PERJALANAN UMAT ALLAH
Keluaran 17:7
“…mereka telah mencobai TUHAN dengan mengatakan: "Adakah TUHAN di tengah-tengah kita atau tidak?"
Keluaran menceritakan dengan dahsyat kemuliaan Allah, yang membawa bangsa Israel ke luar dari Mesir dan memelihara orang Israel hingga menuju tanah Kanaan. Orang Israel adalah umat pilihan Allah, yang sangat dikasihi oleh Allah. Sebenarnya, tidak ada kewajiban bagi Tuhan untuk membebaskan orang Israel dari tanah Mesir. Orang Israel dibebaskan dari Mesir hanya karena anugerah Allah. Sesungguhnya, semua manusia karena dosa-dosanya, di mata Tuhan sudah terlihat sangat menjijikkan dan layak untuk dibuang! Jonathan Edwards mengilustrasikan manusia itu seperti laba-laba yang menjijikkan di tangan Tuhan, dan tangan Tuhan sedang berada di atas api yang menyala-nyala. Adalah sangat layak bagi Tuhan untuk membuang kita karena Tuhan sangat membenci dosa! Tetapi Allah (tidak tahu mengapa) memilih orang Israel sejak sebelum dunia dijadikan untuk menjadi umat yang tidak akan dibuang, bahkan dikasihi!
Ulangan 7:6-8
Sebab engkaulah umat yang kudus bagi TUHAN, Allahmu; engkaulah yang dipilih oleh TUHAN, Allahmu, dari segala bangsa di atas muka bumi untuk menjadi umat kesayangan-Nya. Bukan karena lebih banyak jumlahmu dari bangsa manapun juga, maka hati TUHAN terpikat olehmu dan memilih kamu–bukankah kamu ini yang paling kecil dari segala bangsa? — tetapi karena TUHAN mengasihi kamu dan memegang sumpah-Nya yang telah diikrarkan-Nya kepada nenek moyangmu, maka TUHAN telah membawa kamu keluar dengan tangan yang kuat dan menebus engkau dari rumah perbudakan, dari tangan Firaun, raja Mesir.
Betapa besarnya kemurahan Tuhan untuk umat pilihanNya! Israel bukan dipilih karena mereka bangsa yang besar, bukan karena mereka bangsa yang taat kepada Tuhan, bukan karena kebaikan mereka (tidak ada sesuatu yang baik dari bangsa Israel), tapi karena Tuhan mau memilih mereka! Jangan sombong hai umat pilihan Tuhan! Kita dipilih bukan karena perbuatan kita, bukan karena kebaikan kita, bukan karena kelebihan kita, tapi semata-mata hanya oleh anugerah Tuhan kita bisa menjadi umat kesayanganNya!
Orang Israel sudah dibebaskan oleh Allah dari perbudakan di Mesir. Ketika mereka baru keluar dari tanah Mesir, TUHAN langsung memimpin mereka melalui tiang awan dan tiang api. Tiang awan membuat orang Israel teduh ketika siang, dan tiang api memberi kehangatan dan menerangi jalan bagi orang Israel ketika malam. Siang malam TUHAN setia memimpin bangsa Israel. Ketika orang Mesir sudah berada di dekat orang Israel yang sedang berkemah di tepi Laut Teberau, tiang awan yang tadinya berada di depan orang Israel pindah ke belakang orang Israel, sehingga membuat mata orang Mesir kabur dan tidak bisa melihat orang Israel, sehingga bangsa Israel aman dari tangan orang Mesir yang sebenarnya sudah sangat dekat. Tuhan meniupkan angin semalam-malaman hingga Laut Teberau terbelah, sehingga orang Israel dapat berjalan di tengah laut. Betapa besar kemuliaan TUHAN! Ketika orang Israel sampai di seberang, TUHAN mencampakkan orang Mesir di tengah-tengah laut, hingga semuanya mati dan mayat mereka berserakkan di pantai. Betapa dahsyat hukuman TUHAN bagi orang berdosa dan betapa dahsyat pula kasih TUHAN kepada umat pilihanNya, yang seharusnya sama-sama binasa karena dosa.
Setelah sampai di seberang, umat pilihan Allah berjalan ke padang gurun Syur, menuju ke tanah Perjanjian. Di padang gurun Syur selama tiga hari, mereka tidak mendapat air. Kemudian mereka sampai ke Mara. Di Mara, air terasa pahit dan tidak dapat diminum. Belum lama setelah mereka melihat mujizat pembebasan yang begitu dahsyat dari TUHAN, orang Israel bersungut-sungut kepada Musa karena kekurangan air. Mereka bukan dengan rendah hati memohon berkat (air) dari TUHAN, tapi malah meragukan rencana TUHAN dan bersungut-sungut kepada Musa. TUHAN bermurah hati memberikan mereka air yang manis untuk diminum.
Mereka terus berjalan menuju tanah Kanaan, kemudian mereka sampai di Elim. Di Elim, TUHAN menyediakan dua belas mata air dan tujuh puluh pohon korma. Ketika orang Israel berlimpah berkat, tidak dicatat mereka mengucap syukur kepada TUHAN. Mereka menganggap bahwa berkat TUHAN itu layak untuk mereka terima! Celakalah kita yang menganggap bahwa segala kebaikan yang secara rutin kita terima itu layak kita dapatkan! Semua yang baik adalah berasal dari Allah! Kita masih hidup sekarang adalah hanya kemurahan Allah!
