut Teberau atas pimpinan Tuhan, alangkah sukacitanya mereka. Musa bersama dengan mereka menyanyikan nyanyian bagi Tuhan. Lalu Miriam nabiah itu, saudara perempuan Harun bersama semua perempuan memukul rabana, menari dan menyanyi bagi Tuhan, sebab Dia sudah membawa mereka keluar meninggalkan Mesir. Namun, tidak lama setelah itu bangsa Israel mulai bersungut-sungut karena air yang ditemukan pahit dan tidak dapat di minum!

Image

Hal ini masih di anggap wajar, karenanya Allah merubah air yang pahit menjadi manis dan berhentilah persungutan! Dalam kesempatan lain mereka mengomel lagi karena tidak ada makanan di padang gurun, lalu Allah menurunkan hujan roti (manna) dari langit dan berhentilah persungutan! Tapi apa yang terjadi setelah itu, apa mereka berhenti bersungut? TIDAK! Yang aneh dan tidak wajar terjadi adalah, di tengah limpahnya air minum segar dan makanan sorga setiap hari selama 40 tahun di padang gurun, persungutan bangsa Israel tidak pernah surut, malah meningkat hingga menyalahi Allah yang telah menyelamatkan mereka dari perbudakan di Mesir!

Bagaimana dengan kita: Israel rohani? Yang dahulu menderita karena dosa, karena nikah yang morat-marit, karena berbagai masalah pribadi; tetapi setelah mengenal Yesus sebagai Juruselamat, maka kita dibebaskan dari segala dosa, kita diselamatkan, diberi sukacita dan pujian untuk Tuhan, bukan hanya itu, kita juga diberikan Roti, Firman-Nya dan Air rohani, Roh Kudus-Nya! Tapi apakah sekarang dalam menjalani hidup sehari-hari, kita membiarkan diri kembali dikuasai oleh omelan dan sungutan yang tidak kunjung berhenti hanya karena merasa kekurangan dalam kebutuhan hidup sehari-hari? Ia memang berjanji akan memenuhi segala sandang pangan, menjamin kesehatan dan meyelesaikan setiap masalah kita, seperti yang telah IA janjikan kepada Israel, yaitu :

A.   Mendengar & melakukan FIRMAN-Nya, maka semua tercukupi ? Meja Roti Sajian (Kel. 15:22–27, 16:1-4 bnd. Yak. 1:25)

B.   Beribadah dan melayani-Nya, maka semua tercukupi ? Pelita Emas (Kel. 23:25 bnd. Why. 7:15-17)

C.   Menyembah hanya kepada Allah saja, maka semua tercukupi ? Mezbah Dupa Emas (Ul. 7:15-16 bnd. Why. 22:1-5)

Namun persungutan tentang “makanan dan minuman” tetap berlangsung, sekali pun itu mengakibatkan kebinasaan yang mengerikan! Mengapa? Karena tidak mentaati firman-Nya! Sehingga “kelaparan dan kehausan” dalam batin menjadi-jadi dan semakin banyak persungutan!

JANGAN BIARKAN CIRI-CIRI “KEHAUSAN DAN KELAPARAN” ADA DALAM KITA!

Ciri-ciri seseorang yang KEHAUSAN & KELAPARAN:

A.    K E H A U S A N !

1.   Tiada puji-pujian kepada Allah, sebab lidah menjadi kering dan lengket (Yes. 41:17 Rat. 4:4)!

Seseorang bahkan bayi sekali pun bisa menjadi ‘haus’, akibatnya ‘lidah’ menjadi kering dan lengket pada langit-langit mulutnya. Pada hal Tuhan Yesus pernah mengatakan, bahwa dari mulut bayi yang menyusu Tuhan menyempurnakan pujian untuk menutup mulut musuh (Mzm. 8:2-3 bnd. Mat.21:16). Bayi-bayi ini menggambarkan Gereja Tuhan yang sedang bertumbuh seharusnya rindu kepada susu yang murni itulah Firman Tuhan (I Petrus 2:2). Agar lidah anak Tuhan tidak ‘lengket’, terimalah firman Tuhan yang murni dan bersukacitalah dan bersorak-sorai serta menyanyi memuji Tuhan!

2.   Tiada penyembahan yang benar, sebab ada ketidakpuasan dalam nikah (Yohanes 4:1-42)! Tuhan menunjukkan, bahwa perempuan ini lama tidak mengalami ‘kepuasaan’ (dalam arti yang luas) dengan suaminya (sudah kawin 6x). Ia tidak pernah (mau) tunduk pada suaminya, maka rumah tangganya berantakan. Tetapi Yesus memberikan jalan keluar dengan menawarkan Air Kehidupan = Roh Kudus (Yoh. 7:37-39) yang pasti memberikan kepuasan kepadanya sampai kekal!

B.    K E L A P A R A N!

1.   Tiada pelayanan yang benar, menyebabkan kelembutan dalam nikah rumah tangga hilang (Ul. 28:47-57)! Israel telah menjadi kaya, tapi tidak lagi senang hati melayani Tuhan, maka keharmonisan, kelembutan dalam nikah rumah tangga hilang. Isteri yang lembut jadi ganas, anak kandung sendiri dimakan dlsb. Bila seorang ayah sudah tidak sungguh – sungguh lagi melayani Tuhan, maka dampaknya akan terasa kepada anak-anaknya, mereka tidak akan dipedulikan, tidak disayang, tidak dipelihara dengan Firman Pengajaran malah dibiarkan rohaninya mati. Anak-anak menjadi bulan-bulanan hawa nafsu dan akhirnya anak – anak tersebut lebih suka dengan perkara-perkara dunia. Mereka juga akan tumbuh menjadi anak muda yang lapar dan Haus, bukan lapar karena makanan atau haus karena minuman tetapi lapar dan haus karena tidak mendengarkan Firman Tuhan (Amos 8:11) Begitu juga apabila isteri yang adalah gambaran Gereja Tuhan tidak sungguh melayani Tuhan maka banyak jiwa-jiwa anak Tuhan menjadi korban. Biarlah orangtua (ayah & ibu) menjadi contoh bagi anak-anaknya bahwa mereka mencintai Firman Allah sebagai berita yang menghidupkan mereka. Sebab Firman Allah itulah yang membuat kehidupan yang lemah lesu dan putus asa disegarkan kembali.  Oleh sebab itu estafetkan Firman Allah yang sudah kita terima kepada orang lain supaya mereka juga mengalami disegarkan.

