Sudah agak lama saya kheqi dengan beberapa rekan kerja saya di kantor sehubungan dengan cara mereka memanggil orang lain. Salah satu contohnya, mereka tahu setiap kali saya bertemu dengan rekan dokter kami, saya selalu menyapa dengan panggilan “dok” atau “dokter”. Sudah berkali-kali mereka mendengar saya memperagakan panggilan itu di hadapan mereka, tapi masih saja mereka tetap memanggil dengan panggilan umum “ibu”. Lama sekali saya memendam perasaan jengkel saya, tapi memang ini sudah keterlaluan, memang harus dibenahi untuk kebaikan mereka dan kepentingan institusi kami.
Ini percakapan kami:
Saya: Apakah kalian nggak perhatiin bagaimana saya menghargai rekan dokter kita dengan memanggil “dok”?
Rekans: Ya, kami tahu.
Saya: Tapi kenapa kalian nggak lakukan itu?
Rekans: Kami tetap menghormatinya kok, walaupun tetap memanggil “ibu”, sebab semua penelepon juga mendapatkan julukan yang sama, yaitu “bapak” atau “ibu”; itu kami menghargai.
Saya: Sejujurnya, apakah nggak tergelitik sebersit di hati kalian bahwa memanggil “dokter” adalah suatu hal yang lebih baik daripada sekedar “ibu”?
Rekans: Iya, sih.
Saya: Jadi, kenapa nggak mempraktekannya?
Rekans: (Diam saja)
Saya: Jadi apa bedanya ibu-ibu di pasar dengan ibu dokter? Bagaimana ibu dokter merasakan mendapatkan penghormatan dari kalian dengan panggilan yang sama dengan “ibu” penjual tempe di pasar? Apakah kalian juga dengan jujur memberikan penghormatan kepada penjual telor di pasar saat menyebutnya “ibu” dengan segala respek kepadanya setara dengan saat kalian melontarkan “ibu” kepada dokter itu? Apakah ada nada “berat” yang mewakili “ibu” (dokter) dibanding “ibu” penjual sayur di pasar?
Rekans: (diam saja, mulai menyadari, tetapi sulit menerima kenyataan buruk yang sedang terjadi - pengupasan)
Saya: Apakah jika kalian ke rumah sakit, kalian menyebut dokter dengan sebutan yang sama persis dengan “ibu” suster? Kalian khan memanggil “suster” dengan julukan suster, tapi kenapa dengan dokter manggil “ibu”? Bagaimana dengan ibu-ibu yang sedang antri diperiksa juga, ibu-ibu hamil, atau ibu pembersih W.C rumah sakit? Bagaimana membedakannya? Ini bukan hal yang tidak lazim, ini hal yang seharusnya tidak perlu diajarkan, kalian seharusnya punya sense tinggi untuk memberi penghormatan. Sudah berkali-kali rekan dokter kami ini meminta saya untuk memanggilnya dengan nama depannya saja, tapi saya tidak akan pernah melakukan itu. Dia mungkin merasa risih karena saya menghargainya terlalu tinggi (yang seharusnya tidak terlalu tinggi, karena itulah dia, dan dengan uangnya yang banyak dia telah menyabet jabatan itu di negara asing dan mendapatkan predikat pegawai negeri yang bergengsi, jadi tidak keterlaluan jika saya mempatenkan “doc” itu di depan namanya, karena memang itulah dia). Sekarang, saya mau kalian jujur, apakah sebenarnya di hati kalian ada juga keinginan untuk meniru saya memanggil dengannya dengan ringan “doc”?
Rekans: Iya.
Saya: Jadi, kenapa nggak mau praktek? Mau tahu jawabannya? Sombong.
Pertama, kalian sombong, kalian merasa lebih baik dari orang lain;
kedua, kalian tidak menghormati orang yang seharusnya layak menerima penghormatan; ketiga, kalian bebal. Sudah tahu bagaimana seharusnya melakukan yang lebih baik, yang seharusnya lebih enak didengar, tapi alot (berat, susah, lamban) untuk melakukannya, itu namanya bebal.
Gengsi, egonya tinggi sekali, sehingga menghargai jabatan orang lain saja susahnya ampun-ampun.
Memang untuk memulai sesuatu yang baik itu jauh susah dibanding memulai yang jelek. Contoh, kalau kita ngasih julukan jelek itu mudah, langsung keluar, nggak usah mikir, nggak usah memeras ego, nggak usah pakai kuda-kuda. Seperti: eh, jelek, sini lu! dasar bego! Najis deh, gue sumpahin elu mati di jalan; sini gua sobek-sobek. Dan sebangsanya itu, bukankah hal yang mudah? Tapi betapa susahnya untuk memuji dengan ketulusan, mengatakan hal yang indah, mulia, sedap didengar…kenapa susah?
