Padang Gurun
Tuntunan Tuhan hari-hari ini adalah untuk kita menjadi serupa dengan gambaran Allah. Bagaimana prosesnya? Melalui Padang gurun.
Padang gurun memang berbicara sesuatu/ perjalanan yang tidak enak, akan tetapi kita harus kuat melewatinya. Seperti halnya bangsa Israel pada waktu keluar dari Mesir mereka melalui padang gurun, kita pun anak-anakNya pasti melalui padang gurun. Sebab tidak ada jalan lain, jalur Mesir - Tanah perjanjian semuanya merupakan padang gurun.
Sebelum kita mempelajari arti rohani dari padang gurun, kita akan melihat perjalanan bangsa Israel di padang gurun.
1. Keluar dari Mesir
Sebelum memasuki padang gurun bangsa Israel mendapatkan berkat yang luar biasa, pada saat keluar dari Mesir mereka mendapatkan:
- Keselamatan : Kel 12:13 “Dan darah itu menjadi tanda bagimu pada rumah-rumah di mana kamu tinggal: Apabila Aku melihat darah itu, maka Aku akan lewat dari pada kamu. Jadi tidak akan ada tulah kemusnahan di tengah-tengah kamu, apabila Aku menghukum tanah Mesir.”
- Berkat : Kel 12:35-36 “Orang Israel melakukan juga seperti kata Musa; mereka meminta dari orang Mesir barang-barang emas dan perak serta kain-kain. Dan TUHAN membuat orang Mesir bermurah hati terhadap bangsa itu, sehingga memenuhi permintaan mereka. Demikianlah mereka merampasi orang Mesir itu.”
- Mujizat : Kel 13:18-14:31 menceritakan bagaimana Tangan Tuhan meluputkan bangsa Israel dari kejaran pasukan Mesir dengan cara yang ajaib, Tuhan membelah laut Merah dan bangsa Israel berjalan melaluinya. Sungguh mujizat luar biasa yang Tuhan lakukan untuk bangsa Israel
Arti rohani, Sewaktu kita mengambil keputusan untuk sungguh-sungguh mengikut Tuhan dan keluar dari Mesir (Dosa), kita akan merasakan penyertaan dan pertolongan Tuhan dalam kehidupan kita. Pada saat Saudara dan saya baru bertobat, kita mengalami apa yang namanya hidup di suatu keadaan yang penuh dengan suka cita, damai sejahtera dan suatu keadaan dimana Allah nyata. Sukacita, Berkat, Mujizat, hingga jawaban doa begitu nyata dalam kehidupan anak-anak Tuhan yang baru bertobat.
Akan tetapi apa yang terjadi setelah beberapa waktu berlalu? Padang Gurun! Seperti halnya bangsa Israel kita pun akan memasuki padang gurun…
2. Padang Gurun
Padang Gurun dalam bahasa aslinya adalah midbar (Ibrani) yang asal katanya adalah dabar (= berbicara, berbincang-bincang, ber-komunikasi atau memberi tahu).
Jadi padang gurun mengandung arti: Padang belantara (wilderness), Padang gurun (Desert) dan berbicara (to Speech). Padang Gurun memiliki arti sesuatu yang tidak enak akan tetapi disana juga tempat Tuhan berbicara.
Kehidupan didalam Tuhan tidaklah seperti di dunia dongeng yang segala sesuatunya serba indah, selalu diberkati, selalu manis atau kita akan mendapat jalan yang lurus. Mengikut Tuhan kita akan diperhadapkan dengan ujian, agar anak-anak-Nya menjadi “dewasa.” Padang gurun merupakan ujian. Seperti seorang murid tidak akan mengalami kelulusan jika tidak melalui sebuah ujian. Tuhan akan banyak berbicara di padang gurun.
