Archive for July, 2008


Curhat

Hari ini kartu asuransi dah keluar setelah nunggu lama.. harusnya bulan lalu tanggal 17. Gaji belom keluar. Rada uring-uringan neh rasa hati.. Partner kerja rada stress gara2 apa.. mgk bokapnya yang ga keluar2 rs.. kerjaan gue tandangin yang kemaren.. dari upload mpe periksa data.. Finish.. after that dia abis ngmg ga ngerasa ngmg.. dah berulang kalii. Wah stress bener nh anak.. Tambah2 tadi.. mpe bilang pulang ajalah.. Seumur2 baru denger sekarang…

My kabar… rada2 baeee.. Meski yahh itu tadiii some bad feelings…. ga teu dah napa.. capeee…. first.. about co2 yang ampyunnn2 berkeliaran disekitar gue.. untung yang sebiji today ga nongol di kantor, kmr jumat mpe kabur dari tu anak.. asli kaya film aja.. cape dehhh… Dah gt tuch anak masiii juga nekad nyari2 gue.. mpe pintu luar.. FREAKKK BENEEERR!!! Yang laennn ada juga yamg juga gila.. Pagi2 jam 6 dah sampe tempat gue.. GUe kemana2 mo ikut lagi… Padahal badannya tuch anak mpe keluar keringet dingin… Capeee dahhh gueeeeeeeeeeeeeeeee… Yang laen2 seh masiii terkendali.. Walaupun salah satunya yach musti colong2an pulang ke kota gue.. Mo ikutann gt lohh.. capeeeee deecchhhh…

Gara2 mereka, perasaaan gue jadi judes abis.. nyolot abiss.. I feel so bad.. asliii… Kemaren baru agak rasa2 mending.. hp gue matiin smua.. bis itu denger lagu rohani and kembali belajar mandarin.. Pagi2 yahhh ranjang ada alat tulis… =)) butt… I feel happy this morning..

Then.. membahas kepergian besok.. Sebel gue liat Daniel si panitia.. masa persiapan kacau.. Yudi juga.. malah bilang… khan blm tentu semua hadir.. pasti cukuplah.. CAPEEEE DAHHH URUSSAN MA MEREKAAAA!!! HErannya sehh  Danielnya dah mo kawin.. ada juga yang mao karyawati LION AIR.. Mana bsk jam 7 dah harus sampe Gatsu.. UUUUHHHH BENCIIIIII AKUUUUUUUUU… UUUHHHH SEBEELLL AKUUUU..
Nek sampe ga ada tempat awas… Bomm bisa meletus… ( Gue emang bae bin sabar.. tapiii nek dahhhhh muatannya beratttttt bisa meletussss juga… :P )

Tuhan ambil duriku

2 Korintus 12:7
Dan supaya aku jangan meninggikan diri karena penyataan-penyataan yang luar biasa itu, maka aku diberi suatu duri di dalam dagingku, yaitu seorang utusan Iblis untuk menggocoh aku, supaya aku jangan meninggikan diri.

Pagi yang cerah, Nova mengajak anjing kecilnya lari pagi ke taman yang tidak jauh dari komplex rumahnya. Anak  anjing itu  berlari kesana-kemari, menggongong kesana kemari dengan gembiranya, berlari kerumput-rumput dan semak duri yang ada di sekitar taman itu. Berkali-kali  Nova memanggilnya untuk kembali ke rumah tapi anjing kecil ini begitu gembiranya, Nova takut anjingnya terluka, karena di pojok taman banyak semak duri yang bisa melukai anjingnya.

Anjing kecil baru mengerti bahwa tuannya marah, saat nova mengancungkan kayu kecil  padanya, dengan berat hati si anjing itu meninggalkan semak-semak duri yang dianggapnya menjadi tempat bermain yang mengasyikkan.

Sore harinya, si anjing kecil terlihat diam dan menangis-nangis kecil [pernah dengar anak anjing nangis kan ? kalau belum silahkan lihat keanjing tetanggga : ) ]. Melihat prilaku anjingnya tidak seperti biasanya, Nova mulai khawatir kalau-kalau anjingnya sakit, dan benar saja setelah di periksa ternyata ada satu buah duri besar menancap tepat di kaki si anak anjing.

Pikir Nova, "pastilah  duri ini asalnya dari taman bermain, sangkin asyiknya bermain  si anjing kecil tidak menyadari ada sebuah duri yang tertancap dikakinya, dan rasa sakit terasa justru setelah dia tidak lagi bermain di taman". Begitu Nova ingin mencabutnya, sianak anjing justru memberontak dan bergerak-gerak dengan kuatnya, itu karena pada saat hendak dicabut timbul rasa sakit yang luar biasa. Nova tidak mau kalah, dia tetap berusaha menenangkan anjing kecilnya dan dengan kasih nova berusaha melepasan duri itu.

Sobat,
Jangan  pernah marah atau kecewa ketika Tuhan ijinkan sebuah DURI dalam hidupmu dan saya ! dan jangan pernah berusaha untuk mengeluarkan duri itu dengan kekuatan-mu sendiri, tapi minta Yesus sendiri yang mengeluarkannya dari dalam hidup kita.

Kita sudah menangis, sudah putus asa dan ngambek padahal baru satu duri yang menancap didaging kita, Yesus sudah menanggung banyak duri akibat dosa kita 

Matius 27:29  Mereka menganyam sebuah mahkota duri dan menaruhnya di atas kepala-Nya. [duri = kesesakah, siksaan, pergumulan]

Si anjing kecil berusaha untuk mencabut sendiri duri yang tertancap dikakinya. Kitapun sering berprilaku seperti sianjing kecil, berusaha untuk keluar dari pergumulan yang ada, berusaha untuk menyelesaikan kesesakan yang menimpa kita, tapi tidak berhasil. Sampai akhirnya Yesus datang menawarkan kasih-Nya.