Sudah seharusnya anak-anak Tuhan mulai langsung praktek lapangan, langsung mengatakan yang baik daripada yang jelek, kita harus beda, kita harus jadi panutan, jadi dampak yang berbeda bagi orang-orang dunia.
Kenapa banyak anak-anak Tuhan yang keluarganya belum percaya Yesus udah bertahun-tahun didoakan tapi nggak mau juga percaya Tuhan, dan kalau diajak ke gereja mereka “mrinding”? Karena kita sendiri nggak ada bedanya bagi mereka, kita nggak memancarkan terang. Kalau ditanya mamanya bagaimana masakannya, dia akan selalu berkata: “Yaaaa,…lumayan lah, enaklahhhh, enakk, abisss laper, kali…”
Mana bisa Mama diyakinkan dengan kekristenan model begini? Andai saja dari mulut yang makan masakan Mama yang sudah berkeringat susah payah menyajikan itu keluar kata-kata manis, pujian, ucapan syukur seperti: “Ma, makasih banyak ya, ini luar biasa, jauh lebih enak, lebih bersih dan lebih sehat dibanding masakan di luar. Tuhan memberkati Mama ya. Nanti akhir pekan kita gantian keluar yok, Ma, khan Mama udah capek semingguan masak terus, saya gantian traktir ya? Makan di mana enaknya Ma?”
Bukankah itu sangat manis kedengerannya daripada yang sudah-sudah.
Ada saja orang yang selalu mendekati saya dan berkata: “Saya nggak muji lho Maq, tapi kamu itu memang anu.” Saya heran, kenapa harus diselingi kata-kata “saya nggak muji” sebelum dia sebenarnya mau muji? Bukankah ini artinya, dia memang berat untuk mengeluarkan pujian? Nggak terbiasa muji, sehingga mau muji aja harus pake tedeng aling-aling “ini nggak muji lho?” Atau ada banyak yang bilang gini: “Terus terang ya, saya rasa kamu cukup anu…”. Kenapa harus terus terang? Emang Philip, terus terang terang terus? Darimana itu kata “terus terang”? Karena sebenarnya orang suka menyembunyikannya, menyembunyikan pujian maksud saya, sehingga untuk memulai pujian itu suatu hal yang harus ada hentakan keras, dan pada waktu pelampiasannya harus diserta dengan awalan “terus terang…”.
Kita kupas satu lagi sebelum menyelidiki akar asal-muasalnya kenapa manusia susah mengatakan kebaikan blak-blakan. Coba pikirkan kata-kata yang secara diplomatis sering kita ungkapkan: “cukup berbobot juga.., cukup anu”. Yang saya denger dari kedalaman hati mereka sih sebenarnya kalau jujur, sangat amat menakjubkan bobotnya, tapi entah bagaimana yang keluar kok nggak padat, cuman sebatas “cukup anu”. Jadi udah jelas belum bahwa kita memang bener-bener susah memberi penghormatan kepada orang yang layak menerimanya?
Kalau ada orang yang bilang begitu saat memuji sesuatu hal, saya nanya: “cuman cukup bagus, saja?” Jawabnya: “Yah, bagus sih, emang bagus.” Wuih…susahnya orang bilang sangat bagus, indah menawan, bener-bener luar biasa – bukankah kalau memang pertunjukannya sangat bagus, betapa agungnya jika kita menyatakannya sesuai takaran yang kita rasakan dalam hati dan takaran kelayakan yang patut diterima? – dibanding cuman “cukup baik, cukup menarik”. Ini adalah tradisi turun menurun moyang kita, saya nggak nyalahin mereka yang berkata-kata tanpa pengertian. Tapi karena saya melatih, mementor, memuridkan, saya merasa punya kewajiban untuk mematahkan tradisi-tradisi tidak baik yang tidak patut dipertahankan.
Saya juga menimbang-nimbang bahwa dengan adanya forum website ini, saya bisa mengajarkan apa yang baik untuk jadi panutan bagi anak-anak Tuhan di seluruh negeri; agar serentak mau berjuang melemparkan hal-hal yang kita sendiri tahu itu tidak baik jika dipertahankan.
Pujian yang indah yang keluar dari hati, akan disertai dengan ketulusan, tatapan mata yang penuh keyakinan, dan menyatakannya dengan keteguhan ucapan, sehingga orang yang menerimanya (layak menerimanya) akan bersyukur untuk hal itu.
Mengapa yang demikian jarang terjadi di dalam kebudayaan kita? Karena kita tidak diajar oleh orang tua untuk menyatakan terimakasih dari hati yang tulus. Atau mengucapkan terimakasih tetapi sambil ngeloyor, seolah-olah “terimakasih” itu tidak terlalu berharga. Padahal kita mau menyatakan dengan ketulusan, tapi kita risih melakukannya dengan sikap yang disertai kesungguhan itu sendiri. Well….! Saya berharap terjadi perubahan yang signifikan sementara Saudara melalui baris-baris ini.