Ada banyak tempat yang dilalui bangsa Israel di Padang Gurun:
Mara di padang gurun Elim, Air pahit
Inilah padang gurun pertama setelah bangsa Israel menyeberangi Laut Teberau. Di sinilah Bangsa Israel bersungut-sungut dan bertanya “Apakah yang akan kami minum?” (Kel 15:24) Mereka bertanya tentang hal ini, karena mereka tidak dapat meminum air yang terdapat di Mara, karena pahit rasanya. Mara adalah tempat ujian pertama yang harus mereka hadapi, yang sebenarnya Tuhan hendak berbicara kepada bangsa Israel untuk mengajarkan mereka untuk melepaskan kepahitan (Ibr. Mar= pahit/ kepahitan).
Arti rohani, Jika kita merasa orang di sekitar kita berlaku pahit, atau saat keadaan terasa segalanya pahit LUPAKAN ITU! Kita sedang berada di Mara. Melupakan/mengampuni kepahitan terhadap seseorang tidaklah mudah, akan tetapi sangat penting untuk dilakukan. Sebab itu menentukan respon Tuhan untuk mengampuni kita. “Tetapi jikalau kamu tidak mengampuni orang, Bapamu juga tidak akan mengampuni kesalahanmu.” (Mat 6:15)
Padang gurun Sin, Tidak ada makanan
Bangsa ini lebih menyukai makanan daripada kebebasan, malah daripada kehidupannya sendiri. Mereka menggerutu “Apa yang akan kami makan?” Di sini Tuhan hendak mengajarkan bahwa hidup itu bukan hanya dari makanan saja, tetapi makanan rohani yaitu Firman Tuhan juga perlu. “Ada tertulis: Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah.” (Mat 4:4) Tuhan mengirimkan dari langit hujan roti. ‘Roti dari langit’ ini dinamakan manna. Manna menjadi makanan khusus yang secara ajaib dikirim setiap hari (kecuali hari sabath) dari Allah untuk bangsa Israel setelah keluar dari Mesir.
Arti rohani, di padang gurun Tuhan mengajarkan kita untuk hidup dalam Firman Tuhan dan belajar untuk mematikan kedagingan kita. Tuhan Yesus sendiri tiga kali dicobai iblis di padang gurun dan salah satunya adalah pencobaan mengenai makanan (Mat 4:2-4).
Rafidim, Tidak ada air
Berjalan di padang gurun tanpa air adalah sesuatu yang mustahil, oleh sebab itu di Rafidim bangsa Israel kembali bersungut-sungut. Di Rafidim sebenarnya Tuhan hendak mengajarkan kepada bangsa Israel agar bergantung dan beriman hanya kepadaNya, mintalah air, sebab Tuhan pasti memberikan-nya. Tapi apa yang mereka katakan “Adakah Tuhan di tengah-tengah kita atau tidak?” Respon mereka kembali buruk, yaitu bersungut-sungut dan mencobai Tuhan bahkan mereka bertengkar dengan Musa.
Sebenarnya di padang gurun sekalipun Tuhan sanggup memelihara umatNya tanpa sumber mata air. Tuhan sanggup mengeluar-kan air dari batu cadas sekalipun, dan itulah yang Tuhan lakukan di Refidim, air keluar dari gunung batu.
Oleh sebab itu setelah Tuhan memberikan air kepada bangsa Israel, di tempat yang sama – Rafidim – Tuhan menyuruh mereka berperang melawan bangsa Amalek dengan cara yang ajaib. (= Amalek adalah cabang bangsa Edom, keturunan Esau. Mereka adalah bangsa pengembara dan sangat memusuhi Israel), yaitu bilamana Musa mengangkat tangannya maka lebih kuatlah bangsa Israel tetapi jika Musa menurunkan tangannya maka lebih kuatlah bangsa Amalek.
Dengan demikian Tuhan berbicara kepada bangsa Israel bahwa dengan mengangkat tangannya Musa/ bangsa Israel menunjukkan ketergantungan dan imannya kepada Tuhan, dan disitu ada kemenangan, berkat, perlindungan, kasih karunia dan kehidupan.
Arti rohani, sudahkan Saudara dan saya bergantung dan beriman kepada Tuhan SEPENUHNYA?
Padang gurun Sinai, tidak ada pemimpin/ tuntunan (kel 32)
Saat Musa menghadap Tuhan di gunung Sinai untuk waktu yang cukup lama, bangsa Israel mulai resah. Mereka mulai berfikiran negatif bahwa Musa dan Tuhan telah meninggalkan mereka, sehingga mereka mengangkat pemimpin baru dengan membuat tuhan baru (patung anak lembu emas) dan menyamakan patung tersebut dengan Allah.
Luar biasa jahatnya bangsa ini, baru saja melihat segala keperkasaan dan perbuatan Tuhan yang mereka sembah tapi dalam satu kejadian mereka berbalik kepada allah lain yang jelas-jelas tidak dapat berbuat apa-apa (sebab ia adalah patung).
Sebenarnya di gunung Sinai Tuhan hendak berbicara banyak kepada bangsa ini tentang ketetapan-ketetapan dan hukum bagi mereka melalui Musa. Disinilah Tuhan memberikan ke sepuluh hukum Tuhan dalam loh batu. Namun mereka tidak sabar menantikan Musa yang sedang berbicara dengan Tuhan lalu beralih kepada allah lain.
Arti rohani, inilah saat terpenting bagi kita saat memasuki padang gurun, yaitu menantikan dan mendengarkan Tuhan berbicara. Jangan lekas kecewa jika ternyata kita tidak juga mendengar Tuhan berbicara, nantikan sajasambil terus mencari wajahNya, merenungkan FirmanNya dan bersekutu dengan saudara-saudara seiman. Jangan beralih kepada “allah lain” pada waktu seolah-olah Tuhan meninggalkan kita sebab Allah kita sembah jauuuuuh terlalu berharga untuk digantikan dengan allah dunia ini. Ia tidak pernah meninggalkan Saudara dan saya, PERCAYALAH!
Padang gurun Paran
- Tabera – menyesali nasib. bangsa Israel bersungut-sungut dan berkeluh kesah terhadap apa yang mereka alami, mereka benar-benar merasa kekurangan, tidak menyenangkan, bernasib buruk dan bosan hidup di padang gurun.
Arti rohani, masa padang gurun yang kita alami mungkin berupa hal-hal yang membuat kita kekurangan, usaha bangkrut, di PHK, terlilit hutang, kekurangan uang dll., Tapi di sini Tuhan hendak berbicara bahwa kita sebagai anak-anakNya jangan pernah berhenti bersyukur, mungkin kita berkekurangan akan tetapi dibandin dengan pengorbanan Kristus di kayu salib dan keselamatan yang telah kita terima itu tidak berarti apa-apa. Dia lah Allah yang akan mencukupi dan pemberi jalan keluar di setiap kesulitan yang kita hadapi.
- Kibrot-Taawa – menginginkan makan daging. Sebenarnya yang menginginkan makan daging (salah satu kebiasaan mereka di mesir) adalah orang bukan Israel yang ikut di dalam rombongan, mereka mempengaruhi bangsa Israel untuk memberontak kepada Allah dan menginginkan kesenangan yang ada di Mesir.
Arti rohani, Hati-hati terhadap lingkungan dimana kita berada, hati-hati dengan orang-orang “penyusup” yang iblis gunakan untuk membawa kita kepada pemberontakan terhadap Allah. Masa padang gurun keadaan kita akan lemah, oleh sebab itu akan sangat mudah untuk para “penyusup” mempengaruhi kita dan mulai mengajak lagi kepada kesenangan Mesir (DOSA) yang seharusnya kita lupakan.
- Hazerot – pemberontakan terhadap pemimpin.
- Kadesy – ketidak percayaan terhadap janji Allah. Awalnya di mulai dengan ketakutan dan tidak adanya kepercayaan pada waktu para pengintai kembali dari Kanaan. Bangsa Israel melihat bahwa bangsa Kanaan begitu besar, kuat dan tak terkalahkan sehingga mereka menginginkan pemimpin baru untuk menuntun mereka kembai ke mesir.