Pada saat duri dicabut dari kehidupan kita, pastilah ada rasa sakit, tapi setelah itu ada kelegaan yang membuat kita mampu untuk berjalan lebih mantap ke depan.

Katakan . . .
Bapaku, aku hanya mau Engkau yang mengambil duri dari dalam hidupku ku tak mampu melepaskannya . . . dan tak akan pernah mampu !
Setiap kali aku mencoba mengambilnya, duri itu menjadi patah atau bahkan semakin dalam masuk kedalam tubuhku.

Bapaku, aku hanya menanggung satu duri, dan Engkau menanggung banyak duri dikarenakan dosa-dosaku
Amin. . .

Hidup dalam Kelemah Lembutan

HIDUP DALAM KELEMAHLEMBUTAN "Berbahagialah orang lemah lembut kare mereka akan memiliki bumi." Matius 5:5 Ditengah-tengah kehidupan manusia yang penuh dengan kekejaman, kesadisan, kekasaran, kekerasan, penyiksaan, ketersinggungan dan penuh emosional, maka TUHAN mengingatkan kepada kita akan prinsip hidup dari Kerajaan Surga tentang Kelemahlembutan, yang akan memiliki berkat-berkat bumi. Kelemahlembutan menjadi sesuatu yang sulit dijumpai karena kerasnya kehidupan dan banyaknya pergumulan yang menjadikan manusia kurang sabar, kurang tenang dalam jiwanya. YESUS sendiri memberitahukan dan menunjukkan bahwa diri-Nya adalah seorang yang lemah lembut (Matius 11:29 "Aku lemah lembuh …."). Dalam situasi yang terjadi dewasa ini, anak TUHAN dituntut untuk lemah lembut. Apakah saudara sudah lemah lembut ? Ada 3 ciri orang yang lemah lembut hatinya. Orang yang lemah lembut adalah orang yang memiliki pribadi :

1. Pribadi yang rela untuk dilukai atau diperlakukan dengan tidak adil. Dalam 1 Korintus 6:7, Paulus menyinggung tentang orang-orang yang mengalami perlakuan tidak adil. Memang kalau hal ini terjadi akan menyakitkan : merasa nggak enak, tertekan. Dimanapun kita berada, ketidakadilan dapat menimpa kita. Lihat TUHAN YESUS - yang banyak mengalami peristiwa ketidakadilan - YESUS dijual, YESUS ditangkap, YESUS dipermalukan, YESUS dianiaya, YESUS dicemooh, YESUS dicambuk, diperlakukan dengan tidak adil oleh kelompok yang yang memusuhinya yaitu orang Farisi, Yahudi dan orang Romawi. Meskipun demikian, YESUS tetap lemah lembut maka (Lukas 23:34 "Ya, BAPA ampunilah mereka&.karena mereka tidak tahu yang mereka perbuat…"). Dalam hidup kita ada banyak peristiwa yang sepertinya tidak adil menurut kita, tetapi hati yang lemah lembut menjadikan kita rela untuk dilukai, tidak mendendam, tidak kepahitan, tidak dengki atau benci.

2. Pribadi yang terbuka terhadap tegoran TUHAN. Firman TUHAN dalam Yakobus 1:21 berkata "……terimalah Firman dengan lemah lembut&.yang berkuasa menyelamatkan jiwa ..". Orang yang lemah lembut menerima kebenaran sebagai kebenaran, tidak berdalih, tidak menyalahkan orang, tetapi terbuka terhadap tegoran firman. Hati yang lembut bagaikan tanah yang subur, ditaburi benih pasti akan menghasilkan buah. Daud adalah contoh orang yang lemah lembut; dalam 2 Samuel 12:5-10 Daud ditegor oleh Nabi Nathan dalam peristiwa kesalahannya dengan Betsyeiba dan Uria. Respon Daud adalah terbuka dan menerima, lalu sadar dan bertobat. Olehnya TUHAN berkata ini orang yang berkenan dihati-Ku. Hati yang lemah lembut membuat kita terbuka untuk menerima tegoran Firman TUHAN.

3. Pribadi yang mudah dibentuk. Yeremia 18:4-6 "…seperti bejana di tangan Penjunan&demikianlah kita akan dibentuk sesuai dengan Hati Penjunan, Keinginan Penjunan dan Rencana Penjunan serta yang terbaik di Pemandangan Penjunan…". Setiap peristiwa dan kejadian yang menimpa kita, dapat dipakai oleh Si Penjunan untuk membentuk kita agar sesuai dengan rancangannya. Yusuf menyadari pembentukan TUHAN yang telah terjadi dalam perjalanan hidupnya. Dikatakan dalam Kejadian 45:5, "…untuk memelihara kehidupanlah ALLAH menyuruh Yusuf mendahului keluarganya ke Mesir ", sekalipun cara yang dipakai adalah Yusuf dengan dijual dan menjadi budak di tanah Mesir.

Kelemahlembutan merupakan hal terpenting yang menjadikan kita mengerti dan dapat menerima "Pembentukan TUHAN". Peneguhan Hati yang lembut menjadikan kita akan lebih dewasa secara rohani dan menyikapi setiap peristiwa yang TUHAN ijinkan terjadi dalam hidup kita secara dewasa dengan keyakinan bahwa ada sesuatu atau rencana yang terbaik didepan kita yang telah disediakan TUHAN.

Miliki ciri-ciri hati yang lembut, karena engkau akan memiliki bumi. TUHAN memberkati.