Dari Elim mereka berjalan ke padang gurun Sin. Di padang gurun Sin ini TUHAN kembali menunjukkan betapa besar kemurahanNya kepada bangsa Israel. Bangsa Israel bersungut-sungut karena makanan, dan TUHAN menyediakan dengan ajaib! Bangsa Israel diberikan manna oleh TUHAN setiap hari. TUHAN dengan setia memelihara umatNya, sampai mereka sampai batas tanah Perjanjian, selama 40 tahun. Sekali lagi, bangsa Israel bukan memohon dengan rendah hati kepada TUHAN, tetapi malah bersungut-sungut dan meragukan rencana dan janji TUHAN, bahwa mereka akan menuju tanah Perjanjian. Bangsa Israel menfokuskan diri kepada kesulitan mereka, bukan kepada pengharapan yang pasti diberikan oleh TUHAN, yaitu tanah Kanaan. Hendaklah kita juga jangan bersungut-sungut atas kesulitan-kesulitan yang kita alami sekarang, tapi hendaklah kita memandang tanah Perjanjian yang kekal, sorga, yang pasti diberikan oleh Allah. Masih kurangkah kita mendapat kemurahan Allah?
Adapun TUHAN memberikan peraturan dalam pengambilan manna, yaitu jangan disimpan sampai keesokan harinya. Tapi, beberapa dari bangsa Israel melanggar, sehingga manna itu berulat. Betapa tegar tengkuknya bangsa ini! Dan inilah yang biasa terjadi dengan kita, umat pilihan Allah yang sudah ditebus oleh darah Yesus Kristus! Kita seringkali kompromi dalam hidup kita! Tidak taat sedikit, tidak apa-apa. Inilah yang dibenci oleh TUHAN! Sampai kapan kita mau hidup kompromi terhadap dosa?
TUHAN juga memberikan peraturan, bahwa hari Sabat orang Israel tidak perlu untuk mengambil manna, karena hari itu disediakan TUHAN supaya orang Israel beristirahat dari jerih lelah mereka. Tetapi, betapa bodohnya manusia! Ketika kita diberi berkat untuk beristirahat dan menikmati berkat Tuhan, kita malah menyangka kita kekurangan berkat! Berkat tidak akan berkurang apabila kita tidak bekerja pada hari Sabat, justru kita akan mendapat berkat yang lebih bila kita taat kepada perintah Tuhan, karena perintahNya adalah untuk kebaikan kita.
Di padang gurun Sin, orang Israel berjalan dari satu tempat persinggahan ke tempat persinggahan lain. Kembali bangsa Israel melakukan kesalahan yang sama : bersungut-sungut! Tetapi yang lebih parah, mereka mempertanyakan keberadaan TUHAN : “Adakah TUHAN di tengah-tengah kita atau tidak?” Betapa jengkelnya TUHAN kepada bangsa Israel, karena TUHAN sendiri ADA di situ dan SEDANG menyertai mereka ketika mereka mempertanyakan keberadaanNya!
Apa yang dapat kita pelajari dari sebagian perjalanan bangsa Israel? Perjalanan bangsa Israel menggambarkan perjalanan hidup kita. Kita melihat, TUHAN mengizinkan bangsa Israel mengalami kehausan, untuk menguji iman mereka terhadap janji TUHAN (Keluaran 15:25). Hidup kita juga dipenuhi oleh dua jenis berkat TUHAN : berkat yang kelihatan dan berkat yang tidak kelihatan. Berkat yang tidak kelihatan adalah ujian. Ujian adalah PERLU bagi kita untuk meneguhkan iman kita. Apabila kita sedang mengalami kesusahan, hendaklah kita ingat bahwa Allah itu baik! Allah tidak ingin melihat kita bersusah, tetapi Allah LEBIH TIDAK INGIN kita menjadi anakNya yang manja! Allah mendidik umatNya melalui ujian, dan ujian itu mendatangkan kebaikan. Janganlah kita sampai meragukan kebaikan Tuhan dan bersungut-sungut kepadaNya! Berkat yang tidak kelihatan itu justru jauh lebih berharga dibanding berkat yang kelihatan. Ajaran teologi sukses membatasi berkat sebagai hanya yang kelihatan, sehingga iman mereka akan goncang ketika mereka menghadapi kesulitan. Kita harus ingat satu hal : Allah bekerja melalui cara yang tidak manusia pahami! Kesulitan dan tantangan yang kita hadapi, sama sekali tidak membuktikan bahwa Allah tidak baik! Tapi, ketika kita sudah melewati ujian itu, kita justru akan melihat, BETAPA ALLAH ITU BAIK! Tanpa ujian, kita tidak akan melihat kemuliaan dan kebaikan Allah! Hendaklah kita belajar dari perjalanan orang Israel, supaya kita jangan melakukan kesalahan yang sama seperti mereka, yaitu bersungut-sungut. Hendaklah kita belajar untuk menjadi teguh, kokoh, tidak goyah dalam pengharapan akan janji Allah, dan percaya bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan umatNya, walaupun angin yang keras dan awan yang gelap untuk sementara waktu menutupi kita sehingga kita tidak melihat wajahNya. Kita harus tetap dan selalu percaya : God is still and always be with us and do everything for our good!
Roma 5:2-5
Oleh Dia kita juga beroleh jalan masuk oleh iman kepada kasih karunia ini. Di dalam kasih karunia ini kita berdiri dan kita bermegah (bersukacita, terj. lain) dalam pengharapan akan menerima kemuliaan Allah. Dan bukan hanya itu saja. Kita malah bermegah (bersukacita, terj. lain) juga dalam kesengsaraan kita, karena kita tahu, bahwa kesengsaraan itu menimbulkan ketekunan, dan ketekunan menimbulkan tahan uji dan tahan uji menimbulkan pengharapan. Dan pengharapan tidak mengecewakan, karena kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita.