Bersungut-sungut (Part 2)
Pada suatu kali bangsa itu bersungut-sungut di hadapan TUHAN tentang nasib buruk mereka, dan ketika TUHAN mendengarnya bangkitlah murka-Nya, kemudian menyalalah api TUHAN di antara mereka dan merajalela di tepi tempat perkemahan.” (Bilangan 11:1)
Bangsa Israel memiliki sejarah yang panjang mengenai bersungut-sungut. Alkitab dengan jelas menceritakan bagaimana kesengsaraan mereka yang diakibatkan hanya karena bersungut-sungut di dalam 5 kitab Musa dalam Perjanjian Lama. Bahkan, akibat bersungut-sungutlah maka sebagian besar Bangsa Israel gagal untuk masuk ke tanah Kanaan, tanah yang telah dijanjikan oleh Allah bagi mereka.
Kelihatannya, bersungut-sungut seperti dosa kecil saja yang tidak berarti. Bahkan, tidak sedikit orang memandang bersungut-sungut bukanlah DOSA. Tetapi Allah memandang lain akan hal sungut-sungut.
A. Mengapa Allah memandang sungut-sungut sebagai dosa ?
Sungut-sungut di dalam Bahasa Ibrani adalah Na’anan yang artinya memprotes dengan cara mengumpat atau mengeluarkan kata-kata kutuk. Di dalam bahasa Inggris tertulis “saying evil against the Lord”, artinya mengeluarkan kata-kata jahat untuk melawan atau menentang Allah.
Ada 3 hal yang menjadikan sungut-sungut sebagai suatu dosa, yaitu
1. Bersungut-sungut merupakan keluhan kedagingan
Di dalam Bilangan 11, secara jelas Alkitab memberi sebuah gambaran yang ringkas di mana Allah dan Musa harus bersabar diri ketika mencoba untuk memimpin Bangsa Israel keluar dari tanah Mesir ke tanah perjanjian. “Pada suatu kali bangsa itu bersungut-sungut di hadapan TUHAN …” (Bil.11:1). Bukan saja Musa yang mendengar sungut-sungut Bangsa Israel, tetapi Allah juga mendengar semua keluhan mereka.
Kita sering kali lupa, bahwa Allah selalu mendengar segala sesuatu yang kita pikirkan. Dia bahkan tahu segala sesuatu yang kita perlukan ! Seperti yang dikatakan oleh Daud : “Engkau mengetahui, kalau aku duduk atau berdiri, Engkau mengerti pikiranku dari jauh…Sebab sebelum lidahku mengeluarkan perkataan, sesungguhnya, semuanya telah Kauketahui, ya TUHAN.” (Mzm.139:2,4). Apa akar dari sungut-sungut Bangsa Israel ?
Bangsa Israel mulai menginginkan makanan lain daripada yang telah Allah sediakan. Mereka meratap, “Siapakah yang akan memberi kita makan daging? Kita teringat kepada ikan yang kita makan di Mesir dengan tidak bayar apa-apa, kepada mentimun dan semangka, bawang prei, bawang merah dan bawang putih. Tetapi sekarang kita kurus kering, tidak ada sesuatu apa pun, kecuali manna ini saja yang kita lihat." (Bil.11:4-6). Akar dari sungut-sungut Bangsa Israel adalah kedagingan mereka. Bangsa Israel lupa bahwa mereka tidak pantas mendapat apa-apa ! Allah sudah memberi mereka roti sugawi (=manna) dan mereka tidak perlu bekerja untuk mendapatkannya. Bangsa Israel mendapatkanya dengan cuma-cuma. Yang harus mereka kerjakan hanyalah pergi dan mengambil roti surgawi (=manna) itu. Tetapi tangapan Bangsa Israel yang tidak bersyukur adalah, “Apa ? Manna lagi…Manna lagi ?”