2.   Tidak menikmati kelimpahan gandum (Ayub 24:10 - 11)! Banyak gandum tetapi lapar, banyak Firman tetapi lapar! Ini kehidupan yang tahu Firman Allah, tetapi tidak mau terima dan menyimpannya. Ruth contoh yang baik untuk kehidupan yang tahu menyimpan dan memelihara gandum yang diperolehnya sehingga ia pulang tidak dalam keadaan lapar. Jangan menjadi orang Kristen yang lapar di tengah kelimpahan Firman. Betapa ironisnya kehidupan yang memikul berkas gandum sambil kelaparan dan lebih dari itu doanyapun tidak akan didengar oleh Allah!! Allah menolak doa orang yang menolak Firman Pengajaran.

3.   Tidak ada perdamaian di antara saudara (Yesaya 9:19-20)! Kehidupan yang tidak suka Firman akibatnya saling ‘gontok-gontokan’. Sesama saudara saling melawan dan memakan. Saling memfitnah dan bergosip.

4.   Kehidupan yang mudah tersinggung (Ratapan 5:10)! Kulit berbicara tentang salah satu panca indera kita yaitu perasaan. Kulit yang gosong berarti perasaan yang gampang tersinggung. Bila ada Firman Tuhan dan penuh Roh Kudus, maka kulit kita tetap sehat artinya kita bukanlah kehidupan yang mudah tersinggung, dan gampang  marah. Sebab Firman itu selalu melindungi seperti tameng. Kehidupan yang tidak pernah percaya kepada Yesus di dalam Firman Allah, hatinya tidak pernah merasa puas seperti Yudas.

Yesus adalah solusi segala masalah

Menghadapi kondisi haus dan lapar, Yesus memberikan Roti dan Air Hidup (Yohanes 6). Itulah makanan dan minuman yang sebenarnya yaitu Tubuh-Nya sendiri yaitu Roti yang turun dari Sorga dan minuman yang sejati adalah Darah-Nya sendiri ? Perjamuan Suci. Dan siapa yang menerima Yesus di dalam persekutuan dengan Tubuh dan Darah-Nya maka ia tidak lapar dan haus lagi untuk selama-lamanya, ini berarti bagi kehidupan yang sudah ditebus oleh Darah Anak Domba akan terjamin baik kehidupan jasmani maupun rohaninya ( Wahyu 7:9-17).

Biarlah perasaan kita disucikan supaya jangan dikuasai oleh kejahatan dan keganasan dari dunia yang membuat perasaan kita menjadi pahit. Selagi masih ada kesempatan, selesaikan apa-apa yang tidak baik dalam hidup kita supaya hati kita dipuaskan oleh Firman Allah dan dapat melayani Tuhan dengan sungguh-sungguh. Alkitab sendiri membuktikan bahwa orang-orang yang telah ditebus oleh Darah Anak Domba itu siang dan malam melayani Tuhan sehingga makanan dan minuman (secara jasmani maupun rohani) tercukupkan oleh sebab puas dengan Firman Allah dan penuh dengan Roh Kudus, serta panas terik matahari tidak akan melukai kulit (perasaannya tidak mudah tersinggung). Dan mereka semua yang tidak terukur jumlahnya itu dilindungi di dalam penggembalaan dengan tujuan menuju kepada Mata Air Kehidupan itulah kepuasan yang kekal selama-lamanya sehingga tidak akan ada lagi omelan (Stop mengomel!) Mengapa? Sebab pakaian (perbuatan) mereka selalu dibersihkan oleh Darah Anak Domba. Dan oleh Korban Kristus itu tidak ada alasan bagi kita untuk tidak melayani Tuhan. Sehingga Tuhan katakan: “Kalau engkau melayani Aku, berbakti kepada-Ku, maka sandang pangan tercukupkan dan engkau sehat!”.

Amin.

Bersungut-sungut (Part 2)

Pada suatu kali bangsa itu bersungut-sungut di hadapan TUHAN tentang nasib buruk mereka, dan ketika TUHAN mendengarnya bangkitlah murka-Nya, kemudian menyalalah api TUHAN di antara mereka dan merajalela di tepi tempat                perkemahan.”                                       (Bilangan 11:1)

Bangsa Israel memiliki sejarah yang panjang mengenai bersungut-sungut. Alkitab dengan jelas menceritakan bagaimana kesengsaraan mereka yang diakibatkan hanya karena bersungut-sungut di dalam 5 kitab Musa dalam Perjanjian Lama. Bahkan, akibat bersungut-sungutlah maka sebagian besar Bangsa Israel gagal untuk masuk ke tanah Kanaan, tanah yang telah dijanjikan oleh Allah bagi mereka.
Kelihatannya, bersungut-sungut seperti dosa kecil saja yang tidak berarti. Bahkan, tidak sedikit orang memandang bersungut-sungut bukanlah DOSA. Tetapi Allah memandang lain akan hal sungut-sungut.

A. Mengapa Allah memandang sungut-sungut sebagai dosa ?
Sungut-sungut di dalam Bahasa Ibrani adalah Na’anan yang artinya memprotes dengan cara mengumpat atau mengeluarkan kata-kata kutuk. Di dalam bahasa Inggris tertulis “saying evil against the Lord”, artinya mengeluarkan kata-kata jahat untuk melawan atau menentang Allah.
Ada 3 hal yang menjadikan sungut-sungut sebagai suatu dosa, yaitu
1. Bersungut-sungut merupakan keluhan kedagingan
Di dalam Bilangan 11, secara jelas Alkitab memberi sebuah gambaran yang ringkas di mana Allah dan Musa harus bersabar diri ketika mencoba untuk memimpin Bangsa Israel keluar dari tanah Mesir ke tanah perjanjian. “Pada suatu kali bangsa itu bersungut-sungut di hadapan TUHAN …” (Bil.11:1). Bukan saja Musa yang mendengar sungut-sungut Bangsa Israel, tetapi Allah juga mendengar semua keluhan mereka.
Kita sering kali lupa, bahwa Allah selalu mendengar segala sesuatu yang kita pikirkan. Dia bahkan tahu segala sesuatu yang kita perlukan ! Seperti yang dikatakan oleh Daud : “Engkau mengetahui, kalau aku duduk atau berdiri, Engkau mengerti pikiranku dari jauh…Sebab sebelum lidahku mengeluarkan perkataan, sesungguhnya, semuanya telah Kauketahui, ya TUHAN.” (Mzm.139:2,4). Apa akar dari sungut-sungut Bangsa Israel ?
Bangsa Israel mulai menginginkan makanan lain daripada yang telah Allah sediakan. Mereka meratap, “Siapakah yang akan memberi kita makan daging? Kita teringat kepada ikan yang kita makan di Mesir dengan tidak bayar apa-apa, kepada mentimun dan semangka, bawang prei, bawang merah dan bawang putih. Tetapi sekarang kita kurus kering, tidak ada sesuatu apa pun, kecuali manna ini saja yang kita lihat." (Bil.11:4-6). Akar dari sungut-sungut Bangsa Israel adalah kedagingan mereka. Bangsa Israel lupa bahwa mereka tidak pantas mendapat apa-apa ! Allah sudah memberi mereka roti sugawi (=manna) dan mereka tidak perlu bekerja untuk mendapatkannya. Bangsa Israel mendapatkanya dengan cuma-cuma. Yang harus mereka kerjakan hanyalah pergi dan mengambil roti surgawi (=manna) itu. Tetapi tangapan Bangsa Israel yang tidak bersyukur adalah, “Apa ? Manna lagi…Manna lagi ?”
Bangsa Israel bersungut-sungut tentang Manna dan meminta daging. Allah memberitahu mereka, Dia akan memberi mereka daging untuk dimakan. “Bukan hanya satu hari kamu akan memakannya, bukan dua hari, bukan lima hari, bukan sepuluh hari, bukan dua puluh hari, tetapi genap sebulan lamanya, sampai keluar dari dalam hidungmu dan sampai kamu muak — karena kamu telah menolak TUHAN yang ada di tengah-tengah kamu dan menangis di hadapan-Nya dengan berkata: Untuk apakah kita keluar dari Mesir ?" (Bil.11:19-20).
Allah mengetahui hati mereka, tahu bahwa hati Bangsa Israel menolak-Nya untuk kesenangan mereka sendiri. Sehingga Dia memberikan kepada Bangsa Israel keingian apa yang menurut pemikiran mereka. Kemudian Allah mengirim angin yang membawa burung-burung puyuh dari sebelah laut dan burung-burung itu menutupi tempat perkemahan dan sekelilingnya. Kira-kira tiga kaki tingginya dari atas muka bumi. Mungkin bagi Bangsa Israel itu adalah jawaban doa dari sungut-sungut mereka !
“Lalu sepanjang hari dan sepanjang malam itu dan sepanjang hari esoknya bangkitlah bangsa itu mengumpulkan burung-burung puyuh itu — setiap orang sedikit-dikitnya mengumpulkan sepuluh homer –, kemudian mereka menyebarkannya lebar-lebar sekeliling tempat perkemahan” (Bil.11:32). Lalu Bangsa Israel dengan rakusnya mengumpulkan burung-burung puyuh tersebut masing-masing 10 homer. Satu Homer sama dengan 11 gantang, jadi setiap orang paling sedikit mengumpulkan 110 gantang untuk diri mereka sendiri. Lalu Firman Tuhan menulis dalam Bil.11:33-34, ”Selagi daging itu ada di mulut mereka, sebelum dikunyah, maka bangkitlah murka TUHAN terhadap bangsa itu dan TUHAN memukul bangsa itu dengan suatu tulah yang sangat besar. Sebab itu dinamailah tempat itu Kibrot-Taawa, karena di sanalah dikuburkan orang-orang yang bernafsu rakus”. Nama Kibrot-Taawa, sebenarnya memiliki arti “Kuburan Kerakusan”. Allah memberi jawaban atas sungut-sungut mereka dengan melimpah ruah, dan Bangsa Israel menambah kerugian. Tidak ada pujian, tidak ada ucapan syukur, tidak ada kepercayaan dan tidak ada iman. Yang ada hanyalah kerakusan. Banyak Bangsa Israel yang meninggal dalam wabah tersebut.
Saudara, apakah kita mengalami hal yang sama dengan Bangsa Israel ? Kita merasa gelisah di dalam iman kita karena belum melihat adanya jawaban-jawaban doa? Apakah kita lalu mengomel kepada Allah, karena kita sudah percaya karena tidak merasakan penyertaan Allah dalam hidup kita ? Apakah kita tidak mengucap syukur atas apa yang telah Allah berikan atas kita ? jangan kita biarkan kedagingan kita menang atas roh kita, yang akan membawa kita pada kematian iman, bahkan penolakkan akan Allah.

2. Bersungut-sungut merupakan keluhan iri hati.
Kitab Bilangan menjelaskan kepada kita, bila kita membiarkan sungut-sungut itu dalam hidup kita, maka kelak sungut-sungut itu akan menjadi sebuah bom waktu dalam hidup kita. Bilangan 12:1 menuliskan, “Miryam serta Harun mengatai Musa berkenaan dengan perempuan Kush yang diambilnya, …”. Tampaknya, Harun dan Miryam bersungut-sungut kepada Musa, karena Musa mengambil gadis Kusy sebagai istrinya dan bukan gadis Yahudi. Tetapi, kita tahu, Musa adalah orang yang berhadapan dengan Allah dan Allah memberi ijin Musa untuk menikahi gadis Kusy tersebut. Sebenarnya, dengan sungut-sungut itu, Harun dan Miyam sedang menghakimi Musa. Tetapi dibalik sungut-sungut mereka terselip sesuatu iri hati terhadap Musa. “Kata mereka: "Sungguhkah TUHAN berfir-man dengan perantaraan Musa saja? Bukankah dengan perantaraan kita juga Ia berfirman?” (Bil.12:2). Sungut-sungut Harun dan Miryam didasari atas lapar akan keakuan!
Sifat keakuan atau egoisme, muncul dari suatu rasa ketidakpuasan. Hal ini timbul karena rasa iri hati. Didalam pelayanan Tuhan Yesus, Ia harus pula menghadapi rasa iri diantara murid-murid-Nya. Yesus harus mengatasi masalah ini sebelum Ia disalib.
Yesus sudah mengatakan kepada 12 murid-Nya, bahwa Ia akan mati, dan apakah murid-murid-Nya berduka cita? Tidak. Seminggu sebelumnya, para murid dari Tuhan Yesus melihat Dia dielu-elukan sebagai raja ketika Ia memasuki kota Yerusalem dan para murid-Nya mulai berdebat, siapakah diantara mereka yang akan menjabat posisi terbesar di dalam kerajaan-Nya ! (Luk.22:24). Tetapi Yesus justru mengambil handuk dan seember air, dan membasuh kaki murid-murid-Nya seperti seorang pelayan biasa. Kemudian Yesus berkata "Mengertikah kamu apa yang telah Kuperbuat kepadamu? Kamu menyebut Aku Guru dan Tuhan, dan katamu itu tepat, sebab memang Akulah Guru dan Tuhan. Jadi jikalau Aku membasuh kakimu, Aku yang adalah Tuhan dan Gurumu, maka kamu pun wajib saling membasuh kakimu” (Yoh.13:12-14).
Saudara, apakah kita pernah mengeluh karena tidak ada seorang pun yan mengenali talenta kita? Apakah kita bersungut-sungut dengan melontarkan kritik atas pemimpin rohani kita? Apakah kita bersungut-sungut ketika pemimpin rohani kita mendapat perhatian dan pujian ?
Sungut-sungut yang penuh iri hati seperti kanker yang merusak, ibarat bom waktu yang akan meledak pada waktunya. Allah membiarkan Miryam dan Harun merasakan akibat dari sungut-sungut mereka terhadap Musa. Dalam murka-Nya, Allah mendatangkan penyakit kusta pada Miryam. Penyakit “kanker” pada masa itu (Bil.12:10). Meskipun Allah menyembuhkan penyakit kusta tersebut, namun Miryam dan Harun dilarang memasuki tanah perjanjian (Bil.20:24).
Bilamana kita pernah bersungut-sungut karena tidak ada orang yang mengenali talenta kita, serahkanlah keakuan kita pada Allah sebelum hal itu menjadi sebuah kanker yang akan merusak nantinya, yang menekan saudara-saudara seiman kita dan memusnahkan Roh kita sendiri. Penyerahan total kita terhadap Allah, akan memungkinkan Allah untuk membersihkan kita. Dengan demikian kita akan siap mengambil bagian dalam kerajaan-Nya.

3. Bersungut-sungut merupakan ketidak percayaan kita .
Atas perintah Allah, Musa memilih 12 orang untuk menjadi pengintai dan pergi ke tanah Kanaan. Musa tidak mengirim pelayan-pelayan, melainkan pemimpin-pemimpin suku. Yosua dan Kaleb, memimpin mereka menyeberangi Sungai Yordan untuk melihat apakah tanahnya cukup subur dan seberapa sulit untuk ditaklukkan. Mereka kembali dengan buah anggur yang begitu besar sehingga diperlukan 2 orang untuk memikulnya. Mereka juga kembali dengan membawa 2 laporan yang berbeda. Kaleb memberi laporan dengan iman. Kaleb berkata : “Tidak! Kita akan maju dan menduduki negeri itu, sebab kita pasti akan mengalahkannya!" (Bil.13:30). Tetapi orang-orang yang pergi ke sana bersama-sama dengan Yosua dan Kaleb berkata lain ”… Juga mereka menyampaikan kepada orang Israel kabar busuk tentang negeri yang diintai mereka, dengan berkata: "Negeri yang telah kami lalui untuk diintai adalah suatu negeri yang memakan penduduknya, dan semua orang yang kami lihat di sana adalah orang-orang yang tinggi-tinggi perawakannya. Juga kami lihat di sana orang-orang raksasa, orang Enak yang berasal dari orang-orang raksasa, dan kami lihat diri kami seperti belalang, dan demikian juga mereka terhadap kami." (Bil.13:32-33).
Satu hal yang diketahui oleh Bangsa Israel adalah bersungut-sungut dan mereka melewatkan waktu sepanjang malam hanya untuk mengeluh. Keesokan harinya mereka menggerutu terhadap Musa dan Harun, bahkan mereka hendak membunuh dan memilih pemimpin yang baru dan kembali ke Mesir (Bil.14:4). Namun, tepat sebelum batu-batu dilemparkan ke arah Musa dan Harun, Allah menyatakan diri-Nya. “Tetapi tampaklah kemuliaan TUHAN di Kemah Pertemuan kepada semua orang Israel.TUHAN berfirman kepada Musa: "Berapa lama lagi bangsa ini menista Aku, dan berapa lama lagi mereka tidak mau percaya kepada-Ku, sekalipun sudah ada segala tanda mujizat yang Kulakukan di tengah-tengah mereka! Aku akan memukul mereka dengan penyakit sampar dan melenyapkan mereka, tetapi engkau akan Kubuat menjadi bangsa yang lebih besar dan lebih kuat dari pada mereka." (Bil.14:10-12). Allah menawarkan kepada Musa perjanjian yang sama seperti yang dibuat-Nya dengan Abraham ! Ini suatu kesempatan bagi Musa yang terbesar. Tetapi, apa yang dilakukan Musa ? Dia berdoa untuk orang-orang yang memberontak ! Musa berkata, “Ampunilah kiranya kesalahan bangsa ini sesuai dengan kebesaran kasih setia-Mu, seperti Engkau telah mengampuni bangsa ini mulai dari Mesir sampai ke mari." (Bil.14:19).
Allah menginginkan kita untuk belajar berdoa syafaat bagi orang lain, terutama pemimpin-pemimpin kita baik di dunia sekuler maupun di dunia rohani. Sebab, tidak ada suatu pemerintahan yang tidak berasal dari Allah (Rom 13:1). Bila kita bersungut-sungut, artinya kita menolak segala kehendak Allah. Bila kita memilih untuk mengeluh tentang orang yang menyakiti kita dan bukannya berdoa untuknya, akhirnya kita yang kalah. Bersungut-sungut adalah bukti ketidak percayaan kita pada kebesaran dan kemampuan Allah untuk mengerjakan segala sesuatu bagi kemuliaan-Nya dan terutama bagi kebaikan kita.

Saudara, lidah manusia adalah salah satu anggota tubuh yang paling kecil, tetapi lidah itu mempunyai kemampuan untuk menentukan seluruh arah hidup manusia. Lidah mampu menciptakan permusuhan antara sesama kita umat manusia, bahkan terhadap Allah bila melalui lidah mulut kita mengeluarkan sungut-sungut. Tetapi, lidah akan menjadi lidah yang penuh kuasa untuk merubah kebencian menjadi perdamaian, kutuk menjadi berkat, permusuhan menjadi persahabatan, bahkan lidah juga dapat mengubah arah dari seluruh bangsa, jika lidah kita dihiasi denga doa syafaat yang sungguh. Amin. (An).

