Hidup dalam Kelemah Lembutan


HIDUP DALAM KELEMAHLEMBUTAN "Berbahagialah orang lemah lembut kare mereka akan memiliki bumi." Matius 5:5 Ditengah-tengah kehidupan manusia yang penuh dengan kekejaman, kesadisan, kekasaran, kekerasan, penyiksaan, ketersinggungan dan penuh emosional, maka TUHAN mengingatkan kepada kita akan prinsip hidup dari Kerajaan Surga tentang Kelemahlembutan, yang akan memiliki berkat-berkat bumi. Kelemahlembutan menjadi sesuatu yang sulit dijumpai karena kerasnya kehidupan dan banyaknya pergumulan yang menjadikan manusia kurang sabar, kurang tenang dalam jiwanya. YESUS sendiri memberitahukan dan menunjukkan bahwa diri-Nya adalah seorang yang lemah lembut (Matius 11:29 "Aku lemah lembuh …."). Dalam situasi yang terjadi dewasa ini, anak TUHAN dituntut untuk lemah lembut. Apakah saudara sudah lemah lembut ? Ada 3 ciri orang yang lemah lembut hatinya. Orang yang lemah lembut adalah orang yang memiliki pribadi :

1. Pribadi yang rela untuk dilukai atau diperlakukan dengan tidak adil. Dalam 1 Korintus 6:7, Paulus menyinggung tentang orang-orang yang mengalami perlakuan tidak adil. Memang kalau hal ini terjadi akan menyakitkan : merasa nggak enak, tertekan. Dimanapun kita berada, ketidakadilan dapat menimpa kita. Lihat TUHAN YESUS - yang banyak mengalami peristiwa ketidakadilan - YESUS dijual, YESUS ditangkap, YESUS dipermalukan, YESUS dianiaya, YESUS dicemooh, YESUS dicambuk, diperlakukan dengan tidak adil oleh kelompok yang yang memusuhinya yaitu orang Farisi, Yahudi dan orang Romawi. Meskipun demikian, YESUS tetap lemah lembut maka (Lukas 23:34 "Ya, BAPA ampunilah mereka&.karena mereka tidak tahu yang mereka perbuat…"). Dalam hidup kita ada banyak peristiwa yang sepertinya tidak adil menurut kita, tetapi hati yang lemah lembut menjadikan kita rela untuk dilukai, tidak mendendam, tidak kepahitan, tidak dengki atau benci.

2. Pribadi yang terbuka terhadap tegoran TUHAN. Firman TUHAN dalam Yakobus 1:21 berkata "……terimalah Firman dengan lemah lembut&.yang berkuasa menyelamatkan jiwa ..". Orang yang lemah lembut menerima kebenaran sebagai kebenaran, tidak berdalih, tidak menyalahkan orang, tetapi terbuka terhadap tegoran firman. Hati yang lembut bagaikan tanah yang subur, ditaburi benih pasti akan menghasilkan buah. Daud adalah contoh orang yang lemah lembut; dalam 2 Samuel 12:5-10 Daud ditegor oleh Nabi Nathan dalam peristiwa kesalahannya dengan Betsyeiba dan Uria. Respon Daud adalah terbuka dan menerima, lalu sadar dan bertobat. Olehnya TUHAN berkata ini orang yang berkenan dihati-Ku. Hati yang lemah lembut membuat kita terbuka untuk menerima tegoran Firman TUHAN.

3. Pribadi yang mudah dibentuk. Yeremia 18:4-6 "…seperti bejana di tangan Penjunan&demikianlah kita akan dibentuk sesuai dengan Hati Penjunan, Keinginan Penjunan dan Rencana Penjunan serta yang terbaik di Pemandangan Penjunan…". Setiap peristiwa dan kejadian yang menimpa kita, dapat dipakai oleh Si Penjunan untuk membentuk kita agar sesuai dengan rancangannya. Yusuf menyadari pembentukan TUHAN yang telah terjadi dalam perjalanan hidupnya. Dikatakan dalam Kejadian 45:5, "…untuk memelihara kehidupanlah ALLAH menyuruh Yusuf mendahului keluarganya ke Mesir ", sekalipun cara yang dipakai adalah Yusuf dengan dijual dan menjadi budak di tanah Mesir.

Kelemahlembutan merupakan hal terpenting yang menjadikan kita mengerti dan dapat menerima "Pembentukan TUHAN". Peneguhan Hati yang lembut menjadikan kita akan lebih dewasa secara rohani dan menyikapi setiap peristiwa yang TUHAN ijinkan terjadi dalam hidup kita secara dewasa dengan keyakinan bahwa ada sesuatu atau rencana yang terbaik didepan kita yang telah disediakan TUHAN.

Miliki ciri-ciri hati yang lembut, karena engkau akan memiliki bumi. TUHAN memberkati.