Keberhasilan is very easy

Really! Let’s look at these below stories. Kisah-kisah di bawah ini merupakan kisah sejati. Keberhasilan sangat mudah diraih, bahkan orang-orang sekuler tahu kunci-kunci keberhasilan, hanya saja mereka tidak tahu tujuan hidup mereka dengan keberhasilan yang mereka raih itu. Keberhasilan yang dikisahkan di bawah ini bukan karena iman, tetapi lebih kepada prinsip-prinsip keberhasilan yang sering saya ungkapkan pada Seminar BKI di berbagai tempat di Indonesia dan luar negeri, salah satu kiatnya yaitu PERSISTENT, HONEST, HARD WORK. OK, let’s start to read the stories yang saya kutip dari kisah orang lain entah dari mana.

Bertahun-tahun dahulu, pada malam hujan badai, seorang laki-laki tua dan istrinya masuk ke sebuah lobby hotel kecil di Philadelphia. Mencoba menghindari hujan, pasangan ini mendekati meja resepsionis untuk mendapatkan tempat bermalam. "Dapatkah anda memberi kami sebuah kamar disini ?" tanya sang suami.

Sang pelayan, seorang laki-laki ramah dengan tersenyum memandang kepada pasangan itu dan menjelaskan bahwa ada tiga acara konvensi di kota. "Semua kamar kami telah penuh," pelayan berkata. "Tapi saya tidak dapat mengirim pasangan yang baik seperti anda keluar kehujanan pada pukul satu dini hari. Mungkin anda mau tidur di ruangan milik saya? Tidak terlalu bagus, tapi cukup untuk membuat anda tidur dengan nyaman malam ini."

Ketika pasangan ini ragu-ragu, pelayan muda ini membujuk. "Jangan khawatir tentang saya. Saya akan baik-baik saja," kata sang pelayan. Akhirnya pasangan ini setuju. Ketika pagi hari saat tagihan dibayar, laki-laki tua itu berkata kepada sang pelayan, "Anda seperti seorang manager yang baik yang seharusnya menjadi pemilik hotel terbaik di Amerika. Mungkin suatu hari saya akan membangun sebuah hotel untuk anda." Sang pelayan melihat mereka dan tersenyum. Mereka bertiga tertawa.

Saat pasangan ini dalam perjalanan pergi, pasangan tua ini setuju bahwa pelayan yang sangat membantu ini sungguh suatu yang langka, menemukan seseorang yang ramah bersahabat dan penolong bukanlah satu hal yang mudah.

Dua tahun berlalu. Sang pelayan hampir melupakan kejadian itu ketika ia menerima surat dari laki-laki tua tersebut. Surat tersebut mengingatkannya pada malam hujan badai dan disertai dengan tiket p.p (pulang-pergi) ke New York, meminta laki-laki muda ini datang mengunjungi pasangan tua tersebut.

Laki-laki tua ini bertemu dengannya di New York dan membawa dia ke sudut Fifth Avenue and 34th Street. Dia menunjuk sebuah gedung baru yang megah disana, sebuah istana dengan batu ke-merah-an, dengan menara yang menjulang ke langit. "Itu," kata laki-laki tua, "adalah hotel yang baru saja saya bangun untuk engkau kelola".

"Anda pasti sedang bergurau," jawab laki-laki muda. "Saya jamin, saya tidak," kata laki-laki tua itu, dengan tersenyum lebar.

Nama laki-laki tua itu adalah William Waldorf Astor, dan struktur bangunan megah tersebut adalah bentuk asli dari Waldorf-Astoria Hotel. Laki-laki muda yang kemudian menjadi manager pertama adalah George C. Boldt. Pelayan muda ini tidak akan pernah melupakan kejadian yang membawa dia untuk menjadi manager dari salah satu jaringan hotel paling bergengsi di dunia.

Pelajarannya adalah…..perlakukanlah semua orang dengan kasih, kemurahan dan hormat dan anda tidak akan gagal.

"Kamu menyebut Aku Guru dan Tuhan, dan katamu itu tepat, sebab memang Akulah Guru dan Tuhan. Jadi jikalau Aku membasuh kakimu, Aku yang adalah Tuhan dan Gurumu, maka kamupun wajib saling membasuh kakimu; sebab Aku telah memberikan suatu teladan kepada kamu, supaya kamu juga berbuat sama seperti yang telah Kuperbuat kepadamu. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya seorang hamba tidaklah lebih tinggi dari pada tuannya, ataupun seorang utusan daripada dia yang mengutusnya. Jikalau kamu tahu semua ini, maka berbahagialah kamu, jika kamu melakukannya."
Yoh 13:13-17

"Tetapi kamu tidaklah demikian, melainkan yang terbesar di antara kamu hendaklah menjadi sebagai yang paling muda dan pemimpin sebagai pelayan."
Luk 22:26

Mungkin kisah di atas sudah Anda kenal, karena memang tidak asing dan sudah tersebar. Kebaikan yang kita lakukan dengan tulus tidak akan kembali dengan sia-sia. Tuhan memberkati orang-orang yang “memiutangi” Dia.

Namun kisah di bawah ini langka, karena adanya cuman di Solo dan hanya sedikit orang yang tahu. Kisah luar biasa ini bukan dilakukan oleh orang beriman seperti kite-kite ini…hanya dari kesadaran seorang ayah muda yang dipekerjakan oleh bosnya sebagai tenaga bawahan. Tidak mendapat kunci pintu masuk, tidak mendapatkan hak istimewa. Sedangkan rumahnya jauh dari tempat pekerjaannya, dan dia harus mengantar anaknya ke sekolah tiap pagi. Karena jika harus pulang ke rumah dan kembali ke tempat kerjanya akan memakan waktu yang cukup banyak dan membuang bensin, maka ia menanti sampai buka jam kantor di depan pintu halaman.

