A picture is worth a thousand words
A picture is worth a thousand words. Sebuah gambar setara dengan ribuan
kata.
Kristalisasi pribahasa di atas terjadi berabad-abad lalu oleh tokoh
di daratan Tiongkok. Ada pula yang bilang pribahasa itu dicetuskan Napoleon
Bonaparte di Prancis dengan ucapannya "Un bon croquis vaut mieux qu’un long
discours" atau "A good sketch is better than a long speech." Lebih
kurang maknanya sama. Kedua tokoh itu memiliki kesamaan. Sama-sama hidup di
jaman dulu dengan muara opini setara. Siapa pun yang mengucapkannya pertama kali
tidaklah terlalu penting. Yang jelas adalah pribahasa itu mengalami penguatan
dan pengukuhan makna di era informasi ini.
Sejarah
Simbol
Gambar, simbol, logo, emblem, trademark dan
sejenisnya mengalami metamorfosa yang sangat panjang. Corporate
dan society identity ini telah dimulai sejak jaman Yunani pada
abad XIII. Identitas ini muncul dipicu oleh eksistensi para traders
dan merchants. Hal ini terjadi karena ada fakta pembeli tidak
dapat melakukan repeat order atas produk berkualitas yang dibeli dari
trader tertentu karena kesamaan produk generik. Karenanya, muncullah
ide memberikan simbol/logo agar produk dimaksud bisa lebih bergulir mengikuti
deret ukur. Ratusan tahun kemudian, tindakan memperkenalkan identitas ini
menjadi semakin kuat dilakukan oleh korporasi lintas sektoral. Tindakan ini
bahkan menjadi concern utama corporate untuk semakin berjaya.
Varian pembentukannya pun bertambah dengan sentuhan feng shui.
Sebagai bukti, lihat saja, betapa Garuda Indonesia, Bank BII, Bank
Danamon, Bank Permata, Pertamina, Asuransi Jiwasraya, Danareksa, Bursa Efek
Indonesia (BEI), Polytron, Garudafood, Kimia Farma dan media elektronik seperti
SCTV, LaTivi, Anteve, TPI, TVRI, dan TV-7 rela mengeluarkan kocek ratusan juta
bahkan milyaran rupiah hanya untuk mengubah nama dan logo mereka. Tentu bukan
tanpa alasan, korporasi raksasa itu mengeluarkan budget yang tidak
sedikit itu. Ada yang karena tuntutan dari dalam korporasi. Karena akuisisi,
merger, atau karena sudah terlalu lama menggunakan logo dimaksud
sehingga harus diganti. Bisa juga karena visi dan misi perusahaan yang berubah.
Bisa juga karena pergantian manajemen. Itulah sederet alasan mengapa logo
perusahaan berubah atau harus diubah.
Citra
Korporasi
Logo adalah citra diri korporasi. Komunikasi
pertama yang sampai ke benak masyarakat adalah desain grafis perusahaan yang
bernama logo itu. Logo kontemporer dengan sentuhan psiko-geografis tentu akan
mendekatkan korporasi bersangkutan dengan masyarakatnya. Dalam ilmu komunikasi,
bentuk, warna, garis grafis, simbol dan ukuran yang terdapat dalam sebuah logo
memberikan pengaruh psikologis yang sangat tinggi. Logo dengan tingkat
inklusivitas yang tinggi terhadap pakem di atas relatif memiliki daya tarik
masif dengan spektrum yang lebih luas. Karena roh kontemporer dalam logo yang
berisi unsur kreatif, enerjik, dinamis, progresif, modern dan inovatif itu mampu
mendorong orang lain untuk mendekatkan diri kepada korporasi (produk)
bersangkutan.
Simbol Politik &
Agama
Di dunia politik, komunikasi simbol dalam bentuk lain
juga menunjukkan eskalasi kepentingannya. Lihat saja, bagaimana Barack Obama
sangat marah ketika fotonya yang memakai sorban saat di Kenya, tanah air ayahnya
di tahun 2006 disebarkan di berbagai media. Ketegangan dengan kubu Hillary
Clinton tidak terhindarkan. Tengok pula bagaimana fluktuasi emosi massa
mengemuka ketika simbol-simbol agama dipakai secara tidak tepat di Denmark
(kasus kartun Nabi Muhammad) dan cover Tempo ‘The Last Supper’
itu muncul. Deretan kasus lainnya: cover album Iwan Fals ‘Manusia 1/2
Dewa’ harus berurusan dengan umat Hindu, termasuk juga cover buku
Supernova, Dewi Lestari yang memuat simbol/huruf AUM yang merupakan simbol suci
umat Bali itu. Termasuk juga suatu kali desain poster film Amerika "Hollywood
Buddha" dengan seorang pria duduk di atas pundak patung Buddha dengan alat
vitalnya menyentuh tengkuk Buddha. Reaksi keras dari dunia pun bertubi-tubi
menghampiri. Sejarah telah mengajarkan kepada kita, berhati-hatilah dengan
simbol yang digunakan. Simbol tidak tepat menimbulkan kontroversi yang hanya
menguras energi kognisi dan afeksi sehingga menumpulkan simpul-simpul humanitas
alami. Kondisi ini, jika tidak segera diatasi akan menjadi bom waktu dalam
jangka panjang.
Konklusinya, logo dan simbol menjadi menu utama yang
harus diberi atensi dan konsentrasi tinggi ketika mengkreasikan dan
menggunakannya. Logo dan simbol yang tepat akan menciptakan komunikasi positif,
konstruktif, empatik dan simpatik dengan shareholder dan
stakeholder yang ada di lingkungan masyarakatnya. Sebaliknya, korporasi
dan organisasi yang tidak memerhatikan unsur psiko-geografis dan kultur
masyarakat akan mengalami proses layu sebelum berkembang. Karenanya, waspadalah
dengan hasil karya desain grafis ini. Selamat merenungkan filosofi logo/simbol
masing-masing. Semoga sesuai dengan nilai-nilai intrinsik di atas!