PERJALANAN UMAT ALLAH

Keluaran 17:7
“…mereka telah mencobai TUHAN dengan mengatakan: "Adakah TUHAN di tengah-tengah kita atau tidak?"

Keluaran menceritakan dengan dahsyat kemuliaan Allah, yang membawa bangsa Israel ke luar dari Mesir dan memelihara orang Israel hingga menuju tanah Kanaan. Orang Israel adalah umat pilihan Allah, yang sangat dikasihi oleh Allah. Sebenarnya, tidak ada kewajiban bagi Tuhan untuk membebaskan orang Israel dari tanah Mesir. Orang Israel dibebaskan dari Mesir hanya karena anugerah Allah. Sesungguhnya, semua manusia karena dosa-dosanya, di mata Tuhan sudah terlihat sangat menjijikkan dan layak untuk dibuang! Jonathan Edwards mengilustrasikan manusia itu seperti laba-laba yang menjijikkan di tangan Tuhan, dan tangan Tuhan sedang berada di atas api yang menyala-nyala. Adalah sangat layak bagi Tuhan untuk membuang kita karena Tuhan sangat membenci dosa! Tetapi Allah (tidak tahu mengapa) memilih orang Israel sejak sebelum dunia dijadikan untuk menjadi umat yang tidak akan dibuang, bahkan dikasihi!

Ulangan 7:6-8
Sebab engkaulah umat yang kudus bagi TUHAN, Allahmu; engkaulah yang dipilih oleh TUHAN, Allahmu, dari segala bangsa di atas muka bumi untuk menjadi umat kesayangan-Nya. Bukan karena lebih banyak jumlahmu dari bangsa manapun juga, maka hati TUHAN terpikat olehmu dan memilih kamu–bukankah kamu ini yang paling kecil dari segala bangsa? — tetapi karena TUHAN mengasihi kamu dan memegang sumpah-Nya yang telah diikrarkan-Nya kepada nenek moyangmu, maka TUHAN telah membawa kamu keluar dengan tangan yang kuat dan menebus engkau dari rumah perbudakan, dari tangan Firaun, raja Mesir.

Betapa besarnya kemurahan Tuhan untuk umat pilihanNya! Israel bukan dipilih karena mereka bangsa yang besar, bukan karena mereka bangsa yang taat kepada Tuhan, bukan karena kebaikan mereka (tidak ada sesuatu yang baik dari bangsa Israel), tapi karena Tuhan mau memilih mereka! Jangan sombong hai umat pilihan Tuhan! Kita dipilih bukan karena perbuatan kita, bukan karena kebaikan kita, bukan karena kelebihan kita, tapi semata-mata hanya oleh anugerah Tuhan kita bisa menjadi umat kesayanganNya!

Orang Israel sudah dibebaskan oleh Allah dari perbudakan di Mesir. Ketika mereka baru keluar dari tanah Mesir, TUHAN langsung memimpin mereka melalui tiang awan dan tiang api. Tiang awan membuat orang Israel teduh ketika siang, dan tiang api memberi kehangatan dan menerangi jalan bagi orang Israel ketika malam. Siang malam TUHAN setia memimpin bangsa Israel. Ketika orang Mesir sudah berada di dekat orang Israel yang sedang berkemah di tepi Laut Teberau, tiang awan yang tadinya berada di depan orang Israel pindah ke belakang orang Israel, sehingga membuat mata orang Mesir kabur dan tidak bisa melihat orang Israel, sehingga bangsa Israel aman dari tangan orang Mesir yang sebenarnya sudah sangat dekat. Tuhan meniupkan angin semalam-malaman hingga Laut Teberau terbelah, sehingga orang Israel dapat berjalan di tengah laut. Betapa besar kemuliaan TUHAN! Ketika orang Israel sampai di seberang, TUHAN mencampakkan orang Mesir di tengah-tengah laut, hingga semuanya mati dan mayat mereka berserakkan di pantai. Betapa dahsyat hukuman TUHAN bagi orang berdosa dan betapa dahsyat pula kasih TUHAN kepada umat pilihanNya, yang seharusnya sama-sama binasa karena dosa.

Setelah sampai di seberang, umat pilihan Allah berjalan ke padang gurun Syur, menuju ke tanah Perjanjian. Di padang gurun Syur selama tiga hari, mereka tidak mendapat air. Kemudian mereka sampai ke Mara. Di Mara, air terasa pahit dan tidak dapat diminum. Belum lama setelah mereka melihat mujizat pembebasan yang begitu dahsyat dari TUHAN, orang Israel bersungut-sungut kepada Musa karena kekurangan air. Mereka bukan dengan rendah hati memohon berkat (air) dari TUHAN, tapi malah meragukan rencana TUHAN dan bersungut-sungut kepada Musa. TUHAN bermurah hati memberikan mereka air yang manis untuk diminum.

Mereka terus berjalan menuju tanah Kanaan, kemudian mereka sampai di Elim. Di Elim, TUHAN menyediakan dua belas mata air dan tujuh puluh pohon korma. Ketika orang Israel berlimpah berkat, tidak dicatat mereka mengucap syukur kepada TUHAN. Mereka menganggap bahwa berkat TUHAN itu layak untuk mereka terima! Celakalah kita yang menganggap bahwa segala kebaikan yang secara rutin kita terima itu layak kita dapatkan! Semua yang baik adalah berasal dari Allah! Kita masih hidup sekarang adalah hanya kemurahan Allah!

Dari Elim mereka berjalan ke padang gurun Sin. Di padang gurun Sin ini TUHAN kembali menunjukkan betapa besar kemurahanNya kepada bangsa Israel. Bangsa Israel bersungut-sungut karena makanan, dan TUHAN menyediakan dengan ajaib! Bangsa Israel diberikan manna oleh TUHAN setiap hari. TUHAN dengan setia memelihara umatNya, sampai mereka sampai batas tanah Perjanjian, selama 40 tahun. Sekali lagi, bangsa Israel bukan memohon dengan rendah hati kepada TUHAN, tetapi malah bersungut-sungut dan meragukan rencana dan janji TUHAN, bahwa mereka akan menuju tanah Perjanjian. Bangsa Israel menfokuskan diri kepada kesulitan mereka, bukan kepada pengharapan yang pasti diberikan oleh TUHAN, yaitu tanah Kanaan. Hendaklah kita juga jangan bersungut-sungut atas kesulitan-kesulitan yang kita alami sekarang, tapi hendaklah kita memandang tanah Perjanjian yang kekal, sorga, yang pasti diberikan oleh Allah. Masih kurangkah kita mendapat kemurahan Allah?