Sambil menanti, dia membersihkan halaman depan kantor. Makin hari, sang bos melihat kok halamannya bersih tiap pagi, padahal nggak ada orang dateng bersihin selain bawahannya yang “cuman” office boy ini. Lama kelamaan sang bos mempercayainya dan memberikan kunci pintu masuk ruang bagian depan. Di ruang depan pun ia membersihkan semua peralatan, mengepel, membenahi daun tumbuhan, membereskan bekas-bekas minum Aqua yang tercecer. Karena bos melihat ia setia dalam perkara kecil dan nggak ada satu barang pun yang hilang, bahkan jadi bersih dan enak dipandang mata, bos jadi semakin percaya. Maka bos mulai ngasih kunci masuk ruang kantor, ac sudah dinyalakan sebelum bos datang, dan banyak perkara-perkara kecil dilakukan yang membuat semakin hari dia semakin dapat dipercaya, dan dia diberi semua kunci! Dia jadi pemegang kunci kantor, kunci gudang, dll. Tidak lama kemudian bos memberikan dia kursus ini dan itu lalu kemudian mengirimnya menjadi direktur perwakilan di daerah lain.

Hebat nggak? Hebat sih hebat, tapi banyak orang males nyapu halaman luar, boro-borooo…nunggu beberapa menit aja udah ngomel apalagi nunggu sampai pintu dibuka. Gengsi iya, pake hem lengan panjang ganteng gini kok nyapu…ya ampun. Lha terus bagaimana bos akan melihat Anda rendah hati dan setia dalam perkara kecil? Ia nggak mungkin percayain perkara besar kepada orang yang tinggi hati dan maunya kerjanya langsung tanda tanganin cek perusahaan.

Kerendahan hati mendahului apa? Kehormatan, kekayaan, dan kemuliaan.

Mat 25:21 Maka kata tuannya itu kepadanya: Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia; engkau telah setia dalam perkara kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu.

Luk 12:43 Berbahagialah hamba, yang didapati tuannya melakukan tugasnya itu, ketika tuannya itu datang.

Hidup karena Iman Bukan karena Melihat

Sebuah Refleksi dari Kisah Hidup Ayub

Penderitaan—dalam segala bentuknya—merupakan bagian hidup anak manusia, tak terkecuali orang-orang percaya. Meskipun Herlijana, seorang anak Tuhan, bahkan pelayan Tuhan, namun hidupnya tak luput dari penderitaan. Betapa tidak, selama bertahun-tahun ibu dari satu anak ini didera oleh berbagai macam penyakit — (Kisah hidupnya itu dituangkannya sendiri dalam buku berjudul Bukankah Ini Mujizat?: Kisah Ketegaran Hati Wanita yang Hidup Bersama Kanker Payudara (Yogyakarta: Gloria, 2007). Bertubi-tubi. Kisah sedih itu dimulai tahun 2007, saat dokter memvonisnya menderita kanker payudara dan ia harus menjalani operasi. Setelah operasi, dokter mendiagnosis kankernya telah menjalar sampai ke getah bening. Alhasil, Herlijana pun harus menjalani serangkaian pengobatan—seperti radiasi dan kemoterapi—yang amat menyiksa. Penderitaannya tak cukup sampai di situ. Di bekas operasinya, timbul abses, sehingga ia harus dioperasi lagi. Selain itu, berbagai penyakit lain pun hinggap di tubuhnya yang semakin ringkih: vertigo, insomnia, kram pada kedua kaki, paru-paru sebelah kanan terendam air, sampai mata kiri yang buta.

Ketika menapaki jalan hidup terjal nan penuh derita itu, Herlijana pun bertanya, "Mengapa Tuhan mengizinkan semua penyakit ini kuderita?" Sebuah pertanyaan yang manusiawi. Pertanyaan yang mungkin saja keluar dari mulut orang-orang percaya yang mengalami penderitaan seberat dirinya. Bahkan, amat mungkin, ada orang percaya yang mempertanyakan keadilan dan ke-MahaKuasaan Tuhan tatkala tak kunjung menemukan jalan keluar dari penderitaannya. Pertanyaannya, bagaimanakah seharusnya orang percaya memandang penderitaannya?

Dalam Alkitab ada satu orang percaya yang juga mengalami penderitaan yang begitu berat. Namanya: Ayub. Sebagai manusia (tak hanya rocker yang manusia, bukan?), Ayub pun mengalami goncangan iman tatkala dirudung penderitaan. Baiklah kita belajar dari pengalaman hidup Ayub ketika bergumul dengan penderitaannya bersama-sama dengan Tuhan.

Ayub sebagai Hakim: Tuhan Salah, Ayub Benar

Orang normal akan membuang jauh-jauh semua hal yang berbau kematian dari pikiran. Misalnya, orang Tionghoa tidak suka dengan angka "empat" karena bunyinya mirip dengan kata "mati." Itulah sebabnya Saudara (hampir) tidak bisa menemukan lantai (bernomor) empat di hotel-hotel atau gedung-gedung tinggi. Tapi bagaimana dengan orang yang tidak lagi menemukan kebahagiaan? Bagi orang-orang semacam ini, kematian tampaknya lebih "menarik" daripada kehidupan. Tak sedikit orang mengakhiri hidupnya dengan mencabut nyawa mereka sendiri. Mereka berpikir, di balik kematian ada pengharapan, paling tidak, mereka tak lagi menderita. Pikiran Ayub pun dipenuhi dengan hal-hal berbau kematian. Ia menyesal mengapa ia hidup. Ia bertanya, "mengapa ia tak mati saja waktu lahir?" (Ayb. 3:1-19). Ia juga memohon agar Tuhan mencabut nyawanya (Ayb. 6:8-9). Baginya, lebih baik mati daripada hidup tapi menderita. Seberapa besar sih penderitaan Ayub, hingga ia minta mati?

Ayub dihantam derita multidimensional. Pertama, ia mengalami derita fisik. Ia kehilangan semua hartanya (baca: ternak-ternaknya) dalam sehari (Ayb. 1:13-17). Selain itu, ia harus kehilangan hartanya yang paling berharga dalam sekejap, yaitu: anak-anaknya (Ayb. 1:18-19). Bukankah keluarga adalah harta yang paling berharga (ingat soundtrack sinetron "Keluarga Cemara" yang pernah menghiasi layar kaca)? Rupanya, "film" hidup yang tragis itu belum usai. Badan Ayub pun digerogoti borok. Dari ujung rambut sampai ujung kaki (Ayb. 2:7).

