Archive for August, 2008


Huihhh

Terlalu banyak hal yang terjadi buat gue sumpex hari2 ini
One : ga ada kerjaan.. huikkk… asli bosan tenannnnnnnnnnnnn
Two : yahhh u knowlah para makhluk.. kadang2 kalo ngomong sesukana sendiri.. kadang udah tuwir pun ga ngerasa getoohh.. ngomong sesukana sendiri.. kadang marah2in orang cm karena dia ada trauma meski ga ada hub ma gue at all.. yahhh trus abis ntu yang laenn juga kadang2 ga ngerti asal nuduh2 dll.. yahh dulu sehh diem2 aja n smile.. but I know that needs confirmation.. bahkan jujur sorry jika ada yang gue sakitin akhir2 ini… Jujur loe sendiri ngata2in orang kaya gitu.. ada bukti ga.. Kadang really2 aku ngerasa kalo JAKARTA penuh dengan KEMUNAFIKAN.. meskipun itu yang berlaku beberapa tuch orang DAERAH.

Klo gue inget temen2 gue dulu skul n kul… beda banget ma yang sekarang.. mereka pintar2 tapi ga sombong, ga licik.. ga menyebalkan… Jujur if you bersaing dengan bener kenapa… apa ga bs?? Sehingga harus dengan cara licik mendapatkan apa yang loe mao!?

Buat yang cari pasangan, yang cari konsumen juga.. Just be yourself ajalah!! Ga usah jelek2in pesaing, temen seprofesi, boongin calon pasangan / pelanggan.. Jijay bajayy dahh !! Pada dasarnya kalo ikan busuk tetep aja bakal keluar baunya.. :)

Jujur recharge from temen2, I said very2 thank you..to Sandra.. thx ya sis.. dari kata-katamu, blogmu.. semua hal termasuk kejujuran kudapatkan.. loe bener2 really orang yang luar biasa, yang mau bertumbuh terus di dalam Tuhan. No compromise!! Salah tetep salah, bener tetep bener.. Gue acungin jempol perjuangan loe d Jgj juga Sby right now… to Pebz.. still the samee.. thx buat sms2 penguatann.. sering banget pas ma keadaan gue.. luar biasa langkah yang loe ambil mengenai kerjaan.. TOP BGT !! to Andi & istri.. blog2 kalian luar biasa banget.. emang kita ga boleh salahin keadaan, jika kita dah memilih.. to Hera, Aniz ‘n Vina, thx buat hari-hari kemaren d Jogja.. gue bersyukur ada temen-temen yang isa bahas suatu hal secara mendalam gt.. ga cuma memaknai hal-hal cm sebatas makan n tidur n boros2in duit doang..

LAYAK MENERIMA PENGHORMATAN

Sudah agak lama saya kheqi dengan beberapa rekan kerja saya di kantor sehubungan dengan cara mereka memanggil orang lain. Salah satu contohnya, mereka tahu setiap kali saya bertemu dengan rekan dokter kami, saya selalu menyapa dengan panggilan “dok” atau “dokter”. Sudah berkali-kali mereka mendengar saya memperagakan panggilan itu di hadapan mereka, tapi masih saja mereka tetap memanggil dengan panggilan umum “ibu”. Lama sekali saya memendam perasaan jengkel saya, tapi memang ini sudah keterlaluan, memang harus dibenahi untuk kebaikan mereka dan kepentingan institusi kami.

Ini percakapan kami:

Saya: Apakah kalian nggak perhatiin bagaimana saya menghargai rekan dokter kita dengan memanggil “dok”?

Rekans: Ya, kami tahu.

Saya: Tapi kenapa kalian nggak lakukan itu?

Rekans: Kami tetap menghormatinya kok, walaupun tetap memanggil “ibu”, sebab semua penelepon juga mendapatkan julukan yang sama, yaitu “bapak” atau “ibu”; itu kami menghargai.

Saya: Sejujurnya, apakah nggak tergelitik sebersit di hati kalian bahwa memanggil “dokter” adalah suatu hal yang lebih baik daripada sekedar “ibu”?
Rekans: Iya, sih.
Saya: Jadi, kenapa nggak mempraktekannya?