Adapun TUHAN memberikan peraturan dalam pengambilan manna, yaitu jangan disimpan sampai keesokan harinya. Tapi, beberapa dari bangsa Israel melanggar, sehingga manna itu berulat. Betapa tegar tengkuknya bangsa ini! Dan inilah yang biasa terjadi dengan kita, umat pilihan Allah yang sudah ditebus oleh darah Yesus Kristus! Kita seringkali kompromi dalam hidup kita! Tidak taat sedikit, tidak apa-apa. Inilah yang dibenci oleh TUHAN! Sampai kapan kita mau hidup kompromi terhadap dosa?

TUHAN juga memberikan peraturan, bahwa hari Sabat orang Israel tidak perlu untuk mengambil manna, karena hari itu disediakan TUHAN supaya orang Israel beristirahat dari jerih lelah mereka. Tetapi, betapa bodohnya manusia! Ketika kita diberi berkat untuk beristirahat dan menikmati berkat Tuhan, kita malah menyangka kita kekurangan berkat! Berkat tidak akan berkurang apabila kita tidak bekerja pada hari Sabat, justru kita akan mendapat berkat yang lebih bila kita taat kepada perintah Tuhan, karena perintahNya adalah untuk kebaikan kita.

Di padang gurun Sin, orang Israel berjalan dari satu tempat persinggahan ke tempat persinggahan lain. Kembali bangsa Israel melakukan kesalahan yang sama : bersungut-sungut! Tetapi yang lebih parah, mereka mempertanyakan keberadaan TUHAN : “Adakah TUHAN di tengah-tengah kita atau tidak?” Betapa jengkelnya TUHAN kepada bangsa Israel, karena TUHAN sendiri ADA di situ dan SEDANG menyertai mereka ketika mereka mempertanyakan keberadaanNya!

Apa yang dapat kita pelajari dari sebagian perjalanan bangsa Israel? Perjalanan bangsa Israel menggambarkan perjalanan hidup kita. Kita melihat, TUHAN mengizinkan bangsa Israel mengalami kehausan, untuk menguji iman mereka terhadap janji TUHAN (Keluaran 15:25). Hidup kita juga dipenuhi oleh dua jenis berkat TUHAN : berkat yang kelihatan dan berkat yang tidak kelihatan. Berkat yang tidak kelihatan adalah ujian. Ujian adalah PERLU bagi kita untuk meneguhkan iman kita. Apabila kita sedang mengalami kesusahan, hendaklah kita ingat bahwa Allah itu baik! Allah tidak ingin melihat kita bersusah, tetapi Allah LEBIH TIDAK INGIN kita menjadi anakNya yang manja! Allah mendidik umatNya melalui ujian, dan ujian itu mendatangkan kebaikan. Janganlah kita sampai meragukan kebaikan Tuhan dan bersungut-sungut kepadaNya! Berkat yang tidak kelihatan itu justru jauh lebih berharga dibanding berkat yang kelihatan. Ajaran teologi sukses membatasi berkat sebagai hanya yang kelihatan, sehingga iman mereka akan goncang ketika mereka menghadapi kesulitan. Kita harus ingat satu hal : Allah bekerja melalui cara yang tidak manusia pahami! Kesulitan dan tantangan yang kita hadapi, sama sekali tidak membuktikan bahwa Allah tidak baik! Tapi, ketika kita sudah melewati ujian itu, kita justru akan melihat, BETAPA ALLAH ITU BAIK! Tanpa ujian, kita tidak akan melihat kemuliaan dan kebaikan Allah! Hendaklah kita belajar dari perjalanan orang Israel, supaya kita jangan melakukan kesalahan yang sama seperti mereka, yaitu bersungut-sungut. Hendaklah kita belajar untuk menjadi teguh, kokoh, tidak goyah dalam pengharapan akan janji Allah, dan percaya bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan umatNya, walaupun angin yang keras dan awan yang gelap untuk sementara waktu menutupi kita sehingga kita tidak melihat wajahNya. Kita harus tetap dan selalu percaya : God is still and always be with us and do everything for our good!

Roma 5:2-5
Oleh Dia kita juga beroleh jalan masuk oleh iman kepada kasih karunia ini. Di dalam kasih karunia ini kita berdiri dan kita bermegah (bersukacita, terj. lain) dalam pengharapan akan menerima kemuliaan Allah. Dan bukan hanya itu saja. Kita malah bermegah (bersukacita, terj. lain) juga dalam kesengsaraan kita, karena kita tahu, bahwa kesengsaraan itu menimbulkan ketekunan, dan ketekunan menimbulkan tahan uji dan tahan uji menimbulkan pengharapan. Dan pengharapan tidak mengecewakan, karena kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita.

Apakah Allah pilih kasih?

300 magnify

Dalam sebuah percakapan dengan seorang teman, muncul pertanyaan mengenai sikap Allah yang memberikan status istimewa terhadap bangsa Israel sebagai umat pilihan Allah yang atasnya Allah berjanji, bahkan bersumpah (Ibrani 6:13), untuk memberkati bangsa itu. Tidakkah sikap tersebut memberi kesan seolah-olah Allah bersikap tidak adil / pilih kasih?
 
Ada sebuah prinsip yang harus dipahami dengan baik dan dijadikan landasan dalam membangun relasi / berinteraksi dengan Allah. Dengan memahami prinsip ini, kita dapat menempatkan diri kita dengan benar di hadapanNya. Sebaliknya, tanpa memahaminya, kita hanya akan menjadi orang kristen yang oportunis, yang dibahasakan oleh penulis Ibrani sebagai anak-anak gampang (Ibrani 12:8), yang menyalahgunakan kemurahan hati Allah dengan menyerap sebanyak-banyaknya kuasaNya untuk memenuhi keinginan pribadi.
 