Kedua, Ayub menderita secara sosial. Kehilangan Ayub dan penyakitnya membuat Ayub ditinggalkan orang-orang yang dikasihi. Ini benar-benar sebuah pukulan yang sangat berat. Kata orang, bila ada teman maka persoalan hidup jadi lebih ringan. Tapi perkataan itu tak berlaku bagi Ayub. Ia harus melanjutkan hidupnya sendirian. Istri yang diharapkan mendukung, malahan menyerang dan meninggalkannya (Ayb. 2:9; 19:17). Para kerabat dan budak-budaknya pun tak lagi di pihaknya (Ayb. 19:13-19). Lagi, orang-orang yang dulu derajatnya jauh di bawah Ayub, kini merendahkan martabatnya. Mereka menjadikan Ayub sebagai bahan olokan (Ayb. 30:1-15). Duh, betapa berat kenestapaanmu Yub!

Ketiga, Ayub mengalami "siksaan" secara emosi. Tak jarang pikirannya terganggu. Ia sering terjaga dari tidurnya (Ayb. 7:4, 13-14). Ia juga sering mengalami ketakutan (Ayb. 9:28), kesendirian (Ayb. 19:13-19), dan mengalami kepahitan (Ayb. 7:11; 10:1; 27:2).

Penderitaan yang maha berat itu membuat Ayub merasa Tuhan telah meninggalkannya. Jika pemazmur mengalami penyertaan Tuhan (Mzm. 139:7-9), Ayub tidak. Ayub berkata, "Sesungguhnya, kalau aku berjalan ke Timur, Ia tidak di sana; atau ke Barat, tidak kudapati Dia; di Utara kucari Dia, Ia tidak tampak, aku berpaling ke Selatan, aku tidak melihat Dia" (Ayb. 23:8-9, 15). Selain itu, Ayub mengira Tuhan telah menyerangnya dan menganggapnya sebagai musuh. Demikian keluh kesahnya, "karena anak panah dari Yang Mahakuasa tertancap pada tubuhku, dan racunnya diisap oleh jiwaku; kedahsyatan Allah seperti pasukan melawan aku" (Ayb. 6:4; bdk. 7:17-19; 13:24; 16:9; 19:25).

Dalam penderitaan itu, Ayub mempersalahkan Tuhan. Ia menganggap Tuhan telah berlaku tidak adil dengan mendatangkan (atau setidaknya mengizinkan) penderitaan bergulung-gulung mengempas hidupnya. Dalam sedihnya, Ayub berkata, "Allah telah berlaku tidak adilterhadap aku, dan menebarkan jala-Nya atasku" (Ayb. 19:6; bdk. 27:2). Bahkan, Ayub hendak menuntut Tuhan karena "ketidakadilan" dan "kesalahanan-Nya" (Ayb. 23:3-7; bdk. 9:3, 20). Bagaimana Ayub memandang penderitaannya? Ayub merasa Tuhan telah berlaku tidak adil padanya, seorang yang hidupnya benar. Mungkin, sikap semacam ini juga dimiliki sebagian orang percaya.

Sahabat-Sahabat Ayub sebagai Hakim: Tuhan Benar, Ayub Salah

Pepatah Inggris berbunyi: "a friend indeed is a friend in need" (terj. bebas: "sahabat sejati adalah sahabat pada saat-saat yang dibutuhkan"). Syukur, masih ada sahabat-sahabat yang mengiring Ayub di jalan penderitaannya. Tatkala mereka mendengar berita tentang kesulitan yang dialami Ayub (yang pasti berita itu tidak diterima lewat email atau sms), mereka segera membesuk Ayub. Ketiga sahabat itu—Elifas, Bildad, dan Zofar—duduk bersama-sama di tanah bersama-sama dengan Ayub. Tanpa bersuara. Memang, bagi seorang yang dirudung duka, kehadiran seorang teman, meskipun tanpa kata-kata (penghiburan) bagaikan oase di padang gurun yang kering.

Setelah tujuh kali mentari terbangun dari peraduannya, keheningan itu pecah. Mulailah Elifas angkat bicara. Berturut-turut diikuti dengan kata-kata Bildad dan Zofar. Diskusi mereka dengan Ayub menjadi bagian terbesar dari kitab Ayub (psl. 4-37). Bagian ini terbagi menjadi tiga siklus. Siklus yang pertama (3-11) dan kedua (12-14), adalah dialog antara Ayub dengan ketiga sahabatnya. Sedangkan siklus ketiga (21-37) merupakan pembicaraan antara Ayub dengan Elifas dan Bildad. Kemudian, dialog ditutup dengan perkataan Elihu, seorang sahabat Ayub yang lain.

Sahabat-sahabat Ayub menyakini doktrin retribusi. Apa itu doktrin retribusi? Pada intinya, doktrin ini mengajarkan bahwa: orang benar pasti diberkati, dan orang jahat pasti menderita. Keyakinan ini dipegang oleh agama-agama Timur dekat kuno pada waktu itu. Karena Ayub (sangat) menderita, menurut para sahabat, ia telah melakukan dosa. Agar Ayub terbebas dari segala penderitaannya, para sahabat itu meminta Ayub untuk bertobat dari dosa-dosanya. Bagi para sahabat, Ayub telah berbuat salah, dan Tuhan (sudah seharusnya) mendatangkan penderitaan-penderitaan itu untuk menghukum Ayub.