Rekans: (Diam saja)

Saya: Jadi apa bedanya ibu-ibu di pasar dengan ibu dokter? Bagaimana ibu dokter merasakan mendapatkan penghormatan dari kalian dengan panggilan yang sama dengan “ibu” penjual tempe di pasar? Apakah kalian juga dengan jujur memberikan penghormatan kepada penjual telor di pasar saat menyebutnya “ibu” dengan segala respek kepadanya setara dengan saat kalian melontarkan “ibu” kepada dokter itu? Apakah ada nada “berat” yang mewakili “ibu” (dokter) dibanding “ibu” penjual sayur di pasar?

Rekans: (diam saja, mulai menyadari, tetapi sulit menerima kenyataan buruk yang sedang terjadi - pengupasan)

Saya: Apakah jika kalian ke rumah sakit, kalian menyebut dokter dengan sebutan yang sama persis dengan “ibu” suster? Kalian khan memanggil “suster” dengan julukan suster, tapi kenapa dengan dokter manggil “ibu”? Bagaimana dengan ibu-ibu yang sedang antri diperiksa juga, ibu-ibu hamil, atau ibu pembersih W.C rumah sakit? Bagaimana membedakannya? Ini bukan hal yang tidak lazim, ini hal yang seharusnya tidak perlu diajarkan, kalian seharusnya punya sense tinggi untuk memberi penghormatan. Sudah berkali-kali rekan dokter kami ini meminta saya untuk memanggilnya dengan nama depannya saja, tapi saya tidak akan pernah melakukan itu. Dia mungkin merasa risih karena saya menghargainya terlalu tinggi (yang seharusnya tidak terlalu tinggi, karena itulah dia, dan dengan uangnya yang banyak dia telah menyabet jabatan itu di negara asing dan mendapatkan predikat pegawai negeri yang bergengsi, jadi tidak keterlaluan jika saya mempatenkan “doc” itu di depan namanya, karena memang itulah dia). Sekarang, saya mau kalian jujur, apakah sebenarnya di hati kalian ada juga keinginan untuk meniru saya memanggil dengannya dengan ringan “doc”?

Rekans: Iya.

Saya: Jadi, kenapa nggak mau praktek? Mau tahu jawabannya? Sombong.
Pertama, kalian sombong, kalian merasa lebih baik dari orang lain;
kedua, kalian tidak menghormati orang yang seharusnya layak menerima penghormatan; ketiga, kalian bebal. Sudah tahu bagaimana seharusnya melakukan yang lebih baik, yang seharusnya lebih enak didengar, tapi alot (berat, susah, lamban) untuk melakukannya, itu namanya bebal.

Gengsi, egonya tinggi sekali, sehingga menghargai jabatan orang lain saja susahnya ampun-ampun.

Memang untuk memulai sesuatu yang baik itu jauh susah dibanding memulai yang jelek. Contoh, kalau kita ngasih julukan jelek itu mudah, langsung keluar, nggak usah mikir, nggak usah memeras ego, nggak usah pakai kuda-kuda. Seperti: eh, jelek, sini lu! dasar bego! Najis deh, gue sumpahin elu mati di jalan; sini gua sobek-sobek. Dan sebangsanya itu, bukankah hal yang mudah? Tapi betapa susahnya untuk memuji dengan ketulusan, mengatakan hal yang indah, mulia, sedap didengar…kenapa susah?

Sudah seharusnya anak-anak Tuhan mulai langsung praktek lapangan, langsung mengatakan yang baik daripada yang jelek, kita harus beda, kita harus jadi panutan, jadi dampak yang berbeda bagi orang-orang dunia.

Kenapa banyak anak-anak Tuhan yang keluarganya belum percaya Yesus udah bertahun-tahun didoakan tapi nggak mau juga percaya Tuhan, dan kalau diajak ke gereja mereka “mrinding”? Karena kita sendiri nggak ada bedanya bagi mereka, kita nggak memancarkan terang. Kalau ditanya mamanya bagaimana masakannya, dia akan selalu berkata: “Yaaaa,…lumayan lah, enaklahhhh, enakk, abisss laper, kali…”

Mana bisa Mama diyakinkan dengan kekristenan model begini? Andai saja dari mulut yang makan masakan Mama yang sudah berkeringat susah payah menyajikan itu keluar kata-kata manis, pujian, ucapan syukur seperti: “Ma, makasih banyak ya, ini luar biasa, jauh lebih enak, lebih bersih dan lebih sehat dibanding masakan di luar. Tuhan memberkati Mama ya. Nanti akhir pekan kita gantian keluar yok, Ma, khan Mama udah capek semingguan masak terus, saya gantian traktir ya? Makan di mana enaknya Ma?”

