Apakah Allah pilih kasih?
Dalam sebuah percakapan dengan seorang teman, muncul pertanyaan mengenai sikap Allah yang memberikan status istimewa terhadap bangsa Israel sebagai umat pilihan Allah yang atasnya Allah berjanji, bahkan bersumpah (Ibrani 6:13), untuk memberkati bangsa itu. Tidakkah sikap tersebut memberi kesan seolah-olah Allah bersikap tidak adil / pilih kasih?
Ada sebuah prinsip yang harus dipahami dengan baik dan dijadikan landasan dalam membangun relasi / berinteraksi dengan Allah. Dengan memahami prinsip ini, kita dapat menempatkan diri kita dengan benar di hadapanNya. Sebaliknya, tanpa memahaminya, kita hanya akan menjadi orang kristen yang oportunis, yang dibahasakan oleh penulis Ibrani sebagai anak-anak gampang (Ibrani 12:8), yang menyalahgunakan kemurahan hati Allah dengan menyerap sebanyak-banyaknya kuasaNya untuk memenuhi keinginan pribadi.
Roma 9:1-21 menjawab dengan tuntas pertanyaan pada awal tulisan ini. Di sana tersirat hakekat Allah yang berdaulat atas semua ciptaanNya. Allah adalah Sang Pencipta, kita adalah mahluk ciptaan. Allah adalah Sang Penjunan, kita adalah tanah liat. Dikatakan: "Siapakah kamu, hai manusia, maka kamu membantah Allah? Dapatkah yang dibentuk berkata kepada yang membentuknya: "Mengapakah engkau membentuk aku demikian?" (ayat 20). "Sebab Ia berfirman kepada Musa: "Aku akan menaruh belas kasihan kepada siapa Aku mau menaruh belas kasihan dan Aku akan bermurah hati kepada siapa Aku mau bermurah hati". (ayat 15).
Jika kita menerima prinsip ini sebagai kebenaran, maka kita percaya bahwa segala sesuatu yang Tuhan ijinkan kita alami, baik itu pengalaman manis atau pahit, keberhasilan atau kegagalan, sukacita atau dukacita, kita akan menerimanya hati dengan bersyukur, karena semuanya itu mendatangkan kebaikan bagi kita (Roma 8:28).