Padahal Tuhan sudah berkata: “Kepadamu dan kepada keturunanmu akan Kuberikan negeri ini yang kaudiami sebagai orang asing, yakni seluruh tanah Kanaan akan Kuberikan menjadi milikmu untuk selama-lamanya; dan Aku akan menjadi Allah mereka.” (Kej 17:8)
Arti rohani, banyak kejadian di padang gurun Paran.
Jangan bersungut-sungut
Perbedaan sebagian besar bangsa Israel dengan Musa dalam menghadapi padang gurun adalah:
Sebagian besar bangsa Israel: Bersunggut-sungut kepada Tuhan.
Musa: Berseru-seru kepada Tuhan.
Dan semakin bangsa Israel bersungut-sungut semakin lama mereka berada di padang gurun. Sebenarnya jarak dari Mesir/ Gosyen ke tanah perjanjian hanya berjarak sekitar 2 minggu perjalanan, akan tetapi bangsa Israel berada di padang gurun untuk jangka waktu 40 tahun. Mengapa? Karena respon mereka yang negatif terhadap padang gurun (ujian) yang mereka alami. Bahkan tragisnya lagi bahwa hanya sedikit dari mereka yang mencapai tanah perjanjian, selebihnya – yaitu sebagian besar – mati di padang gurun.
Gosyen
Beberapa kali bangsa Israel rindu kembali ke Mesir, walaupun pada waktu disana mereka berseru-seru untuk keluar (Kel 2:23). Mereka masih mengingat-ingat Mesir sebagi tempat yang jauh lebih menyenangkan dari pada berada di padang gurun. Banyak hal yang mereka dapatkan di Mesir/ Gosyen, seperti:
Mendapat tanah untuk tempat tinggal (Kel 14:11)
Mendapat pekerjaan (Kel 14:12)
Mendapat roti dan daging (Kel 16:3)
Mendapat banyak air (Kel 17:3)
Mendapat Ikan secara gratis, sayur-mayur dan buah-biahan (Bil 11:5)
Tidak usah berperang (Bil 14:2-3)
Arti rohani, terkadang kita anak-anak Tuhan rindu dengan kehidupan lama pada waktu hidup dalam dosa, sebab segalanya terlihat indah, menyenangkan dan bebas melakukan apa saja. Sehingga pada saat menghadapi padang gurun yang akan membawa kita kepada kedewasaan kita akan lebih memilih kembali ke “Mesir” seperti yang Tuhan ingatkan di II Pet 2:20 “Sebab jika mereka, oleh pengenalan mereka akan Tuhan dan Juruselamat kita, Yesus Kristus, telah melepaskan diri dari kecemaran-kecemaran dunia, tetapi terlibat lagi di dalamnya, maka akhirnya keadaan mereka lebih buruk dari pada yang semula.”
Tapi biarlah Saudara dan saya dengan tekun menghadapi setiap padang gurun sambil terus berharap kepada Tuhan, sebab di padang gurun tersebut ada rencana Tuhan bagi kita, seperti:
1. Tuhan hendak berbicara kepada kita
2. Tuhan hendak mengajarkan kita beperang untuk memperoleh semua janji Tuhan dan berkat-berkatnya
3. Tuhan hendak mengikis kehidupan “Mesir” kita
4. Tuhan hendak mengajarkan agar kita bergantung pada Tuhan.
Pemeliharaan Tuhan
Bangsa Israel tidak mungkin bertahan hidup di padang gurun tanpa pemeliharaan Allah secara ajaib. Tapi jangan takut seperti Tuhan memelihara bangsa Israel selama di padang gurun demikian juga kita harus percaya penyertaan Tuhan selama di padang gurun.
“Empat puluh tahun lamanya Aku memimpin kamu berjalan melalui padang gurun; pakaianmu tidak menjadi rusak di tubuhmu, dan kasutmu tidak menjadi rusak di kakimu” (Ul 29:5) Amin (Vic.).
April 1st, 2009 at 8:22 am
“Seorang nabi akan Kubangkitkan bagi mereka dari antara saudara mereka, seperti engkau ini; Aku akan menaruh firman-Ku dalam mulutnya, dan ia akan mengatakan kepada mereka segala yang Kuperintahkan kepadanya.”
Jika firman diatas tidak tertuju kepada Muhammad, maka firman itu tetap masih berlum terpenuhi. Yesus sendiri tidak pernah mengklaim sebagai nabi yang dimaksud. Bahkan murid-muridnya pun berpendapat sama. Mereka mengharapkan kedatangan Yesus yang kedua untuk memenuhi nubuat [2].
Sejauh ini tidak ada perselisihan bahwa kedatangan Yesus yang pertama bukanlah kelahiran “nabi seperti engkau”, dan kelahirannya yang kedua hampir tidak dapat memenuhi nubuat itu.
Yesus, sebagaimana diyakini oleh gerejanya, akan muncul sebagai �Hakim� dan bukan sebagai �Pemberi Hukuman�. Tetapi, orang yang dijanjikan haruslah membawa “api (hukum) yang menyala” ditangannya.
Namun, dalam memastikan personalitas dari nabi yang dijanjikan, nubuat yang lain dari Musa sangatlah menolong yang berkata tentang sinar Tuhan dari Paran, pegunungan Mekah. Firman dalam naskah kitab King James Version Ulangan 33:2, berbunyi sebagai berikut:
“Berkatalah ia: “Tuhan datang dari Sinai dan terbit kepada mereka dari Seir; Ia tampak bersinar dari pegunungan Paran dan datang dengan sepuluh ribu orang kudus; di sebelah kanannya tampak kepada mereka api yang menyala.�
Dalam firman ini, Tuhan diibaratkan dengan matahari. Dan Yesus sama sekali tidak pernah ke Paran. Yang ada hubungannya dengan Paran adalah Hajar dan anaknya yang bernama Ismail, berkeluyuran di padang gurun Bersyeba, yang kemudian menetap dipadang gurun Paran.
“Maka tinggallah ia di padang gurun Paran, dan ibunya mengambil seorang isteri baginya dari tanah Mesir”.(Kejadian 21:21)
Ismail menikahi seorang wanita Mesir, dan dari kelahiran pertamanya, Kedar, memberikan keturunan kepada bangsa Arab yang dari sejak itu sampai sekarang menjadi penghuni padang gurun Paran. Dan jika tidak dapat disangkal lagi, bahwa silsilah keturunan Muhammad merujuk kepada Ismail melalui Kedar dan ia tampil sebagai seorang nabi di padang gurun Paran dan menaklukkan Mekah dengan 10.000 pasukan dan menegakkan api (hukum) yang menyala kepada kaumnya, maka bukankah nubuat tesebut terpenuhi sesuai bunyinya?
Bunyi nubuat dari Habakuk 3:3 sangat perlu diperhatikan. “Keagungannya menutupi segenap langit, dan bumipun penuh dengan pujian kepadanya.”
Mengenai padang gurun Paran juga telah diwahyukan :
“Baiklah padang gurun menyaringkan suara dengan kota-kotanya dan dengan desa-desa yang didiami Kedar! Baiklah bersorak-sorai penduduk Bukit Batu, baiklah mereka berseru-seru dari puncak gunung-gunung! Baiklah mereka memberi penghormatan kepada Tuhan dan memberitakan pujian yang kepadanya di pulau-pulau. Tuhan keluar berperang seperti pahlawan, seperti orang perang Ia membangkitkan semangatnya untuk bertempur; Ia bertempik sorak, ya, Ia memekik, terhadap musuh-musuhnya Ia membuktikan kepahlawanannya. (Yesaya 42:11-13)
Sehubungan dengan itu, ada dua nubuat lain yang perlu diperhatikan yang merujuk kepada Kedar: Pertama dalam Yesaya 60:1-7 yang bunyinya :
�Bangkitlah, menjadi teranglah, sebab terangmu datang, dan kemuliaan TUHAN terbit atasmu. Sebab sesungguhnya, kegelapan menutupi bumi, dan kekelaman menutupi bangsa-bangsa; tetapi terang TUHAN terbit atasmu, dan kemuliaan-Nya menjadi nyata atasmu. Bangsa-bangsa berduyun-duyun datang kepada terangmu, dan raja-raja kepada cahaya yang terbit bagimu. Angkatlah mukamu dan lihatlah ke sekeliling, mereka semua datang berhimpun kepadamu; anak-anakmu laki-laki datang dari jauh, dan anak-anakmu perempuan digendong. Pada waktu itu engkau akan heran melihat dan berseri-seri, engkau akan tercengang dan akan berbesar hati, sebab kelimpahan dari seberang laut akan beralih kepadamu, dan kekayaan bangsa-bangsa akan datang kepadamu. Sejumlah besar unta akan menutupi daerahmu, unta-unta muda dari Midian dan Efa. Mereka semua akan datang dari Syeba, akan membawa emas dan kemenyan, serta memberitakan perbuatan masyhur TUHAN. Segala kambing domba Kedar akan berhimpun kepadamu, domba-domba jantan Nebayot akan tersedia untuk ibadahmu; semuanya akan dipersembahkan di atas mezbah-Ku sebagai korban yang berkenan kepada-Ku, dan Aku akan menyemarakkan rumah keagungan-Ku.�
Nubuat lainnya, lagi-lagi dalam Yesaya 21:13-17 [3]
�Ucapan ilahi terhadap Arabia . Di belukar di Arabia kamu akan bermalam, hai kafilah-kafilah orang Dedan! Hai penduduk tanah Tema, keluarlah, bawalah air kepada orang yang haus, pergilah, sambutlah orang pelarian dengan roti! Sebab mereka melarikan diri terhadap pedang, ya terhadap pedang yang terhunus, terhadap busur yang dilentur, dan terhadap kehebatan peperangan. Sebab beginilah firman Tuhan kepadaku: “Dalam setahun lagi, menurut masa kerja prajurit upahan, maka segala kemuliaan Kedar akan habis. Dan dari pemanah-pemanah yang gagah perkasa dari bani Kedar, akan tinggal sejumlah kecil saja, sebab TUHAN, Allah Israel , telah mengatakannya.”
Bacalah nubuat-nubuat dari kitab Yesaya dan kitab Ulangan yang berbicara tentang sinar Tuhan dari Paran: Jika Ismail menghuni padang gurun Paran, tempat ia melahirkan Kedar, yakni nenek moyang bangsa Arab; dan jika anak-anak Kedar harus memberikan sambutan pada altar ilahi untuk mengagungkan �rumah keagunganNya� dimana kegelapan akan menyelimuti bumi selama beberapa abad, dan kemudian negeri itu akan menerima terang dari Tuhan; dan jika semua keagungan Kedar akan runtuh dan jumlah para pemanah, orang-orang perkasa dari anak-anak Kedar akan lenyap dalam setahun setelah orang itu melarikan diri dari pedang yang di hunus dan busur yang dilentur-Yang kudus dari Pegunungan paran (Habakuk 3:3) tak lain adalah Muhammad.
Muhammad keturunan suci dari Ismail melalui Kedar, yang berdiam di padang gurun paran. Melalui dia, maka Tuhan bersinar di Paran, dan Mekkah adalah satu-satunya tempat dimana rumah Allah (bait Allah) dimuliakan dan domba-domba Kedar memberikan sambutan diatas altarnya.
Muhammad dizalimi oleh kaumnya dan terpaksa meninggalkan Mekkah. Dia kehausan dan melarikan diri dari pedang yang dihunus dan busur yang dilentur, dan setahun kemudian setelah Muhammad meninggalkan Mekkah, dalam perang Badar, dia berhasil mengalahkan penduduk Mekkah dan sejumlah bani Kedar yang gagah perkasa tewas dan semua kemuliaan Kedar tumbang dalam perang Badar.