Bukankah itu sangat manis kedengerannya daripada yang sudah-sudah.

Ada saja orang yang selalu mendekati saya dan berkata: “Saya nggak muji lho Maq, tapi kamu itu memang anu.” Saya heran, kenapa harus diselingi kata-kata “saya nggak muji” sebelum dia sebenarnya mau muji? Bukankah ini artinya, dia memang berat untuk mengeluarkan pujian? Nggak terbiasa muji, sehingga mau muji aja harus pake tedeng aling-aling “ini nggak muji lho?” Atau ada banyak yang bilang gini: “Terus terang ya, saya rasa kamu cukup anu…”. Kenapa harus terus terang? Emang Philip, terus terang terang terus? Darimana itu kata “terus terang”? Karena sebenarnya orang suka menyembunyikannya, menyembunyikan pujian maksud saya, sehingga untuk memulai pujian itu suatu hal yang harus ada hentakan keras, dan pada waktu pelampiasannya harus diserta dengan awalan “terus terang…”.

Kita kupas satu lagi sebelum menyelidiki akar asal-muasalnya kenapa manusia susah mengatakan kebaikan blak-blakan. Coba pikirkan kata-kata yang secara diplomatis sering kita ungkapkan: “cukup berbobot juga.., cukup anu”. Yang saya denger dari kedalaman hati mereka sih sebenarnya kalau jujur, sangat amat menakjubkan bobotnya, tapi entah bagaimana yang keluar kok nggak padat, cuman sebatas “cukup anu”. Jadi udah jelas belum bahwa kita memang bener-bener susah memberi penghormatan kepada orang yang layak menerimanya?

Kalau ada orang yang bilang begitu saat memuji sesuatu hal, saya nanya: “cuman cukup bagus, saja?” Jawabnya: “Yah, bagus sih, emang bagus.” Wuih…susahnya orang bilang sangat bagus, indah menawan, bener-bener luar biasa – bukankah kalau memang pertunjukannya sangat bagus, betapa agungnya jika kita menyatakannya sesuai takaran yang kita rasakan dalam hati dan takaran kelayakan yang patut diterima? – dibanding cuman “cukup baik, cukup menarik”. Ini adalah tradisi turun menurun moyang kita, saya nggak nyalahin mereka yang berkata-kata tanpa pengertian. Tapi karena saya melatih, mementor, memuridkan, saya merasa punya kewajiban untuk mematahkan tradisi-tradisi tidak baik yang tidak patut dipertahankan.

Saya juga menimbang-nimbang bahwa dengan adanya forum website ini, saya bisa mengajarkan apa yang baik untuk jadi panutan bagi anak-anak Tuhan di seluruh negeri; agar serentak mau berjuang melemparkan hal-hal yang kita sendiri tahu itu tidak baik jika dipertahankan.

Pujian yang indah yang keluar dari hati, akan disertai dengan ketulusan, tatapan mata yang penuh keyakinan, dan menyatakannya dengan keteguhan ucapan, sehingga orang yang menerimanya (layak menerimanya) akan bersyukur untuk hal itu.

Mengapa yang demikian jarang terjadi di dalam kebudayaan kita? Karena kita tidak diajar oleh orang tua untuk menyatakan terimakasih dari hati yang tulus. Atau mengucapkan terimakasih tetapi sambil ngeloyor, seolah-olah “terimakasih” itu tidak terlalu berharga. Padahal kita mau menyatakan dengan ketulusan, tapi kita risih melakukannya dengan sikap yang disertai kesungguhan itu sendiri. Well….! Saya berharap terjadi perubahan yang signifikan sementara Saudara melalui baris-baris ini.