Keberhasilan is very easy


Really! Let’s look at these below stories. Kisah-kisah di bawah ini merupakan kisah sejati. Keberhasilan sangat mudah diraih, bahkan orang-orang sekuler tahu kunci-kunci keberhasilan, hanya saja mereka tidak tahu tujuan hidup mereka dengan keberhasilan yang mereka raih itu. Keberhasilan yang dikisahkan di bawah ini bukan karena iman, tetapi lebih kepada prinsip-prinsip keberhasilan yang sering saya ungkapkan pada Seminar BKI di berbagai tempat di Indonesia dan luar negeri, salah satu kiatnya yaitu PERSISTENT, HONEST, HARD WORK. OK, let’s start to read the stories yang saya kutip dari kisah orang lain entah dari mana.

Bertahun-tahun dahulu, pada malam hujan badai, seorang laki-laki tua dan istrinya masuk ke sebuah lobby hotel kecil di Philadelphia. Mencoba menghindari hujan, pasangan ini mendekati meja resepsionis untuk mendapatkan tempat bermalam. "Dapatkah anda memberi kami sebuah kamar disini ?" tanya sang suami.

Sang pelayan, seorang laki-laki ramah dengan tersenyum memandang kepada pasangan itu dan menjelaskan bahwa ada tiga acara konvensi di kota. "Semua kamar kami telah penuh," pelayan berkata. "Tapi saya tidak dapat mengirim pasangan yang baik seperti anda keluar kehujanan pada pukul satu dini hari. Mungkin anda mau tidur di ruangan milik saya? Tidak terlalu bagus, tapi cukup untuk membuat anda tidur dengan nyaman malam ini."

Ketika pasangan ini ragu-ragu, pelayan muda ini membujuk. "Jangan khawatir tentang saya. Saya akan baik-baik saja," kata sang pelayan. Akhirnya pasangan ini setuju. Ketika pagi hari saat tagihan dibayar, laki-laki tua itu berkata kepada sang pelayan, "Anda seperti seorang manager yang baik yang seharusnya menjadi pemilik hotel terbaik di Amerika. Mungkin suatu hari saya akan membangun sebuah hotel untuk anda." Sang pelayan melihat mereka dan tersenyum. Mereka bertiga tertawa.

Saat pasangan ini dalam perjalanan pergi, pasangan tua ini setuju bahwa pelayan yang sangat membantu ini sungguh suatu yang langka, menemukan seseorang yang ramah bersahabat dan penolong bukanlah satu hal yang mudah.

Dua tahun berlalu. Sang pelayan hampir melupakan kejadian itu ketika ia menerima surat dari laki-laki tua tersebut. Surat tersebut mengingatkannya pada malam hujan badai dan disertai dengan tiket p.p (pulang-pergi) ke New York, meminta laki-laki muda ini datang mengunjungi pasangan tua tersebut.

Laki-laki tua ini bertemu dengannya di New York dan membawa dia ke sudut Fifth Avenue and 34th Street. Dia menunjuk sebuah gedung baru yang megah disana, sebuah istana dengan batu ke-merah-an, dengan menara yang menjulang ke langit. "Itu," kata laki-laki tua, "adalah hotel yang baru saja saya bangun untuk engkau kelola".

"Anda pasti sedang bergurau," jawab laki-laki muda. "Saya jamin, saya tidak," kata laki-laki tua itu, dengan tersenyum lebar.

Nama laki-laki tua itu adalah William Waldorf Astor, dan struktur bangunan megah tersebut adalah bentuk asli dari Waldorf-Astoria Hotel. Laki-laki muda yang kemudian menjadi manager pertama adalah George C. Boldt. Pelayan muda ini tidak akan pernah melupakan kejadian yang membawa dia untuk menjadi manager dari salah satu jaringan hotel paling bergengsi di dunia.

Pelajarannya adalah…..perlakukanlah semua orang dengan kasih, kemurahan dan hormat dan anda tidak akan gagal.

"Kamu menyebut Aku Guru dan Tuhan, dan katamu itu tepat, sebab memang Akulah Guru dan Tuhan. Jadi jikalau Aku membasuh kakimu, Aku yang adalah Tuhan dan Gurumu, maka kamupun wajib saling membasuh kakimu; sebab Aku telah memberikan suatu teladan kepada kamu, supaya kamu juga berbuat sama seperti yang telah Kuperbuat kepadamu. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya seorang hamba tidaklah lebih tinggi dari pada tuannya, ataupun seorang utusan daripada dia yang mengutusnya. Jikalau kamu tahu semua ini, maka berbahagialah kamu, jika kamu melakukannya."
Yoh 13:13-17

"Tetapi kamu tidaklah demikian, melainkan yang terbesar di antara kamu hendaklah menjadi sebagai yang paling muda dan pemimpin sebagai pelayan."
Luk 22:26

Mungkin kisah di atas sudah Anda kenal, karena memang tidak asing dan sudah tersebar. Kebaikan yang kita lakukan dengan tulus tidak akan kembali dengan sia-sia. Tuhan memberkati orang-orang yang “memiutangi” Dia.

Namun kisah di bawah ini langka, karena adanya cuman di Solo dan hanya sedikit orang yang tahu. Kisah luar biasa ini bukan dilakukan oleh orang beriman seperti kite-kite ini…hanya dari kesadaran seorang ayah muda yang dipekerjakan oleh bosnya sebagai tenaga bawahan. Tidak mendapat kunci pintu masuk, tidak mendapatkan hak istimewa. Sedangkan rumahnya jauh dari tempat pekerjaannya, dan dia harus mengantar anaknya ke sekolah tiap pagi. Karena jika harus pulang ke rumah dan kembali ke tempat kerjanya akan memakan waktu yang cukup banyak dan membuang bensin, maka ia menanti sampai buka jam kantor di depan pintu halaman.

Sambil menanti, dia membersihkan halaman depan kantor. Makin hari, sang bos melihat kok halamannya bersih tiap pagi, padahal nggak ada orang dateng bersihin selain bawahannya yang “cuman” office boy ini. Lama kelamaan sang bos mempercayainya dan memberikan kunci pintu masuk ruang bagian depan. Di ruang depan pun ia membersihkan semua peralatan, mengepel, membenahi daun tumbuhan, membereskan bekas-bekas minum Aqua yang tercecer. Karena bos melihat ia setia dalam perkara kecil dan nggak ada satu barang pun yang hilang, bahkan jadi bersih dan enak dipandang mata, bos jadi semakin percaya. Maka bos mulai ngasih kunci masuk ruang kantor, ac sudah dinyalakan sebelum bos datang, dan banyak perkara-perkara kecil dilakukan yang membuat semakin hari dia semakin dapat dipercaya, dan dia diberi semua kunci! Dia jadi pemegang kunci kantor, kunci gudang, dll. Tidak lama kemudian bos memberikan dia kursus ini dan itu lalu kemudian mengirimnya menjadi direktur perwakilan di daerah lain.

Hebat nggak? Hebat sih hebat, tapi banyak orang males nyapu halaman luar, boro-borooo…nunggu beberapa menit aja udah ngomel apalagi nunggu sampai pintu dibuka. Gengsi iya, pake hem lengan panjang ganteng gini kok nyapu…ya ampun. Lha terus bagaimana bos akan melihat Anda rendah hati dan setia dalam perkara kecil? Ia nggak mungkin percayain perkara besar kepada orang yang tinggi hati dan maunya kerjanya langsung tanda tanganin cek perusahaan.

Kerendahan hati mendahului apa? Kehormatan, kekayaan, dan kemuliaan.

Mat 25:21 Maka kata tuannya itu kepadanya: Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia; engkau telah setia dalam perkara kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu.

Luk 12:43 Berbahagialah hamba, yang didapati tuannya melakukan tugasnya itu, ketika tuannya itu datang.

Hidup karena Iman Bukan karena Melihat


Sebuah Refleksi dari Kisah Hidup Ayub

Penderitaan—dalam segala bentuknya—merupakan bagian hidup anak manusia, tak terkecuali orang-orang percaya. Meskipun Herlijana, seorang anak Tuhan, bahkan pelayan Tuhan, namun hidupnya tak luput dari penderitaan. Betapa tidak, selama bertahun-tahun ibu dari satu anak ini didera oleh berbagai macam penyakit — (Kisah hidupnya itu dituangkannya sendiri dalam buku berjudul Bukankah Ini Mujizat?: Kisah Ketegaran Hati Wanita yang Hidup Bersama Kanker Payudara (Yogyakarta: Gloria, 2007). Bertubi-tubi. Kisah sedih itu dimulai tahun 2007, saat dokter memvonisnya menderita kanker payudara dan ia harus menjalani operasi. Setelah operasi, dokter mendiagnosis kankernya telah menjalar sampai ke getah bening. Alhasil, Herlijana pun harus menjalani serangkaian pengobatan—seperti radiasi dan kemoterapi—yang amat menyiksa. Penderitaannya tak cukup sampai di situ. Di bekas operasinya, timbul abses, sehingga ia harus dioperasi lagi. Selain itu, berbagai penyakit lain pun hinggap di tubuhnya yang semakin ringkih: vertigo, insomnia, kram pada kedua kaki, paru-paru sebelah kanan terendam air, sampai mata kiri yang buta.

Ketika menapaki jalan hidup terjal nan penuh derita itu, Herlijana pun bertanya, "Mengapa Tuhan mengizinkan semua penyakit ini kuderita?" Sebuah pertanyaan yang manusiawi. Pertanyaan yang mungkin saja keluar dari mulut orang-orang percaya yang mengalami penderitaan seberat dirinya. Bahkan, amat mungkin, ada orang percaya yang mempertanyakan keadilan dan ke-MahaKuasaan Tuhan tatkala tak kunjung menemukan jalan keluar dari penderitaannya. Pertanyaannya, bagaimanakah seharusnya orang percaya memandang penderitaannya?