Sampai kini masih ada orang yang punya pandangan serupa. Ketika melihat saudara seimannya terpuruk dalam penderitaan, ada yang berkata: "Pasti dia telah melakukan dosa yang buueesaaar! Rasain hukuman Tuhan." Memang, Tuhan bisa saja memakai penderitaan untuk menghajar anak-anak-Nya, namun, tak selalu demikian. Contohnya: Ayub. Ada lagi contoh yang lain: Yusuf. Yusuf juga mengalami penderitaan bertubi-tubi. Terpisah dari sang ayah terkasih, dijual sebagai budak, bahkan masuk penjara. Semua itu dialami bukan karena ia telah berdosa.

Tuhan sebagai Hakim: Tuhan Benar, Ayub Benar

Di tengah-tengah saling silang pendapat antara Ayub dan para sahabat, yang notabene masing-masing merasa diri benar, Tuhan hadir. Tuhan hadir di dalam badai yang dasyat. Kali ini Tuhan datang untuk menjelaskan penderitaan yang dialami Ayub. Penjelasan Tuhan ini merupakan puncak dari seluruh kitab Ayub (psl. 38-42). Jawaban Tuhan itu dibagi ke dalam dua bagian yang masing-masingnya direspons oleh perkataan Ayub.

Tuhan pun mengajak Ayub beperkara. Ia berkata, ""Siapakah dia yang menggelapkan keputusan dengan perkataan-perkataan yang tidak berpengetahuan? Bersiaplah engkau sebagai laki-laki! Aku akan menanyai engkau, supaya engkau memberitahu Aku. Apakah engkau hendak meniadakan pengadilan-Ku, mempersalahkan Aku supaya engkau dapat membenarkan dirimu?" (Ayb. 40:2-3).

Menarik sekali bahwa Tuhan sama sekali tidak menjelaskan alasan penderitaan Ayub. Tuhan tidak menjelaskan, mengapa Ayub meskipun ia saleh, jujur, dan takut kepada Allah tetapi ia menderita. Allah sama sekali tidak menjawab pertanyaan: "mengapa kepada orang yang paling benar ditimpakan penderitaan yang paling berat?"

Kita sebagai pembaca mengetahui alasan penderitaan yang ditimpa oleh Ayub. Dari Ayub 1-2, kita dapat membaca apa yang sebenarnya terjadi di belakang layar kehidupan Ayub. Kita tahu bahwa Allah mengizinkan penderitaan bertubi-tubi untuk membuktikan kepada setan bahwa Ayub, hamba-Nya yang benar, akan tetap hidup benar meskipun ia telah kehilangan segala-galanya.

Yang membingungkan kita adalah mengapa Tuhan tidak menceritakan behind the scene itu kepada Ayub Begitu rahasia itu disingkapkan, semua khan jadi beres. Pertanyaan-pertanyaan Ayub pun akan terjawab. Ia akan pasti manggut-manggut lalu ngomong "Oh begitu, pantesan saya menderita meskipun saya orang benar, karena Tuhan mengizinkan iblis mencobai saya untuk membuktikan kemurnian iman saya!"

Aneh memang. Tuhan tidak membeberkan misteri itu. Sebaliknya, Tuhan malahan mengajukan pertanyaan-pertanyaan retoris pada Ayub. Praktik semacam itu biasa pada masa itu. Seorang guru mengajukan pertanyaan-pertanyaan retoris yang tak bisa dijawab oleh muridnya. Memang sang guru tidak menghendaki muridnya menjawab pertanyaan-pertanyaan itu. Tujuannya adalah untuk menunjukkan bahwa sebetulnya si murid itu tak tahu apa-apa dan ia harus belajar lebih banyak lagi.

Tuhan bertanya kepada Ayub, di manakah Engkau ketika Aku menciptakan dunia ini? Jawabahannya jelas, Ayub belum ada saat Tuhan mencipta. Tuhan bertanya, siapakah yang menciptakan seluruh alam semesta ini? Jawabannya pasti, Tuhan bukan Ayub! Tuhan bertanya lagi, dapatkah Engkau menciptakan bintang-bintang dan mengatur jalannya alam semesta ini? Tentu saja jawabnya tidak dapat!

Tuhan pun bertanya tentang jalan hidup binatang-binatang liar: singa, burung gagak, kambing gunung, rusa, keledai liar, lembu hutan, burung onta, kuda dan burung elang. Tuhan tidak tanya pada Ayub mengenai binatang-binatang yang ia biasa pelihara, seperti: unta, lembu, sapi, kambing, domba dan keledai. Kalau Tuhan tanya tentang binatang-binatang peliharaaan itu, barangkali Ayub tahu jawabannya. Tetapi Tuhan bertanya mengenai binatang-binatang liar yang Ayub tidak ketahui. Yang merupakan sebuah misteri bagi Ayub.

Tuhan pun bertanya kepada Ayub mengenai Behemot dan Lewiatan (diterjemahkan LAI sebagai "kuda Nil" dan "buaya"), binatang-binatang yang merupakan lambang pencipta kekacauan. Tuhan bertanya, dapatkah Ayub berkuasa atas binatang-binatang liar itu? Jawabannya tentu saja tidak.

Saudara mungkin bertanya, apa maksud dari semua pertanyaan Tuhan itu? Apa kaitannya dengan penderitaan yang dialami oleh Ayub? Sedikitnya ada dua hal yang Tuhan mau katakan kepada Ayub (dan kepada kita) melalui pertanyaan-pertanyaan itu. Pertama, Allah tidak pernah salah dan Ia yang mengontrol jalan setiap orang percaya. Pribadi dan kuasa Tuhan jauh lebih besar daripada Ayub. Di hadapan Allah, Ayub hanyalah setitik debu. Tuhan tidak pernah lepas kontrol atas kehidupan Ayub. Kalau Tuhan sanggup mencipta seluruh alam semesta dan mengatur setiap detail dari ciptaan-Nya tentu Ia sanggup mengatur hidup Ayub. Allah tidak pernah salah sama sekali. Bahkan, ketika penderitaan yang Ayub alami itu begitu berat, hidup Ayub tetap ada dalam genggaman tangan Allah, sang Pencipta dan Pengatur semesta.