Saya tidak pernah belajar bagaimana Tuhan atau para rasul memuji dengan tersipu-sipu. Mengucap syukurlah dalam segala hal. Rasul Paulus paling piawai dalam menyatakan pujiannya kepada rekan-rekan sepelayanannya tanpa basa-basi; beliau akan nyata-nyata langsung berterimakasih dengan menyebut hasil pelayanan, bantuan, perhatian mereka untuk jemaat-jemaat di Korintus, Efesus; atau untuk dirinya selama di penjara, selama perjalanan pelayanan, dsb. Dia menyebutkan satu persatu bantuan mereka dengan terimakasih dan pujian yang layak diterima oleh masing-masing pihak. Ini hal luar biasa yang harus kita praktekkan.

Tuhan sering memuji orang-orang dengan julukan mengagumkan; bukan seperti “goblok, botak, kurus, item, kudisan, gendut, crewet, dekil, brengsek, dsb”; Dia mengubah nama seseorang menjadi baik, berkuasa, diberkati. Abraham artinya bapa orang beriman, Sarah diganti Sarai; Simon diganti Petrus yang artinya batu karang, untuk menyatakan seperti apa Petrus jadinya atau seharusnya jadi; Gideon yang penakut dijuluki “pahlawan pemberani, gagah perkasa”; Saulus diganti Paulus; Yohanes dan Yakobus mendapat julukan Boanerges artinya anak guruh. Ini hal-hal “kecil” yang bagi kebanyakan kita tidak berarti, tetapi sangat penting di mata Tuhan. Memberikan pujian tulus, mengganti julukan lama dengan pembaharuan, sebab julukan/nama berpengaruh besar dalam kehidupan seseorang yang menyandangnya.

Setelah percakapan kami selesai, salah satu dari mereka bersaksi sekaligus mengaku: “Ini merupakan jawaban dari pertanyaan yang timbul di hati saya selama ini. Pada waktu saya sekolah dulu, ada seorang kakak tingkat, dan saya memanggilnya “kak”. Tapi sekarang, saya akui apa yang saya peroleh, pengertian dan lain-lain jauh di atas dia. Jadi beberapa waktu jika bertemu dengan kakak ini, saya enggan memanggilnya kak lagi. Entah kenapa, tapi setiap kali saya hanya memanggil nama dia, ada sesuatu yang aneh yang saya tidak bisa temukan jawabannya. Namun demikian, saya tetap tidak mau memanggilnya “kak” karena sesuatu (karena kakak itu tidak layak mendapatkan penghormatan sebagai kakak lagi, dia jauh di bawah level). Tapi dengan apa yang Sis Maq sampaikan semuanya ini, saya jadi sadar bahwa saya sudah masuk di dalam perangkap itu (kesombongan).
Saya menemukan jawabannya”.

Ahhhh…saya sudah belajar betapa susahnya manusia rohani untuk hidup lebih rohani tanpa kebentur roh kesombongan dulu. Memang kita semua harus belajar seperti Tuhan, Dia sendiri menyebut Musa “Nabi Musa” atau “Musa, hamba Tuhan itu”. Pada waktu Tuhan berkata kepada Imam Besar Harun, Tuhan menyebutnya dengan julukan “Nabi Musa”. Ini benar-benar saya garisbawahi, walaupun tentunya tidak setiap kali Tuhan mengucapkan nama Musa selalu diberi embel-embel Nabi Musa, tapi beberapa kali di sana tersirat bahwa Tuhan menghargai sebuah jabatan di antara lingkungan manusia!

Apa sih pentingya bagi Tuhan, jika Dia sendiri Tuhan di atas segalanya, kenapa repot-repot panggil nama jongos dengan julukan penghargaan di hadapan manusia lain? Tentu saja ada alasannya; Dia ingin mengajar kita bagaimana pun juga kita tidak lepas dari sistim otoritas. Kita pun menyebut-Nya TUHAN, yang berarti Tuan.

Jikalau kita sudah tahu apa yang baik yang seharusnya kita lakukan, baiklah kita tidak berberat-berat melakukannya, mengatakannya, menggantinya – memang susah, aneh, lucu, pasti diketawain. Tapi kalau kita tidak memulainya, kapan kita jadi orang yang beda? Kapan kita bisa membuat dampak perubahan? Kapan kita jadi teladan kebenaran dan kebaikan?