Dalam Alkitab ada satu orang percaya yang juga mengalami penderitaan yang begitu berat. Namanya: Ayub. Sebagai manusia (tak hanya rocker yang manusia, bukan?), Ayub pun mengalami goncangan iman tatkala dirudung penderitaan. Baiklah kita belajar dari pengalaman hidup Ayub ketika bergumul dengan penderitaannya bersama-sama dengan Tuhan.

Ayub sebagai Hakim: Tuhan Salah, Ayub Benar

Orang normal akan membuang jauh-jauh semua hal yang berbau kematian dari pikiran. Misalnya, orang Tionghoa tidak suka dengan angka "empat" karena bunyinya mirip dengan kata "mati." Itulah sebabnya Saudara (hampir) tidak bisa menemukan lantai (bernomor) empat di hotel-hotel atau gedung-gedung tinggi. Tapi bagaimana dengan orang yang tidak lagi menemukan kebahagiaan? Bagi orang-orang semacam ini, kematian tampaknya lebih "menarik" daripada kehidupan. Tak sedikit orang mengakhiri hidupnya dengan mencabut nyawa mereka sendiri. Mereka berpikir, di balik kematian ada pengharapan, paling tidak, mereka tak lagi menderita. Pikiran Ayub pun dipenuhi dengan hal-hal berbau kematian. Ia menyesal mengapa ia hidup. Ia bertanya, "mengapa ia tak mati saja waktu lahir?" (Ayb. 3:1-19). Ia juga memohon agar Tuhan mencabut nyawanya (Ayb. 6:8-9). Baginya, lebih baik mati daripada hidup tapi menderita. Seberapa besar sih penderitaan Ayub, hingga ia minta mati?

Ayub dihantam derita multidimensional. Pertama, ia mengalami derita fisik. Ia kehilangan semua hartanya (baca: ternak-ternaknya) dalam sehari (Ayb. 1:13-17). Selain itu, ia harus kehilangan hartanya yang paling berharga dalam sekejap, yaitu: anak-anaknya (Ayb. 1:18-19). Bukankah keluarga adalah harta yang paling berharga (ingat soundtrack sinetron "Keluarga Cemara" yang pernah menghiasi layar kaca)? Rupanya, "film" hidup yang tragis itu belum usai. Badan Ayub pun digerogoti borok. Dari ujung rambut sampai ujung kaki (Ayb. 2:7).

Kedua, Ayub menderita secara sosial. Kehilangan Ayub dan penyakitnya membuat Ayub ditinggalkan orang-orang yang dikasihi. Ini benar-benar sebuah pukulan yang sangat berat. Kata orang, bila ada teman maka persoalan hidup jadi lebih ringan. Tapi perkataan itu tak berlaku bagi Ayub. Ia harus melanjutkan hidupnya sendirian. Istri yang diharapkan mendukung, malahan menyerang dan meninggalkannya (Ayb. 2:9; 19:17). Para kerabat dan budak-budaknya pun tak lagi di pihaknya (Ayb. 19:13-19). Lagi, orang-orang yang dulu derajatnya jauh di bawah Ayub, kini merendahkan martabatnya. Mereka menjadikan Ayub sebagai bahan olokan (Ayb. 30:1-15). Duh, betapa berat kenestapaanmu Yub!

Ketiga, Ayub mengalami "siksaan" secara emosi. Tak jarang pikirannya terganggu. Ia sering terjaga dari tidurnya (Ayb. 7:4, 13-14). Ia juga sering mengalami ketakutan (Ayb. 9:28), kesendirian (Ayb. 19:13-19), dan mengalami kepahitan (Ayb. 7:11; 10:1; 27:2).

Penderitaan yang maha berat itu membuat Ayub merasa Tuhan telah meninggalkannya. Jika pemazmur mengalami penyertaan Tuhan (Mzm. 139:7-9), Ayub tidak. Ayub berkata, "Sesungguhnya, kalau aku berjalan ke Timur, Ia tidak di sana; atau ke Barat, tidak kudapati Dia; di Utara kucari Dia, Ia tidak tampak, aku berpaling ke Selatan, aku tidak melihat Dia" (Ayb. 23:8-9, 15). Selain itu, Ayub mengira Tuhan telah menyerangnya dan menganggapnya sebagai musuh. Demikian keluh kesahnya, "karena anak panah dari Yang Mahakuasa tertancap pada tubuhku, dan racunnya diisap oleh jiwaku; kedahsyatan Allah seperti pasukan melawan aku" (Ayb. 6:4; bdk. 7:17-19; 13:24; 16:9; 19:25).