Saya tidak pernah belajar bagaimana Tuhan atau para rasul memuji dengan tersipu-sipu. Mengucap syukurlah dalam segala hal. Rasul Paulus paling piawai dalam menyatakan pujiannya kepada rekan-rekan sepelayanannya tanpa basa-basi; beliau akan nyata-nyata langsung berterimakasih dengan menyebut hasil pelayanan, bantuan, perhatian mereka untuk jemaat-jemaat di Korintus, Efesus; atau untuk dirinya selama di penjara, selama perjalanan pelayanan, dsb. Dia menyebutkan satu persatu bantuan mereka dengan terimakasih dan pujian yang layak diterima oleh masing-masing pihak. Ini hal luar biasa yang harus kita praktekkan.
Tuhan sering memuji orang-orang dengan julukan mengagumkan; bukan seperti “goblok, botak, kurus, item, kudisan, gendut, crewet, dekil, brengsek, dsb”; Dia mengubah nama seseorang menjadi baik, berkuasa, diberkati. Abraham artinya bapa orang beriman, Sarah diganti Sarai; Simon diganti Petrus yang artinya batu karang, untuk menyatakan seperti apa Petrus jadinya atau seharusnya jadi; Gideon yang penakut dijuluki “pahlawan pemberani, gagah perkasa”; Saulus diganti Paulus; Yohanes dan Yakobus mendapat julukan Boanerges artinya anak guruh. Ini hal-hal “kecil” yang bagi kebanyakan kita tidak berarti, tetapi sangat penting di mata Tuhan. Memberikan pujian tulus, mengganti julukan lama dengan pembaharuan, sebab julukan/nama berpengaruh besar dalam kehidupan seseorang yang menyandangnya.
Setelah percakapan kami selesai, salah satu dari mereka bersaksi sekaligus mengaku: “Ini merupakan jawaban dari pertanyaan yang timbul di hati saya selama ini. Pada waktu saya sekolah dulu, ada seorang kakak tingkat, dan saya memanggilnya “kak”. Tapi sekarang, saya akui apa yang saya peroleh, pengertian dan lain-lain jauh di atas dia. Jadi beberapa waktu jika bertemu dengan kakak ini, saya enggan memanggilnya kak lagi. Entah kenapa, tapi setiap kali saya hanya memanggil nama dia, ada sesuatu yang aneh yang saya tidak bisa temukan jawabannya. Namun demikian, saya tetap tidak mau memanggilnya “kak” karena sesuatu (karena kakak itu tidak layak mendapatkan penghormatan sebagai kakak lagi, dia jauh di bawah level). Tapi dengan apa yang Sis Maq sampaikan semuanya ini, saya jadi sadar bahwa saya sudah masuk di dalam perangkap itu (kesombongan).
Saya menemukan jawabannya”.
Ahhhh…saya sudah belajar betapa susahnya manusia rohani untuk hidup lebih rohani tanpa kebentur roh kesombongan dulu. Memang kita semua harus belajar seperti Tuhan, Dia sendiri menyebut Musa “Nabi Musa” atau “Musa, hamba Tuhan itu”. Pada waktu Tuhan berkata kepada Imam Besar Harun, Tuhan menyebutnya dengan julukan “Nabi Musa”. Ini benar-benar saya garisbawahi, walaupun tentunya tidak setiap kali Tuhan mengucapkan nama Musa selalu diberi embel-embel Nabi Musa, tapi beberapa kali di sana tersirat bahwa Tuhan menghargai sebuah jabatan di antara lingkungan manusia!
Apa sih pentingya bagi Tuhan, jika Dia sendiri Tuhan di atas segalanya, kenapa repot-repot panggil nama jongos dengan julukan penghargaan di hadapan manusia lain? Tentu saja ada alasannya; Dia ingin mengajar kita bagaimana pun juga kita tidak lepas dari sistim otoritas. Kita pun menyebut-Nya TUHAN, yang berarti Tuan.
Jikalau kita sudah tahu apa yang baik yang seharusnya kita lakukan, baiklah kita tidak berberat-berat melakukannya, mengatakannya, menggantinya – memang susah, aneh, lucu, pasti diketawain. Tapi kalau kita tidak memulainya, kapan kita jadi orang yang beda? Kapan kita bisa membuat dampak perubahan? Kapan kita jadi teladan kebenaran dan kebaikan?
Hari ini, jika engkau mendengar suara-Nya, janganlah keraskan hatimu.
Bayarlah kepada semua orang apa yang harus kamu bayar: pajak kepada orang yang berhak menerima pajak, cukai kepada orang yang berhak menerima cukai; rasa takut kepada orang yang berhak menerima rasa takut dan hormat kepada orang yang berhak menerima hormat.
Roma 13:7
Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu.
Filipi 4:8