Hari ini, jika engkau mendengar suara-Nya, janganlah keraskan hatimu.

Bayarlah kepada semua orang apa yang harus kamu bayar: pajak kepada orang yang berhak menerima pajak, cukai kepada orang yang berhak menerima cukai; rasa takut kepada orang yang berhak menerima rasa takut dan hormat kepada orang yang berhak menerima hormat.

Roma 13:7

Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu.
Filipi 4:8

Perkatakan Mujizat Atas Jacqline Cellosse

 

Jacqline Cellosse, pemuji yang telah menelurkan beberapa album hit rohani ini,  dikabarkan sedang terbaring sakit. Hingga kini Jacqline maupun keluarganya, belum berhasil dihubungi oleh Jawaban.com.

Wanita yang mendampingi suaminya menggembalakan sebuah gereja ini, yaitu The Rock
Church di Jakarta ini, dikabarkan menghadapi penyakit yang tergolong
langka ini dengan tegar. Hal ini diungkapkan oleh Ibu Levy Supit (Ex
Host Solusi - Red) dalam sebuah ibadah gereja. Beliau menceritakan
bahwa Jacqline saat ini sedang menghadapi penyakit yang bermana
"Kikuchi-Fujimoto disease". Penyakit ini tergolong langka baik di
Indonesia maupun dunia. Di Indonesia sendiri, kabarnya hanya ada 3 orang pasien. Dan sedihnya, hingga kini penyakit ini belum ditemukan pengobatannya.

Penyakit
ini menyerang kelenjar getah bening yang mengakibatkan timbulnya
benjolan-benjolan , dan dalam satu hari bisa muncul 15 benjolan. Jika
rasa sakit tersebut menyerang Jacqline, dia hanya bisa terbaring
diranjang dan serasa lumpuh.

Menurut
reporter Jawaban.com yang menyaksikan video dimana ditayangkan keadaan
Jacqline saat ini, dia terlihat dalam keadaaan "ON FIRE" dengan Tuhan.
Sekalipun penyakit ini menyerangnya, imannya tampak kuat. Bahkan dia bersaksi, sempat melayanai orang sakit melalui telephone. Bahkan luar biasanya, Jacline beberapa waktu lalu sempat mengeluarkan sebuah album baru berjudul "
Romantic Worship."

Hal
ini yang dia ucapkan Jacqline dalam Video yang ditayangkan dalam ibadah
dimana Ibu Levy menceritakan keadaanya tersebut, "Sekalipun tubuh saya
rusak, saya tidak akan pernah menyerah dalam menyelesaikan pertandingan
iman saya. Saya tidak pernah meragukan kebaikan Tuhan dalam kehidupan
saya"

Penyakit
mematikan ini bukanlah pengalaman pertama Jacqline. Sebelumnya, pada
waktu ia berumur 12 tahun, dia juga pernah divonis mati oleh dokter
karena p
enyakit
syaraf yang dideritanya pada otak bagian kiri. Dan menurut dokter,
"Tanpa obat, kau takkan berumur panjang." Dan juga, Jacqline pernah
mengalami kanker payudara, namun semua penyakit itu hanya dihadapinya
dengan satu hal "DOA". Satu ayat yang ia pegang teguh,
"Katakanlah
kepada mereka: Demi Aku yang hidup, demikianlah Firman TUHAN,
bahwasanya seperti yang kamu katakan di hadapanKu, demikianlah akan
Kulakukan kepadamu!"

(Bilangan 14 : 28). Imannya mengatakan bahwa, Yesus adalah
penyembuhnya. Dan kesembuhan ia alami atas penyakit syaraf dan
kankernya.

Tuhan Yesus tetap sama, hari
ini, kemarin maupun esok, bahkan sampai selama-lamanya. Jika di
waktu-waktu yang lalu, Jacqline mengalami jamahan Tuhan dan disembuhkan
oleh kuasa darah Yesus. Hari inipun, hal itu tetap berlaku atas
hidupnya.

Namun
seperti yang Jacqline katakan, apapun keadaannya jangan menyerah dalam
menyelesaikan pertandingan iman. Mari kita dukung Jacqline Cellosse
dengan doa-doa kita.