Roma 9:1-21 menjawab dengan tuntas pertanyaan pada awal tulisan ini. Di sana tersirat hakekat Allah yang berdaulat atas semua ciptaanNya. Allah adalah Sang Pencipta, kita adalah mahluk ciptaan. Allah adalah Sang Penjunan, kita adalah tanah liat. Dikatakan: "Siapakah kamu, hai manusia, maka kamu membantah Allah? Dapatkah yang dibentuk berkata kepada yang membentuknya: "Mengapakah engkau membentuk aku demikian?" (ayat 20). "Sebab Ia berfirman kepada Musa: "Aku akan menaruh belas kasihan kepada siapa Aku mau menaruh belas kasihan dan Aku akan bermurah hati kepada siapa Aku mau bermurah hati". (ayat 15).
 
Jika kita menerima prinsip ini sebagai kebenaran, maka kita percaya bahwa segala sesuatu yang Tuhan ijinkan kita alami, baik itu pengalaman manis atau pahit, keberhasilan atau kegagalan, sukacita atau dukacita, kita akan menerimanya hati dengan bersyukur, karena semuanya itu mendatangkan kebaikan bagi kita (Roma 8:28).   
 

Pembawa Damai

Dari semua kenangan keluarga kami yang paling indah adalah perjalanan ke Tanah Suci. Bagi kami, kunjungan ke bagian dunia itu memberikan pengaruh bagi kehidupan kami. Tetapi sekarang, Tanah Suci ini merupakan tempat kerusuhan dan tidak terbuka bagi mereka yang ingin berkunjung ke sana untuk pemerkayaan rohani. Hampir di seluruh penjuru dunia terkena tindakan teror yang sebelumnya tak dikenal. Kebingungan melanda banyak orang yang berdoa demi kedamaian tetapi dihadapkan pada kekerasan.

Perdamaian vs Pertentangan

Masa-masa berbahaya di mana kita hidup sudah diramalkan dalam tulisan suci. Zaman kita sudah dinubuatkan sebagai satu dari "kebakaran, dan badai dan kabut asap di negeri-negeri asing; . . . peperangan dan desas-desus tentang perang, dan gempa bumi di berbagai tempat, . . . seluruh bumi akan berada dalam kegemparan; . . . kedurhakaan akan berlimpah-limpah."1

Nubuat itu menggema dalam catatan tulisan suci dari generasi kedua kehidupan manusia2 di atas bumi: "Dan pada masa itu Setan mempunyai kekuasaan besar atas manusia dan membuat hati mereka gusar; dan sejak itu terjadilah perang dan pertumpahan darah; dan tangan seorang melawan saudaranya sendiri dalam . . . mencari kekuasaan."3 Dari zaman Kain dan Habil,4 Esau dan Yakub,5 dan Yusuf yang dijual ke Mesir,6 api kebencian sudah dibakar oleh kebencian keluarga.

Kebencian antara saudara dan sesama sekarang sudah mengurangi kota-kota kudus menjadi tempat-tempat kesengsaraan. Apabila saya memikirkan keadaan yang tidak menguntungkan dari tempat-tempat demikian, saya teringat akan perumpamaan zaman kuno: "Pencemooh mengacaukan kota, tetapi orang bijak meredakan amarah."7

Petunjuk yang Mengandung Ajaran

Tulisan suci memberikan pengetahuan mengenai penyebab dan penyembuhan penyakit kebencian manusia: "Manusia duniawi adalah musuh Allah, dan sudah demikian sejak kejatuhan Adam, dan akan demikian, untuk selama-lamanya, kecuali ia menyerah kepada ajakan Roh Kudus, dan menanggalkan manusia duniawi dan menjadi seorang suci melalui Kurban Tebusan Kristus Tuhan."8

Damai akan menang hanya apabila kecenderungan alami itu digantikan oleh tekad untuk menjalani hidup yang lebih mulia. Datang kepada Yesus Kristus sebagai "Raja Damai"9 merupakan jalan menuju damai sejahtera di bumi dan di antara manusia.10 Dia berjanji kepada kita: "Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah."11

Yesus mengajar orang cara hidup bersama orang lain. Dia mengumumkan dua perintah besar: pertama, "mengasihi Tuhan Allahmu dengan segenap hatimu, dan dengan segenap jiwamu, dan dengan segenap akalmu,"12 dan kedua, "mengasihi sesamamu seperti dirimu sendiri."13

Lalu Dia menambahkan, "Kasihilah musuhmu, [dan] berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu."14

Dia mengajarkan Khotbah di Bukit: "Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka."15 Asas ini ditemukan dalam hampir semua agama. Yang lainnya seperti Konfusius dan Aristoteles juga mengajarkan hal ini.16 Lagipula, injil tidak dimulai dari kelahiran Yesus di Betlehem. Injil itu kekal adanya. Pada awalnya dinyatakan kepada Adam dan Hawa. Bagian-bagian injil disimpan dalam banyak budaya. Bahkan mitos sudah diperkaya dengan cuplikan kebenaran dari zaman yang lebih awal.

Di mana pun ditemukan dan bagaimana pun diungkapkan, Khotbah di Bukit berisikan kode moral kerajaan Allah. Hukum ini melarang keterlibatan seseorang terhadap hak orang lain. Dengan merata terikat antara bangsa, rekan dan individu. Dengan belas kasih dan kesabaran, hukum ini menggantikan keinginan membalas dendam "mata ganti mata dan gigi ganti gigi."17 Seandainya kita tetap berada di landasan yang keliru itu, kemungkinan kita akan buta dan ompong.18

Konsep memperlakukan sesama seperti seseorang ingin diperlakukan ini mudah dipahami. Dan konsep ini mengakui unsur alami yang berharga bahwa setiap orang adalah putra dan putri Allah.19 Tulisan suci meminta orang tua mengajar anak-anak agar tidak "berkelahi dan bertengkar satu sama lain, dan melayani iblis, yang merupakan tuan dari segala dosa." Melainkan, kita "mengajar untuk saling mengasihi dan melayani satu dengan yang lain."20

Yesus mengajarkan pentingnya rekonsiliasi dan memecahkan pertentangan pada hal-hal pribadi. Dia mengatakan: "Setiap orang yang marah terhadap saudaranya harus dihukum: . . .

"Sebab itu jika engkau mempersembahkan persembahanmu di atas mezbah dan engkau teringat akan sesuatu yang ada dalam hati saudaramu terhadap engkau;

Tinggalkanlah persembahanmu di depan mezbah itu dan pergilah berdamai dahulu dengan saudaramu, lalu kembali untuk mempersembahkan persembahanmu."21

Guru Besar mengajar kita untuk "ampunilah dahulu sekiranya ada barang sesuatu dalam hatimu terhadap seseorang, supaya juga Bapamu yang di surga mengampuni kesalahan-kesalahanmu.