Dalam penderitaan itu, Ayub mempersalahkan Tuhan. Ia menganggap Tuhan telah berlaku tidak adil dengan mendatangkan (atau setidaknya mengizinkan) penderitaan bergulung-gulung mengempas hidupnya. Dalam sedihnya, Ayub berkata, "Allah telah berlaku tidak adilterhadap aku, dan menebarkan jala-Nya atasku" (Ayb. 19:6; bdk. 27:2). Bahkan, Ayub hendak menuntut Tuhan karena "ketidakadilan" dan "kesalahanan-Nya" (Ayb. 23:3-7; bdk. 9:3, 20). Bagaimana Ayub memandang penderitaannya? Ayub merasa Tuhan telah berlaku tidak adil padanya, seorang yang hidupnya benar. Mungkin, sikap semacam ini juga dimiliki sebagian orang percaya.

Sahabat-Sahabat Ayub sebagai Hakim: Tuhan Benar, Ayub Salah

Pepatah Inggris berbunyi: "a friend indeed is a friend in need" (terj. bebas: "sahabat sejati adalah sahabat pada saat-saat yang dibutuhkan"). Syukur, masih ada sahabat-sahabat yang mengiring Ayub di jalan penderitaannya. Tatkala mereka mendengar berita tentang kesulitan yang dialami Ayub (yang pasti berita itu tidak diterima lewat email atau sms), mereka segera membesuk Ayub. Ketiga sahabat itu—Elifas, Bildad, dan Zofar—duduk bersama-sama di tanah bersama-sama dengan Ayub. Tanpa bersuara. Memang, bagi seorang yang dirudung duka, kehadiran seorang teman, meskipun tanpa kata-kata (penghiburan) bagaikan oase di padang gurun yang kering.

Setelah tujuh kali mentari terbangun dari peraduannya, keheningan itu pecah. Mulailah Elifas angkat bicara. Berturut-turut diikuti dengan kata-kata Bildad dan Zofar. Diskusi mereka dengan Ayub menjadi bagian terbesar dari kitab Ayub (psl. 4-37). Bagian ini terbagi menjadi tiga siklus. Siklus yang pertama (3-11) dan kedua (12-14), adalah dialog antara Ayub dengan ketiga sahabatnya. Sedangkan siklus ketiga (21-37) merupakan pembicaraan antara Ayub dengan Elifas dan Bildad. Kemudian, dialog ditutup dengan perkataan Elihu, seorang sahabat Ayub yang lain.

Sahabat-sahabat Ayub menyakini doktrin retribusi. Apa itu doktrin retribusi? Pada intinya, doktrin ini mengajarkan bahwa: orang benar pasti diberkati, dan orang jahat pasti menderita. Keyakinan ini dipegang oleh agama-agama Timur dekat kuno pada waktu itu. Karena Ayub (sangat) menderita, menurut para sahabat, ia telah melakukan dosa. Agar Ayub terbebas dari segala penderitaannya, para sahabat itu meminta Ayub untuk bertobat dari dosa-dosanya. Bagi para sahabat, Ayub telah berbuat salah, dan Tuhan (sudah seharusnya) mendatangkan penderitaan-penderitaan itu untuk menghukum Ayub.

Sampai kini masih ada orang yang punya pandangan serupa. Ketika melihat saudara seimannya terpuruk dalam penderitaan, ada yang berkata: "Pasti dia telah melakukan dosa yang buueesaaar! Rasain hukuman Tuhan." Memang, Tuhan bisa saja memakai penderitaan untuk menghajar anak-anak-Nya, namun, tak selalu demikian. Contohnya: Ayub. Ada lagi contoh yang lain: Yusuf. Yusuf juga mengalami penderitaan bertubi-tubi. Terpisah dari sang ayah terkasih, dijual sebagai budak, bahkan masuk penjara. Semua itu dialami bukan karena ia telah berdosa.

Tuhan sebagai Hakim: Tuhan Benar, Ayub Benar

Di tengah-tengah saling silang pendapat antara Ayub dan para sahabat, yang notabene masing-masing merasa diri benar, Tuhan hadir. Tuhan hadir di dalam badai yang dasyat. Kali ini Tuhan datang untuk menjelaskan penderitaan yang dialami Ayub. Penjelasan Tuhan ini merupakan puncak dari seluruh kitab Ayub (psl. 38-42). Jawaban Tuhan itu dibagi ke dalam dua bagian yang masing-masingnya direspons oleh perkataan Ayub.

Tuhan pun mengajak Ayub beperkara. Ia berkata, ""Siapakah dia yang menggelapkan keputusan dengan perkataan-perkataan yang tidak berpengetahuan? Bersiaplah engkau sebagai laki-laki! Aku akan menanyai engkau, supaya engkau memberitahu Aku. Apakah engkau hendak meniadakan pengadilan-Ku, mempersalahkan Aku supaya engkau dapat membenarkan dirimu?" (Ayb. 40:2-3).

Menarik sekali bahwa Tuhan sama sekali tidak menjelaskan alasan penderitaan Ayub. Tuhan tidak menjelaskan, mengapa Ayub meskipun ia saleh, jujur, dan takut kepada Allah tetapi ia menderita. Allah sama sekali tidak menjawab pertanyaan: "mengapa kepada orang yang paling benar ditimpakan penderitaan yang paling berat?"