             

Sumber : Jawaban.com/VM

         

                                           

Bahagia Karena

Pagi-pagi rasanya bahagia banget.. Padahal asli baru hari ini ke kantor pagii banget. jam 19 dah nyampe, karena musti ke Gambir pulangnya.. Soalnya jam kerja ga bs ditawar2 lagi.. Teu yee.. tuch embak cm gue ngmg tuch makanan gue di kulkas buat loe semua.. toh gue juga ga makan.. asli cuma telor doang beberapa, tapi dia bs senyum gt. Liat senyumnya gue jadi tersenyum juga..

Abis itu mo pergi khan, yah berhubung ada bawaan n ga banyak, kalo naek angkot ribet.. yah udah gue tengak-tengokk.. mana yah tukang2 ojek yang biasa.. trus gue beli makanan..ternyata beberapa lama tuch bapak dateng.. yah udah dechh. trus gue sampe ke kantor, kasih duit.. biasa tukang ojek gue tawar2 seh 15rebu.. tapi ya buat dia 20rb gpp.. Dia se pasrah aja gue kasi berapa.. Cuma gt aja dia seneeeengg banget.. keliatan dari mukanya dan dia blgn"Alhamdulilah".. tapi jujur gue jadi tertular happynya dia..

Ga teu ngepekk dmana trus gue sms ma baby face ntu.. Die blg gue knp seh.. tumben hari ini anehh beneer kynya… hahahahhahahaa.. gue juga ga jelas.. =)

Kebohongan

“Jika ya, hendaklah kamu katakan: ya, jika tidak, hendaklah kamu katakan: tidak. Apa yang lebih dari pada itu berasal dari si jahat”. (Matius 5:37)

Berapa sering kita dihadapkan kepada pilihan untuk berkata sebenarnya atau berkata dusta. Berapa sering juga kita lebih memilih berkata dusta dari pada mengatakan sebenarnya. Bahkan beberapa orang sudah bukan lagi menjadi sebuah pilihan untuk berkata dusta. Dalam dunia hal ini dianggap wajar dan alamiah, tetapi tidak bagi Tuhan!

“Orang yang dusta bibirnya adalah kekejian bagi TUHAN, tetapi orang yang berlaku setia dikenan-Nya”. (Amsal 12:22)

KEBOHONGAN MEMBAWA MAUT
Kelihatannya dusta dan bohong tidak berdampak apa-apa, bahkan sebaliknya malah menjadi penyelamat disetiap persoalan. Tetapi, sebenarnya pada saat anda berkata dusta atau bohong, si jahat telah mendapat bagian dalam hidup anda (Matius 5:37). Bukankah Efesus 4:27 berkata, “jangan beri kesempatan kepada Iblis.”, mengapa malah kita memberi tempat bagi si jahat untuk melakukan kehendaknya?

Tahukah anda bahwa Iblis itu adalah pembunuh manusia (Yohanes 8:44)? Kebohongan yang sering diucapkan akan membawa kita kepada maut, sebab Firman Tuhan mengatakan bahwa pendusta itu tempatnya di neraka kekal (Wahyu 21:8). Tidak bisa ditawar lagi, pasti dibinasakan dalam neraka kekal (Mazmur 5:7). Iblis tahu hal ini, karena itu ia membuat kata-kata dusta itu mujarap dan menjadi seperti penyelamat disetiap persoalan kita, “Hal itu tidak usah mengherankan, sebab Iblispun menyamar sebagai malaikat Terang”, kata 2 Korintus 11:14. Jangan menyangka jalan keluar dari si jahat lewat dusta itu tanpa akibat.

Satu kali kita bebohong dan itu membuat persoalan selesai, kedua kali dan ketiga kali kita menjadi semakin biasa, kempat kali dan keseratus kali kita sudah mahir, keseribu kalinya kita telah menjadi pendusta yang cakap.