Bangsa Israel bersungut-sungut tentang Manna dan meminta daging. Allah memberitahu mereka, Dia akan memberi mereka daging untuk dimakan. “Bukan hanya satu hari kamu akan memakannya, bukan dua hari, bukan lima hari, bukan sepuluh hari, bukan dua puluh hari, tetapi genap sebulan lamanya, sampai keluar dari dalam hidungmu dan sampai kamu muak — karena kamu telah menolak TUHAN yang ada di tengah-tengah kamu dan menangis di hadapan-Nya dengan berkata: Untuk apakah kita keluar dari Mesir ?" (Bil.11:19-20).
Allah mengetahui hati mereka, tahu bahwa hati Bangsa Israel menolak-Nya untuk kesenangan mereka sendiri. Sehingga Dia memberikan kepada Bangsa Israel keingian apa yang menurut pemikiran mereka. Kemudian Allah mengirim angin yang membawa burung-burung puyuh dari sebelah laut dan burung-burung itu menutupi tempat perkemahan dan sekelilingnya. Kira-kira tiga kaki tingginya dari atas muka bumi. Mungkin bagi Bangsa Israel itu adalah jawaban doa dari sungut-sungut mereka !
“Lalu sepanjang hari dan sepanjang malam itu dan sepanjang hari esoknya bangkitlah bangsa itu mengumpulkan burung-burung puyuh itu — setiap orang sedikit-dikitnya mengumpulkan sepuluh homer –, kemudian mereka menyebarkannya lebar-lebar sekeliling tempat perkemahan” (Bil.11:32). Lalu Bangsa Israel dengan rakusnya mengumpulkan burung-burung puyuh tersebut masing-masing 10 homer. Satu Homer sama dengan 11 gantang, jadi setiap orang paling sedikit mengumpulkan 110 gantang untuk diri mereka sendiri. Lalu Firman Tuhan menulis dalam Bil.11:33-34, ”Selagi daging itu ada di mulut mereka, sebelum dikunyah, maka bangkitlah murka TUHAN terhadap bangsa itu dan TUHAN memukul bangsa itu dengan suatu tulah yang sangat besar. Sebab itu dinamailah tempat itu Kibrot-Taawa, karena di sanalah dikuburkan orang-orang yang bernafsu rakus”. Nama Kibrot-Taawa, sebenarnya memiliki arti “Kuburan Kerakusan”. Allah memberi jawaban atas sungut-sungut mereka dengan melimpah ruah, dan Bangsa Israel menambah kerugian. Tidak ada pujian, tidak ada ucapan syukur, tidak ada kepercayaan dan tidak ada iman. Yang ada hanyalah kerakusan. Banyak Bangsa Israel yang meninggal dalam wabah tersebut.
Saudara, apakah kita mengalami hal yang sama dengan Bangsa Israel ? Kita merasa gelisah di dalam iman kita karena belum melihat adanya jawaban-jawaban doa? Apakah kita lalu mengomel kepada Allah, karena kita sudah percaya karena tidak merasakan penyertaan Allah dalam hidup kita ? Apakah kita tidak mengucap syukur atas apa yang telah Allah berikan atas kita ? jangan kita biarkan kedagingan kita menang atas roh kita, yang akan membawa kita pada kematian iman, bahkan penolakkan akan Allah.
2. Bersungut-sungut merupakan keluhan iri hati.
Kitab Bilangan menjelaskan kepada kita, bila kita membiarkan sungut-sungut itu dalam hidup kita, maka kelak sungut-sungut itu akan menjadi sebuah bom waktu dalam hidup kita. Bilangan 12:1 menuliskan, “Miryam serta Harun mengatai Musa berkenaan dengan perempuan Kush yang diambilnya, …”. Tampaknya, Harun dan Miryam bersungut-sungut kepada Musa, karena Musa mengambil gadis Kusy sebagai istrinya dan bukan gadis Yahudi. Tetapi, kita tahu, Musa adalah orang yang berhadapan dengan Allah dan Allah memberi ijin Musa untuk menikahi gadis Kusy tersebut. Sebenarnya, dengan sungut-sungut itu, Harun dan Miyam sedang menghakimi Musa. Tetapi dibalik sungut-sungut mereka terselip sesuatu iri hati terhadap Musa. “Kata mereka: "Sungguhkah TUHAN berfir-man dengan perantaraan Musa saja? Bukankah dengan perantaraan kita juga Ia berfirman?” (Bil.12:2). Sungut-sungut Harun dan Miryam didasari atas lapar akan keakuan!