Jika para nabi suci tidak diakui sebagai pemenuhan semua nubuat ini, maka nubuat-nubuat tersebut akan tetap tidak terpenuhi. �Rumah keagunganKu� yang disebut dalam kitab Yesaya adalah rumah Tuhan di Mekkah. Bukan Gereja Kristus sebagaimana perkiraan para ahli tafsir Kristen. Kawanan domba-domba Kedar, sebagaimana disebut dalam ayat 7, belum pernah datang ke Gereja Kristus, dan adalah fakta bahwa kampung-kampung Kedar dan penduduknya adalah satu-satunya kaum didunia ini yang tetap tidak dapat dimasuki pengaruh Gereja Kristus. Lagi-lagi, penyebutan 10.000 orang kudus dalam ulangan 33, sangatlah penting: Dia bersinar dari Paran. Dan ia datang bersama 10.000 orang kudus.
Bacalah seluruh sejarah padang gurun Paran dan Anda akan menemukan tidak ada peristiwa lain selain peristiwa penaklukan Mekkan yang dilakukan oleh nabi Muhammad bersama dengan 10.000 pengikutnya dari Madinah dan memasuki kembali �rumah keagunganNya�. Dia memberikan api (hukum) yang menyala kepada dunia dan melenyapkan hukum-hukum lainnya.
Sang Penghibur (The Comforter) atau roh kebenaran yang disebut oleh Yesus tidak lain adalah nabi Muhammad. Tidak bisa diartikan sebagai Holy Ghost (Roh Kudus), seperti versi Teolog Kristen.
�Ada gunanya bagimu kalau aku pergi� Kata Yesus,�Karena kalau aku tidak pergi maka Sang Penghibur tidak akan datang kepadamu, tapi jika aku pergi, maka aku akan mengirim dia kepadamu�.
Perkataan ini dengan jelas menunjukkan bahwa Sang Penghibur pasti datang setelah Yesus pergi, dan tidak berada bersama Yesus ketika ia mengucapkan kata-kata ini. Akankah kita menduka bahwa Yesus sama sekali tanpa Holy Ghost jika kedatangannya tergantung pada kepergian Yesus. Di samping itu, cara Yesus menggambarkan dia menunjukkan bahwa dia adalah seorang manusia, bukan roh!. �Dia tidak akan berbicara mengenai dirinya sendiri, melainkan apa yang akan didengarnya yang akan ia bicarakan.� Akankah kita menduga bahwa Holy Ghost dan Tuhan adalah dua entitas yang berbeda dab bahwa Holy Ghost berbicara tentang dirinya sendiri dan juga apa yang ia dengar dari Tuhan ?!
Ucapan-ucapan Yesus jelas sekali menunjuk kepada seorang pesuruh Tuhan. Ia menyebutnya Roh Kebenaran, dan begitulah Al-Qur’an berbicara tentang Muhammad.
September 20th, 2009 at 8:52 am
PUJI TUHAN! terima kasih banyak utk penulis PADANG GURUN. Sangat mendetail dan sangat empirik, terutama dg ‘padang gurun” yang sedang saya jalani saat ini. Selama ini saya mengolok2 bangsa Israel yg nampaknya sgt bebal dan tidak tau bersyukur kpd ALLAH krn selalu bersungut2.
Tetapi bbrp hari belakangan ini saya juga mengkuatirka diri saya yang byk bersungut2 dan tidak tau bersyukur atas smua berkat, penghiburan, kekuatan, dan tanda2 nyata kehadiran Tuhan di ‘padang gurun’ku ini. Saya takut krn kebebalan saya, terpaksa nti Tuhan bikin rute perjalanan ‘padang gurun’ yang lebih panjang bagi saya.
Sekali lagi PUJI SYUKUR YA ALLAH, FirmanMU melalui saudara kami terkasih yg menulis artikel PADANG GURUN sungguh membawa kami makin waspada utk tidak bebal di hadapan MU, supaya hati Tuhan senang memandang kami, dan padang gurun kami tidak perlu diperpanjang rutenya :). KEMULIAAN HANYA BAGI ALLAH KITA YESUS KRISTUS! DASYAT DAN BERKUASA! TIADA DUANYA!