Mungkin bukan setiap perkara kita berkata dusta, tetapi dusta telah menjadi juru penyelamat disetiap persoalan kita. Anda bisa berkata “saya bukan pendusta” tetapi tanpa disadari, saat ada memberi tempat kepada Iblis, ia telah bekerja dengan sangat halus dan tahu-tahu anda telah berada di seberang jurang yang tak terpisahkan (Lukas 16:26, Amsal 14:12). Berhati-hatilah dengan mulut ini. Amsal 18:21 mengatakan bawah hidup dan mati dikuasai oleh lidah, karena itu Raja Daud dalam kuasa Roh Allah mengatakan, “Ya TUHAN, lepaskanlah aku dari pada bibir dusta, dari pada lidah penipu.” (Mazmur 120:2) karena ia tahu bahwa dusta itu membawa kepada maut. Baca juga Yakobus 3:6.

KEBOHONGAN YANG SUCI

Beberapa orang menyangka bahwa tidak semua dusta itu keji dihadapan Tuhan dan membawa maut. Beberapa orang menyebutnya dengan bohong putih atau bohong kudus seperti yang dilakukan olah orang-orang dalam perjanjian lama. Contohnya Abraham berbohong soal istrinya kepada raja Gerar (Kejadian 20:1-18), Daud berbohong kepada raja Filistin seakan ia gila (1 Samuel 21:10-15) dan mereka lolos dari persoalannya. Beberapa orang menganggap boleh berdusta asalkan untuk kebaikan, kebenaran atau kepentingan bersama, apalagi demi Tuhan.

“Sudikah kamu berbohong untuk Allah, sudikah kamu mengucapkan dusta untuk Dia?” (Ayub 13:7) kata Ayub saat membela diri dihadapan taman-temannya.

Ayat tersebut seakan-akan kita diperbolehkan untuk berdusta demi Allah demi kebenaran, dusta yang suci namanya.

Tetapi jika kita baca ayat selanjutnya Ayub 13:8-10 menuliskan, “Apakah kamu mau memihak Allah, berbantah untuk membela Dia? Apakah baik, kalau Ia memeriksa kamu? Dapatkah kamu menipu Dia seperti menipu manusia? Kamu akan dihukum-Nya dengan keras, jikalau kamu diam-diam memihak.”

Apakah pantas kita memakai nama Allah untuk melakukan dusta jika kita tahu Firman Tuhan diatas tersebut?

Pantaskah kita membelaNya dengan kata-kata dusta? Jika kita menggunakan alasan kebenaran atau kebaikan lalu kita berbohong kepada manusia itu sama saja kita sedang mendustai Allah. Allah jijik melihat kata-kata dusta dan bohong (Amsal 12:22), tetapi dengan seenaknya kita berdusta kepada manusia demi kebaikan seakan Tuhan dapat memaklumi perbuatan kita tersebut. Dapatkah Allah dibohongi? Atau sebaliknya, kita yang dibohongi Iblis.

Berbohong untuk kebenaran itu adalah tipu muslihat dari iblis. Bohong putih itu tipu daya si jahat. Jangan mau tertipu. Stop dusta apapun itu bentuknya.

“Aku menulis kepadamu, bukan karena kamu tidak mengetahui kebenaran, tetapi justru karena kamu mengetahuinya dan karena kamu juga mengetahui, bahwa tidak ada dusta yang berasal dari kebenaran”. (1 Yohanes 2:21)

KETERANGAN ABRAHAM DAN DAUD

Daud berbuat bohong kepada Raja Filistin bukan berarti dibenarkan oleh Allah. Itu tetap dosa walaupun mereka hidup dalam Wasiat Lama. Imamat 19:11 mengatakan, “Janganlah kamu mencuri, janganlah kamu berbohong dan janganlah kamu berdusta seorang kepada sesamanya.” Itu adalah hukum Taurat yang berlaku pada masa itu. Akibatnya terasa sampai sekarang, Filistin adalah satu-satunya negri ditengah Israel yang tidak dapat dikuasai oleh Daud bahkan Sulaiman dan sampai hari ini Palestina merupakan bagian kecil di tengah-tengah Israel yang tidak dapat dikuasai. Itu akibat dari dosa yang dilakukan Daud kepada Raja Filistin. 2 Samuel 21:15 menuliskan bahwa peperangan dengan Filistin sampai membuat Daud letih lesuh. Hal ini tidak tertulis pada peperangan dengan bangsa lainnya.