Kedua

, Allah dan keputusan-keputusan-Nya jauh melampaui pikiran manusia. Pemikiran Ayub yang terbatas tidak sanggup memahami Allah yang tak terbatas. Jangankan memahami Allah, ciptaan-Nya saja tidak dapat dipahami sepenuhnya oleh manusia. Makanya, ilmu-ilmu hayat (kedokteran, ilmu tentang tetumbuhan dan binatang) dan ilmu non-hayat terus berkembang. Setiap waktu selalu ada penemuan yang baru. Itu buktinya manusia belum memahami sepenuhnya misteri alam semesta.

Allah pun menyatakan pada Ayub bahwa Ia benar adanya. Hal itu bertolak belakang dengan tuduhan Ayub bahwa Allah bersalah dan tidak adil ketika Ia membiarkan hamba-Nya menderita. Tuhan pun menanggapi para sahabat Ayub yang menuduh bahwa Ayub telah bersalah. Pada mereka Tuhan menunjukkan bahwa Ayub tidak bersalah. Bahkan, para sahabat itu dinyatakan Tuhan bersalah, karena menganggap Ayub bersalah.

Respons Ayub: Tetap Beriman, Meskipun Belum Tahu

Ayub memang seorang yang luar biasa. Pribadinya sungguh memukau saya. Ia tak hanya dapat diandalkan dalam hal kekudusan, kesalehan, dan kejujurannya (Tuhan sendiri lho yang menyatakannya!; lih. Ayb. 1:8). Imannya juga kokoh. Kayak batu karang. Memang perjalanan imannya sempat terseok-seok. Tapi, akhirnya ia bangkit dan menjadi pemenang. Yang mengagumkan saya ialah Ayub tetap beriman meskipun ia belum tahu. Walaupun ia belum tahu alasan penderitaannya (yaitu: untuk membuktikan kepada iblis bahwa kesalehannya bukan karena harta dan hidup bahagia), namun ia tetap setiap pada Allah. Di penghujung pergumulannya, saat Ayub belum tahu alasan penderitaannya, ia berkata kepada Tuhan, "Aku tahu, bahwa Engkau sanggup melakukan segala sesuatu, dan tidak ada rencana-Mu yang gagal" (Ayb. 42:2).

Saat kita mengalami penderitaan, tak jarang rekan kita berkata, "Tetaplah kuat, karena Tuhan punya rencana yang indah di balik semua ini." Perkataan itu benar sepenuhnya. Masalahnya adalah adakalanya, kita tak pernah tahu apa rencana indah itu. Seperti halnya yang dialami oleh Ayub, tak semua alasan atau penderitaan yang kita alami disingkap kepada kita. Namun, kita dapat berkata dengan penuh iman, bahwa penderitaan itu akan membuat kita mengenal Allah lebih dalam, seperti pengakuan Ayub, "Hanya dari kata orang saja aku mendengar tentang Engkau, tetapi sekarang mataku sendiri memandang Engkau" (Ayb. 42:5). Penderitaan itu juga merenda hidup kita, supaya kita semakin hari semakin serupa Kristus (Rm. 8:28-29). Jadi, mari kita terus menjalani hidup walau sulit dan berat dengan bersandar pada-Nya, karena percaya bahwa Tuhan tak pernah salah, meski tak semua pertanyaan kita terjawab.

Pelajaran Cinta dari Film Sex and The City

Pelajaran Cinta dari Film Sex and The City

Para perempuan di film Sex and the City tak hanya memikirkan shopping tetapi telah menjadikannya sebagai hal rutin yang dilakukan setiap hari.
    Senin, 7 Juli 2008 | 16:26 WIB

    Film komedi romantis Sex and The City (SATC) yang diadaptasi dari serial TV ini memang mengguncang dunia. Menonton film yang telah lama ditunggu jutaan fansnya ini ternyata tak hanya memanjakan mata lewat busana glamor yang dipakai para pemerannya, tapi juga bisa membuat kita belajar tentang cinta. Ya, film ini memang bercerita tentang perayaan cinta dan persahabatan. Apa saja yang bisa kita pelajari dari sini?

    1. Tak Ada Salahnya Melajang
    Bila sampai saat ini Anda belum menemukan pria yang tepat untuk dijadikan kekasih, jangan takut. Belajar dari film SATC, banyak hal menarik yang bisa kita lakukan sebelum terikat perkawinan, salah satunya adalah membeli sepatu Manolo Blahnik, juga bepergian ke Meksiko.

    2. Terbuka kepada Sahabat
    Sebenarnya pembicaraan mengenai seks antarwanita sudah berlangsung dari dulu. Tapi di film ini kita ditunjukkan bahwa hubungan persahabatan yang kental bisa membuat seseorang bicara begitu terbuka mengenai kehidupan seksnya. Positifnya, dengan terbuka kita bisa dapat saran dan masukan dari teman yang bisa dipercaya.

    3. Belajar Setia
    Samantha yang terkenal hobi gonta-gonta pasangan saja akhirnya bisa berkomitmen. Ia berusaha mati-matian untuk tetap setia dan menahan diri agar tidak tergoda pada pesona tetangganya yang tampan. Usahanya berhasil meski pada akhirnya ia merasa hidupnya terasa hambar karena ada sesuatu dari dirinya yang hilang.

    4. No Body’s Perfect
    Ketika mengetahui suaminya berselingkuh, Miranda patah hati berat. Terlebih perkawinannya memang mulai hambar. Berbagai usaha sang suami untuk meminta maaf tak digubrisnya. Hingga akhirnya mereka menemui konselor perkawinan. Menjelang hari keputusan, miranda yang memang punya karakter mandiri membuat daftar kelebihan dan kekurangan sang suami. Tapi akhirnya dengan rendah hati ia menyadari bahwa daftar kekurangannya  lebih banyak.