"Tetapi jika kamu tidak mengampuni, maka Bapamu yang di surga juga tidak akan mengampuni kesalahan-kesalahanmu."22

Yesus mengatakan bahwa hari pengadilan akan tiba. Semua orang akan melaporkan kehidupan fana mereka dan cara mereka memperlakukan orang lain.23

Rumus Relationship

Banyak orang (mungkin termasuk diri kita sendiri) maseh ‘blur’ mengenai rumus apa sih yang diperlukan untuk membangun suatu hubungan yang nyaman dan sehat alias ‘good and healthy relationship’. So, mungkin rumusnya spt dibawah ini deh :

1. Pilih pasangan secara bijaksana.
Mungkin kita tertarik tidak hanya pada satu orang, bisa jadi pada banyak orang. Juga mungkin tidak hanya dengan satu alasan, bisa juga dengan banyak alasan, seperti orang tersebut mengingatkan kita pada kekasih kita di masa lampau, orang tersebut royal kepada kita atau mungkin juga orang tersebut dapat membuat kita merasa tersanjung. Tapi bukan berdasarkan alasan2 ini kita menilai calon pasangan kita. Seharusnya kita menilai berdasarkan, karakter, kepribadian, nilai2 yang mereka anut, hubungan mereka terhadap Tuhan, hubungan mereka terhadap keluarga dan lingkungan, dan yang paling penting konsistensi antara ucapan dan tindakan mereka.

2. Coba cari tau definisi mereka terhadap kata relationship.
Setiap orang mempunyai pengertian yang berbeda2 mengenai suatu hubungan atau relationship. Tentunya kamu tidak ingin terlibat dengan seseorang yang tidak menghargai atau tidak terlalu komit dalam suatu hubungan kan, sedangkan kamu sendiri sudah menginginkan committed relationship, not just ‘no future relationship’ ?

3. Jangan mencampur-aduk antara sex dan love.
Especially in the beginning of a relationship, attraction and pleasure in sex are often mistaken for love.

4. Know your needs and speak up for them clearly.
Relationship bukanlah suatu permainan tebak kata ataupun tebak pikiran. Sebagian besar perempuan sangat takut untuk mengemukakan pendapat dan keinginan mereka dengan alasan takut keilangan pasangannya. Dan yang diahsilkan dari ketakutan tersebut adalah kekecewaan atau perasaan tidak dipentingkan, tidak di dengar, tidak dihargai, dsb. Tidak didapatnya perasaan kedekatan dengan pasangan karena tidak adanya kejujuran. Ingat, pasangan bukanlah mind reader.

5. Pandang hubungan kamu dan pasangan sebagai suatu tim dalam artian kamu berdua adalah dua individu yang unik dimana masing2 kamu membawa kekuatan dan perspektif yang berbeda2.

6. Hargai dan kelola perbedaan dengan baik.
Dalam artian jangan hindari konflik, tapi hadapi dan belajar untuk menyelesaikan konflik dengan tidak menyakiti perasaan masing2 pihak.

7. Jika kamu tidak mengerti atopun tidak menyukai tindakan pasangan kamu, just say so and ask nicely, don’t assume.

8. Selesaikan masalah dengan segera.

9. Learn to negotiate.
Orang dan lingkungan berubah, begitupun keinginan dan harapan dari setiap orang akan ikut berubah. Suatu hubungan yang baik akan selalu menyesuaikan dengan perubahan yang ada karena pasangan2 yang terlibat di dalamnya akan selalu siap untuk mengkomunikasikan dan me-negosiasikan segala perubahan yang ada.

10. Benar-benar dengarkan kata2 dan curahan hati pasangan kamu, tanpa ingin menghakimi.
Kadang2 pasangan kita hanya ingin di dengar, kadang juga butuh empati dari kita. Cobalah untuk melihat dari perspektif pasangan kita, bukan dari perspektif kita sendiri.

11. Berusahalah untuk selalu dekat dengan pasangan.
Kedekatan dengan pasangan tidak datang begitu saja. Perlu banyak kerja keras dan proses yang panjang untuk menciptakan kedekatan dengan pasangan kita.

12. Review selalu hubungan kita dengan pasangan.
Check out your dreams with each other regularly to make sure you’re both on the same path. Update your dreams regularly.

13. Selalu berdandan untuk pasangan.

14. Jangan pergi tidur dalam keadaan marah.

15. Minta maaf dan memaafkan.

16. Perkaya hubungan kamu dengan hal2 baru (yang tentunya bermanfaat).

17. Selalu bekerja-sama dan saling berbagi tanggung jawab.

18. Kadang2 bersikap spontan itu diperlukan loh dalam suatu hubungan.

19. Hidup sehat.

20. Menyadari kalo hubungan itu pasti ada saat up and down.
Bekerja sama terutama dalam masa2 yang sulit akan membuat suatu hubungan menjadi lebih solid.

21. Don’t run away kalo kamu punya hubungan yang tidak baik, karena kamu hanya akan mengulanginya lagi di masa mendatang even dengan partner yang lain. Anggap hubungan ini sebagai ‘kaca’ dan lihat apakah dirimu juga contribute something di dalam hubungan yang ga perfect ini. Change yourself before u change your relationship.

22. Understand that love is not an absolute, not a limited commodity that you’re in of or out of.
It’s a feeling that ebbs and flows depending on how you treat each other. If you learn new ways to interact, the feelings can come flowing back, often stronger than before.

Sakit hati

Saat kalian disakiti oleh seseorang, apa yang kalian lakukan? Membalas atau mengampuni ? Jika membalas apakah akan selesai ? Karena itu terus menerus berkesinambungan sehingga hidup kita ga akan lebih bahagia. Mungkinkah mengampuni tanpa melupakan ? Aku rasa tidak akan bisa tuntas adanya. Jika mau selesai di hati, tiada jalan laen selaen mengampuni dan melupakan.. Saat itu kalo ada apapun, meski orang itu yang bersalah besar padamu, minta maaflah terlebih dahulu dan bila ada orang yang bertanya dan ngompor-ngomporin senyumm aja dan you’re life will full of smile…

Hendaklah kamu saling mengasihi sebagai saudara dan saling mendahului dalam memberi hormat - Roma 12:10