Abraham sebenarnya bukan berdusta, tetapi tidak berterus terang. Ia tidak berbohong saat mengatakan bahwa Sara itu sudaranya, sebab memang ia saudara tirinya dari lain ibu. Hal ini dijelaskan dalam Kejadian 20:12, “Lagipula ia benar-benar saudaraku, anak ayahku, hanya bukan anak ibuku, tetapi kemudian ia menjadi isteriku.” Walaupun salah telah menggandalkan kekuatannya sendiri tetapi Abraham tidak berdusta. Matius 10:16, kita harus cerdik tetapi tidak mencari jalan keluar yang tidak diperkenan Tuhan seperti dusta.

HATI PENDUSTA

“Mereka berkata dusta, yang seorang kepada yang lain, mereka berkata dengan bibir yang manis dan hati yang bercabang.” (Mazmur 12:3)

Kata-kata dusta itu lahir dari hati yang bercabang. Hati bercabang itu adalah hati yang tidak menetap, kadang mencintai Allah, kadang mencintai dunia. Kadang berseru pada Tuhan kadang mencari pertolongan dari dunia bahkan dari paranormal, peramal, dukun dll. Orang seperti ini akan mudah dikerjai oleh si jahat. Matius 5:37 mengatakan jika kita tidak berkata jujur maka sisanya itu berasal dari si jahat.

Jangan mendua, orang seperti itu Yakobus 1:8 katakan tidak tenang hidupnya. Hatinya akan sering gelisah, tidak ada damai sejahtera. Walau tertawa hati bisa merana (Amsal 14:13).

Seseorang berdusta karena dia mengira dari dusta maka persoalannya menjadi beres, dengan dusta maka tujuannya dapat tercapai. Tetapi sebenarnya ia sedang berusaha dengan kekuatannya sendiri (Yeremia 17:5) dan bahkan dengan caranya Iblis. Mereka menjadi kaki tangannya si jahat untuk melakukan lebih banyak kelaliman. Jangan mau dipakai sebagai senjatanya Iblis (Roma 6:13) bukan kebaikan yang akan kita terima tetapi celaka. Ingat ia adalah pembunuh dan itu tujuannya (Yohanes 8:44).

Kalau kita yakin bahwa Allah itu penolong kita (Mazmur 54:6), jangan lagi bercabang hati. Tetapkanlah hati kita dan bertindak dengan iman, sebab Firman Tuhan telah jelas bahwa dengan berkata benar kita tidak akan celaka, malah sebaliknya meraka yang berbohong yang akan binasa (Amsal 19:9).

“…, siapa yang jujur jalannya, keselamatan yang dari Allah akan Kuperlihatkan kepadanya.” (Mazmur 50:23b)

Banyak orang berpikir bahwa dengan berkata jujur maka akan celaka, karena itu lebih baik berbohong. Mereka yang berfikir seperti itu sedang digarap oleh si jahat. Firman Tuhan jelas mengatakan bahwa pertolongan dari Allah selalu tersedia bagi orang jujur, Tuhan sendiri yang menjadi pembela mereka (Amsal 2:7). Jika kita yakin hal ini, mengapa harus berdusta? Jika Tuhan pasti memberi jalan keluar dan pertolonganNya bahkan Ia menjadi pembela kita saat kita berkata jujur, mengapa harus takut lagi berkata jujur? Jangan beri kesempatan pada si jahat. Jangan hati kita mendua dan ragu akan Firman Tuhan dan kuasa Allah, lalu mencari jalan keluar dari si jahat. Celaka! Stop dusta!

“Mendekatlah kepada Allah, dan Ia akan mendekat kepadamu. Tahirkanlah tanganmu, hai kamu orang-orang berdosa! dan sucikanlah hatimu, hai kamu yang mendua hati!” (Yakobus 4: 8)

Hati ini harus disucikan dari perkara dosa dan dunia. Jika hati kita penuh dengan sampah dunia ini jangan heran jika kita sering mendua hati dan tidak tetap kepada Allah. Jangan biarkan dunia ini masuk dalam hati kita (1 Yohanes 2:15-16), jangan biarkan filsafa dosa tinggal dalam hati kita. Inilah kuncinya, “Jagalah hatimu dengan segela kewaspadaan karana dari situlah terpancar kehidupan.” (Amsal 4:23).