Sifat keakuan atau egoisme, muncul dari suatu rasa ketidakpuasan. Hal ini timbul karena rasa iri hati. Didalam pelayanan Tuhan Yesus, Ia harus pula menghadapi rasa iri diantara murid-murid-Nya. Yesus harus mengatasi masalah ini sebelum Ia disalib.
Yesus sudah mengatakan kepada 12 murid-Nya, bahwa Ia akan mati, dan apakah murid-murid-Nya berduka cita? Tidak. Seminggu sebelumnya, para murid dari Tuhan Yesus melihat Dia dielu-elukan sebagai raja ketika Ia memasuki kota Yerusalem dan para murid-Nya mulai berdebat, siapakah diantara mereka yang akan menjabat posisi terbesar di dalam kerajaan-Nya ! (Luk.22:24). Tetapi Yesus justru mengambil handuk dan seember air, dan membasuh kaki murid-murid-Nya seperti seorang pelayan biasa. Kemudian Yesus berkata "Mengertikah kamu apa yang telah Kuperbuat kepadamu? Kamu menyebut Aku Guru dan Tuhan, dan katamu itu tepat, sebab memang Akulah Guru dan Tuhan. Jadi jikalau Aku membasuh kakimu, Aku yang adalah Tuhan dan Gurumu, maka kamu pun wajib saling membasuh kakimu” (Yoh.13:12-14).
Saudara, apakah kita pernah mengeluh karena tidak ada seorang pun yan mengenali talenta kita? Apakah kita bersungut-sungut dengan melontarkan kritik atas pemimpin rohani kita? Apakah kita bersungut-sungut ketika pemimpin rohani kita mendapat perhatian dan pujian ?
Sungut-sungut yang penuh iri hati seperti kanker yang merusak, ibarat bom waktu yang akan meledak pada waktunya. Allah membiarkan Miryam dan Harun merasakan akibat dari sungut-sungut mereka terhadap Musa. Dalam murka-Nya, Allah mendatangkan penyakit kusta pada Miryam. Penyakit “kanker” pada masa itu (Bil.12:10). Meskipun Allah menyembuhkan penyakit kusta tersebut, namun Miryam dan Harun dilarang memasuki tanah perjanjian (Bil.20:24).
Bilamana kita pernah bersungut-sungut karena tidak ada orang yang mengenali talenta kita, serahkanlah keakuan kita pada Allah sebelum hal itu menjadi sebuah kanker yang akan merusak nantinya, yang menekan saudara-saudara seiman kita dan memusnahkan Roh kita sendiri. Penyerahan total kita terhadap Allah, akan memungkinkan Allah untuk membersihkan kita. Dengan demikian kita akan siap mengambil bagian dalam kerajaan-Nya.