Kita sebagai pembaca mengetahui alasan penderitaan yang ditimpa oleh Ayub. Dari Ayub 1-2, kita dapat membaca apa yang sebenarnya terjadi di belakang layar kehidupan Ayub. Kita tahu bahwa Allah mengizinkan penderitaan bertubi-tubi untuk membuktikan kepada setan bahwa Ayub, hamba-Nya yang benar, akan tetap hidup benar meskipun ia telah kehilangan segala-galanya.

Yang membingungkan kita adalah mengapa Tuhan tidak menceritakan behind the scene itu kepada Ayub Begitu rahasia itu disingkapkan, semua khan jadi beres. Pertanyaan-pertanyaan Ayub pun akan terjawab. Ia akan pasti manggut-manggut lalu ngomong "Oh begitu, pantesan saya menderita meskipun saya orang benar, karena Tuhan mengizinkan iblis mencobai saya untuk membuktikan kemurnian iman saya!"

Aneh memang. Tuhan tidak membeberkan misteri itu. Sebaliknya, Tuhan malahan mengajukan pertanyaan-pertanyaan retoris pada Ayub. Praktik semacam itu biasa pada masa itu. Seorang guru mengajukan pertanyaan-pertanyaan retoris yang tak bisa dijawab oleh muridnya. Memang sang guru tidak menghendaki muridnya menjawab pertanyaan-pertanyaan itu. Tujuannya adalah untuk menunjukkan bahwa sebetulnya si murid itu tak tahu apa-apa dan ia harus belajar lebih banyak lagi.

Tuhan bertanya kepada Ayub, di manakah Engkau ketika Aku menciptakan dunia ini? Jawabahannya jelas, Ayub belum ada saat Tuhan mencipta. Tuhan bertanya, siapakah yang menciptakan seluruh alam semesta ini? Jawabannya pasti, Tuhan bukan Ayub! Tuhan bertanya lagi, dapatkah Engkau menciptakan bintang-bintang dan mengatur jalannya alam semesta ini? Tentu saja jawabnya tidak dapat!

Tuhan pun bertanya tentang jalan hidup binatang-binatang liar: singa, burung gagak, kambing gunung, rusa, keledai liar, lembu hutan, burung onta, kuda dan burung elang. Tuhan tidak tanya pada Ayub mengenai binatang-binatang yang ia biasa pelihara, seperti: unta, lembu, sapi, kambing, domba dan keledai. Kalau Tuhan tanya tentang binatang-binatang peliharaaan itu, barangkali Ayub tahu jawabannya. Tetapi Tuhan bertanya mengenai binatang-binatang liar yang Ayub tidak ketahui. Yang merupakan sebuah misteri bagi Ayub.

Tuhan pun bertanya kepada Ayub mengenai Behemot dan Lewiatan (diterjemahkan LAI sebagai "kuda Nil" dan "buaya"), binatang-binatang yang merupakan lambang pencipta kekacauan. Tuhan bertanya, dapatkah Ayub berkuasa atas binatang-binatang liar itu? Jawabannya tentu saja tidak.

Saudara mungkin bertanya, apa maksud dari semua pertanyaan Tuhan itu? Apa kaitannya dengan penderitaan yang dialami oleh Ayub? Sedikitnya ada dua hal yang Tuhan mau katakan kepada Ayub (dan kepada kita) melalui pertanyaan-pertanyaan itu. Pertama, Allah tidak pernah salah dan Ia yang mengontrol jalan setiap orang percaya. Pribadi dan kuasa Tuhan jauh lebih besar daripada Ayub. Di hadapan Allah, Ayub hanyalah setitik debu. Tuhan tidak pernah lepas kontrol atas kehidupan Ayub. Kalau Tuhan sanggup mencipta seluruh alam semesta dan mengatur setiap detail dari ciptaan-Nya tentu Ia sanggup mengatur hidup Ayub. Allah tidak pernah salah sama sekali. Bahkan, ketika penderitaan yang Ayub alami itu begitu berat, hidup Ayub tetap ada dalam genggaman tangan Allah, sang Pencipta dan Pengatur semesta.

Kedua

, Allah dan keputusan-keputusan-Nya jauh melampaui pikiran manusia. Pemikiran Ayub yang terbatas tidak sanggup memahami Allah yang tak terbatas. Jangankan memahami Allah, ciptaan-Nya saja tidak dapat dipahami sepenuhnya oleh manusia. Makanya, ilmu-ilmu hayat (kedokteran, ilmu tentang tetumbuhan dan binatang) dan ilmu non-hayat terus berkembang. Setiap waktu selalu ada penemuan yang baru. Itu buktinya manusia belum memahami sepenuhnya misteri alam semesta.