    5. Sahabat, Teman Sejati
    Meski sedang sibuk menata hidup masing-masing, persahabatan keempat cewek di film SATC tak pernah pudar. Justru mereka makin kompak dan saling mendukung satu sama lain. Terbukti, di saat susah hanya sahabat yang kita andalkan. Saat Carie patah hati akibat rencana pernikahannya yang kurang mulus, ketiga sahabatnya dengan tulus menghiburnya dan menemaninya hingga ia bangkit.

    6. Jalan Tak Selalu Mulus
    Pacaran bertahun-tahun bukan jaminan ia orang yang tepat untuk diajak menikah. Hal tersebut dialami Big yang mendadak ragu akan keputusannya menikahi Carie. Jadi, jangan buru-buru membuat keputusan. Percayalah pada hati kecil Anda.

    Kembali ke Kantor Lama

    Kamis, 3 Juli 2008 | 10:42 WIB

    Tania baru setahun bekerja di perusahaan baru. Namun, ia sudah merasa tidak nyaman dengan irama kerja di sana. Alih-alih mendapat kesempatan yang lebih baik, di tempat baru ini ia merasa kariernya akan jalan di tempat. Suatu hari, tanpa diduga, mantan big boss di tempat lama menghubungi lagi dan memintanya kembali bekerja di sana dengan iming-iming posisi dan gaji dua kali lipat daripada sebelumnya.

    Kesempatan ini tentu saja tidak dilewatkan. Apalagi, selama ini ia memang sering merindukan mantan teman-temannya dulu. Jangan buru-buru membayangkan yang enak-enaknya dulu, tapi antisipasi juga rintangan yang bakal dihadapi dari kemunculan Anda lagi di sana. Kembali ke kantor lama memang tidak semudah membalikkan telapak tangan. Tapi, bukan berarti tidak mungkin. Bagaimana mengatasi rintangan yang menghadang di kantor lama?

    DEKATI REKAN LAMA
    Di hari pertama, teman-teman Anda menyapa dengan suka cita. Anda seperti anak hilang yang kembali ke pangkuan induk semangnya. Anda pun merasa seperti pulang ke rumah, bukan lagi anak baru yang buta terhadap lingkungan sekitar.

    Namun, ini biasanya tidak berlangsung lama. Tnggu sampai mereka tahu posisi baru yang Anda tempati dan gaji Anda yang menjulang melebihi rekan-rekan lain. Perlu disadari, tak semua orang menerima kehadiran Anda dengan tangan terbuka. Apalagi, jika posisi yang menjadi rebutan kini ditempati oleh Anda dan secara kedudukan mereka sekarang di bawah Anda. Bersiaplah menjadi sasaran empuk gosip.

    Apa yang sebaiknya dilakukan? Hadapi saja dengan tenang. Pelajari situasi dan peta perpolitikan di sana. Posisikan diri Anda sebagai orang baru yang perlu menyesuaikan diri lagi. Lakukan pendekatan terhadap rekan-rekan lama. Tunjukkan itikad baik bahwa kembalinya Anda bukan untuk "menyingkirkan" mereka, malah kalau bisa membantu mereka. Bergaullah dengan mereka seperti dulu, jangan membuat jarak. Misalnya, makan siang atau nongkrong bareng.

    DILARANG PAMER
    Mengetahui Anda kembali dengan posisi dan gaji lebih tinggi saja sudah membuat mereka sakit hati, jadi jangan tambahi dengan memamerkan bahwa big boss-lah yang meminta Anda untuk kembali. Apalagi dengan embel-embel, "Sebenarnya saya enggak mau, tapi atasan memaksa." Anda bisa jadi musuh seluruh kantor.

    Sebaiknya, hindari juga memamerkan besarnya gaji Anda kepada mereka. Karena, ini akan menambah keresahan seluruh "umat". Jika keingintahuan mereka lumayan besar, jawab saja bahwa gaji Anda tidak jauh beda dengan yang lama.

    UNJUK KELEBIHAN
    Jika soal gaji Anda tidak disarankan pamer, soal gagasan dan kemampuan sangat boleh Anda tunjukkan. Sebab, Anda diminta oleh atasan, yang artinya Anda sah-sah saja menunjukkan ada semua orang bahwa Anda memang layak menempati posisi baru tersebut.

    Saat rapat, keluarkan gagasan brilian Anda. Buatlah rencana kerja yang matang. Sebelumnya, mungkin Anda mulai menginventarisir bawahan Anda, kelebihan dan kelemahan mereka. Karena Anda mengenal mereka dengan baik, jadi sebenarnya Anda sudah tahu kelebihan dan kelemahan mereka. Hal ini memudahkan Anda saat pendelegasian tugas. Sebaiknya, tekankan kepada mereka bahwa Anda membutuhkan dukungan dan bantuan mereka sebagai tim kerja.

    BERSIKAP KONSISTEN
    Kendala yang mungkin terjadi biasanya penyangkalan terhadap kebijakan yang Anda buat. Protes-protes kecil dan keengganan melakukan apa yang Anda tugaskan, mungkin akan Anda temui. Tapi, enggak perlu resah dulu. Asalkan Anda bisa bersikap konsisten, mempunyai empati yang besar terhadap kesulitan rekan-rekan satu tim, dan menghargai setiap usaha dan prestasi mereka, lambat lain mereka juga akan memahami posisi Anda dan situasi linggkungan akan berjalan seperti biasa.

    Perlu juga dipahami, kembali ke kantor lama, berarti tuntutan perusahaan pada Anda juga lebih besar. Jangan jadikan itu sebagai beban, melainkan tantangan yang membaut Anda terpacu menghasilkan karya terbaik. Good luck!