3. Bersungut-sungut merupakan ketidak percayaan kita .
Atas perintah Allah, Musa memilih 12 orang untuk menjadi pengintai dan pergi ke tanah Kanaan. Musa tidak mengirim pelayan-pelayan, melainkan pemimpin-pemimpin suku. Yosua dan Kaleb, memimpin mereka menyeberangi Sungai Yordan untuk melihat apakah tanahnya cukup subur dan seberapa sulit untuk ditaklukkan. Mereka kembali dengan buah anggur yang begitu besar sehingga diperlukan 2 orang untuk memikulnya. Mereka juga kembali dengan membawa 2 laporan yang berbeda. Kaleb memberi laporan dengan iman. Kaleb berkata : “Tidak! Kita akan maju dan menduduki negeri itu, sebab kita pasti akan mengalahkannya!" (Bil.13:30). Tetapi orang-orang yang pergi ke sana bersama-sama dengan Yosua dan Kaleb berkata lain ”… Juga mereka menyampaikan kepada orang Israel kabar busuk tentang negeri yang diintai mereka, dengan berkata: "Negeri yang telah kami lalui untuk diintai adalah suatu negeri yang memakan penduduknya, dan semua orang yang kami lihat di sana adalah orang-orang yang tinggi-tinggi perawakannya. Juga kami lihat di sana orang-orang raksasa, orang Enak yang berasal dari orang-orang raksasa, dan kami lihat diri kami seperti belalang, dan demikian juga mereka terhadap kami." (Bil.13:32-33).
Satu hal yang diketahui oleh Bangsa Israel adalah bersungut-sungut dan mereka melewatkan waktu sepanjang malam hanya untuk mengeluh. Keesokan harinya mereka menggerutu terhadap Musa dan Harun, bahkan mereka hendak membunuh dan memilih pemimpin yang baru dan kembali ke Mesir (Bil.14:4). Namun, tepat sebelum batu-batu dilemparkan ke arah Musa dan Harun, Allah menyatakan diri-Nya. “Tetapi tampaklah kemuliaan TUHAN di Kemah Pertemuan kepada semua orang Israel.TUHAN berfirman kepada Musa: "Berapa lama lagi bangsa ini menista Aku, dan berapa lama lagi mereka tidak mau percaya kepada-Ku, sekalipun sudah ada segala tanda mujizat yang Kulakukan di tengah-tengah mereka! Aku akan memukul mereka dengan penyakit sampar dan melenyapkan mereka, tetapi engkau akan Kubuat menjadi bangsa yang lebih besar dan lebih kuat dari pada mereka." (Bil.14:10-12). Allah menawarkan kepada Musa perjanjian yang sama seperti yang dibuat-Nya dengan Abraham ! Ini suatu kesempatan bagi Musa yang terbesar. Tetapi, apa yang dilakukan Musa ? Dia berdoa untuk orang-orang yang memberontak ! Musa berkata, “Ampunilah kiranya kesalahan bangsa ini sesuai dengan kebesaran kasih setia-Mu, seperti Engkau telah mengampuni bangsa ini mulai dari Mesir sampai ke mari." (Bil.14:19).
Allah menginginkan kita untuk belajar berdoa syafaat bagi orang lain, terutama pemimpin-pemimpin kita baik di dunia sekuler maupun di dunia rohani. Sebab, tidak ada suatu pemerintahan yang tidak berasal dari Allah (Rom 13:1). Bila kita bersungut-sungut, artinya kita menolak segala kehendak Allah. Bila kita memilih untuk mengeluh tentang orang yang menyakiti kita dan bukannya berdoa untuknya, akhirnya kita yang kalah. Bersungut-sungut adalah bukti ketidak percayaan kita pada kebesaran dan kemampuan Allah untuk mengerjakan segala sesuatu bagi kemuliaan-Nya dan terutama bagi kebaikan kita.
Saudara, lidah manusia adalah salah satu anggota tubuh yang paling kecil, tetapi lidah itu mempunyai kemampuan untuk menentukan seluruh arah hidup manusia. Lidah mampu menciptakan permusuhan antara sesama kita umat manusia, bahkan terhadap Allah bila melalui lidah mulut kita mengeluarkan sungut-sungut. Tetapi, lidah akan menjadi lidah yang penuh kuasa untuk merubah kebencian menjadi perdamaian, kutuk menjadi berkat, permusuhan menjadi persahabatan, bahkan lidah juga dapat mengubah arah dari seluruh bangsa, jika lidah kita dihiasi denga doa syafaat yang sungguh. Amin. (An).