Allah pun menyatakan pada Ayub bahwa Ia benar adanya. Hal itu bertolak belakang dengan tuduhan Ayub bahwa Allah bersalah dan tidak adil ketika Ia membiarkan hamba-Nya menderita. Tuhan pun menanggapi para sahabat Ayub yang menuduh bahwa Ayub telah bersalah. Pada mereka Tuhan menunjukkan bahwa Ayub tidak bersalah. Bahkan, para sahabat itu dinyatakan Tuhan bersalah, karena menganggap Ayub bersalah.

Respons Ayub: Tetap Beriman, Meskipun Belum Tahu

Ayub memang seorang yang luar biasa. Pribadinya sungguh memukau saya. Ia tak hanya dapat diandalkan dalam hal kekudusan, kesalehan, dan kejujurannya (Tuhan sendiri lho yang menyatakannya!; lih. Ayb. 1:8). Imannya juga kokoh. Kayak batu karang. Memang perjalanan imannya sempat terseok-seok. Tapi, akhirnya ia bangkit dan menjadi pemenang. Yang mengagumkan saya ialah Ayub tetap beriman meskipun ia belum tahu. Walaupun ia belum tahu alasan penderitaannya (yaitu: untuk membuktikan kepada iblis bahwa kesalehannya bukan karena harta dan hidup bahagia), namun ia tetap setiap pada Allah. Di penghujung pergumulannya, saat Ayub belum tahu alasan penderitaannya, ia berkata kepada Tuhan, "Aku tahu, bahwa Engkau sanggup melakukan segala sesuatu, dan tidak ada rencana-Mu yang gagal" (Ayb. 42:2).

Saat kita mengalami penderitaan, tak jarang rekan kita berkata, "Tetaplah kuat, karena Tuhan punya rencana yang indah di balik semua ini." Perkataan itu benar sepenuhnya. Masalahnya adalah adakalanya, kita tak pernah tahu apa rencana indah itu. Seperti halnya yang dialami oleh Ayub, tak semua alasan atau penderitaan yang kita alami disingkap kepada kita. Namun, kita dapat berkata dengan penuh iman, bahwa penderitaan itu akan membuat kita mengenal Allah lebih dalam, seperti pengakuan Ayub, "Hanya dari kata orang saja aku mendengar tentang Engkau, tetapi sekarang mataku sendiri memandang Engkau" (Ayb. 42:5). Penderitaan itu juga merenda hidup kita, supaya kita semakin hari semakin serupa Kristus (Rm. 8:28-29). Jadi, mari kita terus menjalani hidup walau sulit dan berat dengan bersandar pada-Nya, karena percaya bahwa Tuhan tak pernah salah, meski tak semua pertanyaan kita terjawab.

Pelajaran Cinta dari Film Sex and The City


Pelajaran Cinta dari Film Sex and The City

Para perempuan di film Sex and the City tak hanya memikirkan shopping tetapi telah menjadikannya sebagai hal rutin yang dilakukan setiap hari.
    Senin, 7 Juli 2008 | 16:26 WIB

    Film komedi romantis Sex and The City (SATC) yang diadaptasi dari serial TV ini memang mengguncang dunia. Menonton film yang telah lama ditunggu jutaan fansnya ini ternyata tak hanya memanjakan mata lewat busana glamor yang dipakai para pemerannya, tapi juga bisa membuat kita belajar tentang cinta. Ya, film ini memang bercerita tentang perayaan cinta dan persahabatan. Apa saja yang bisa kita pelajari dari sini?

    1. Tak Ada Salahnya Melajang
    Bila sampai saat ini Anda belum menemukan pria yang tepat untuk dijadikan kekasih, jangan takut. Belajar dari film SATC, banyak hal menarik yang bisa kita lakukan sebelum terikat perkawinan, salah satunya adalah membeli sepatu Manolo Blahnik, juga bepergian ke Meksiko.

    2. Terbuka kepada Sahabat
    Sebenarnya pembicaraan mengenai seks antarwanita sudah berlangsung dari dulu. Tapi di film ini kita ditunjukkan bahwa hubungan persahabatan yang kental bisa membuat seseorang bicara begitu terbuka mengenai kehidupan seksnya. Positifnya, dengan terbuka kita bisa dapat saran dan masukan dari teman yang bisa dipercaya.

    3. Belajar Setia
    Samantha yang terkenal hobi gonta-gonta pasangan saja akhirnya bisa berkomitmen. Ia berusaha mati-matian untuk tetap setia dan menahan diri agar tidak tergoda pada pesona tetangganya yang tampan. Usahanya berhasil meski pada akhirnya ia merasa hidupnya terasa hambar karena ada sesuatu dari dirinya yang hilang.

    4. No Body’s Perfect
    Ketika mengetahui suaminya berselingkuh, Miranda patah hati berat. Terlebih perkawinannya memang mulai hambar. Berbagai usaha sang suami untuk meminta maaf tak digubrisnya. Hingga akhirnya mereka menemui konselor perkawinan. Menjelang hari keputusan, miranda yang memang punya karakter mandiri membuat daftar kelebihan dan kekurangan sang suami. Tapi akhirnya dengan rendah hati ia menyadari bahwa daftar kekurangannya  lebih banyak.

    5. Sahabat, Teman Sejati
    Meski sedang sibuk menata hidup masing-masing, persahabatan keempat cewek di film SATC tak pernah pudar. Justru mereka makin kompak dan saling mendukung satu sama lain. Terbukti, di saat susah hanya sahabat yang kita andalkan. Saat Carie patah hati akibat rencana pernikahannya yang kurang mulus, ketiga sahabatnya dengan tulus menghiburnya dan menemaninya hingga ia bangkit.

    6. Jalan Tak Selalu Mulus
    Pacaran bertahun-tahun bukan jaminan ia orang yang tepat untuk diajak menikah. Hal tersebut dialami Big yang mendadak ragu akan keputusannya menikahi Carie. Jadi, jangan buru-buru membuat keputusan. Percayalah pada hati kecil Anda.

    Kembali ke Kantor Lama


    Kamis, 3 Juli 2008 | 10:42 WIB

    Tania baru setahun bekerja di perusahaan baru. Namun, ia sudah merasa tidak nyaman dengan irama kerja di sana. Alih-alih mendapat kesempatan yang lebih baik, di tempat baru ini ia merasa kariernya akan jalan di tempat. Suatu hari, tanpa diduga, mantan big boss di tempat lama menghubungi lagi dan memintanya kembali bekerja di sana dengan iming-iming posisi dan gaji dua kali lipat daripada sebelumnya.

    Kesempatan ini tentu saja tidak dilewatkan. Apalagi, selama ini ia memang sering merindukan mantan teman-temannya dulu. Jangan buru-buru membayangkan yang enak-enaknya dulu, tapi antisipasi juga rintangan yang bakal dihadapi dari kemunculan Anda lagi di sana. Kembali ke kantor lama memang tidak semudah membalikkan telapak tangan. Tapi, bukan berarti tidak mungkin. Bagaimana mengatasi rintangan yang menghadang di kantor lama?

    DEKATI REKAN LAMA
    Di hari pertama, teman-teman Anda menyapa dengan suka cita. Anda seperti anak hilang yang kembali ke pangkuan induk semangnya. Anda pun merasa seperti pulang ke rumah, bukan lagi anak baru yang buta terhadap lingkungan sekitar.

    Namun, ini biasanya tidak berlangsung lama. Tnggu sampai mereka tahu posisi baru yang Anda tempati dan gaji Anda yang menjulang melebihi rekan-rekan lain. Perlu disadari, tak semua orang menerima kehadiran Anda dengan tangan terbuka. Apalagi, jika posisi yang menjadi rebutan kini ditempati oleh Anda dan secara kedudukan mereka sekarang di bawah Anda. Bersiaplah menjadi sasaran empuk gosip.

    Apa yang sebaiknya dilakukan? Hadapi saja dengan tenang. Pelajari situasi dan peta perpolitikan di sana. Posisikan diri Anda sebagai orang baru yang perlu menyesuaikan diri lagi. Lakukan pendekatan terhadap rekan-rekan lama. Tunjukkan itikad baik bahwa kembalinya Anda bukan untuk "menyingkirkan" mereka, malah kalau bisa membantu mereka. Bergaullah dengan mereka seperti dulu, jangan membuat jarak. Misalnya, makan siang atau nongkrong bareng.

    DILARANG PAMER
    Mengetahui Anda kembali dengan posisi dan gaji lebih tinggi saja sudah membuat mereka sakit hati, jadi jangan tambahi dengan memamerkan bahwa big boss-lah yang meminta Anda untuk kembali. Apalagi dengan embel-embel, "Sebenarnya saya enggak mau, tapi atasan memaksa." Anda bisa jadi musuh seluruh kantor.

    Sebaiknya, hindari juga memamerkan besarnya gaji Anda kepada mereka. Karena, ini akan menambah keresahan seluruh "umat". Jika keingintahuan mereka lumayan besar, jawab saja bahwa gaji Anda tidak jauh beda dengan yang lama.

    UNJUK KELEBIHAN
    Jika soal gaji Anda tidak disarankan pamer, soal gagasan dan kemampuan sangat boleh Anda tunjukkan. Sebab, Anda diminta oleh atasan, yang artinya Anda sah-sah saja menunjukkan ada semua orang bahwa Anda memang layak menempati posisi baru tersebut.

    Saat rapat, keluarkan gagasan brilian Anda. Buatlah rencana kerja yang matang. Sebelumnya, mungkin Anda mulai menginventarisir bawahan Anda, kelebihan dan kelemahan mereka. Karena Anda mengenal mereka dengan baik, jadi sebenarnya Anda sudah tahu kelebihan dan kelemahan mereka. Hal ini memudahkan Anda saat pendelegasian tugas. Sebaiknya, tekankan kepada mereka bahwa Anda membutuhkan dukungan dan bantuan mereka sebagai tim kerja.

    BERSIKAP KONSISTEN
    Kendala yang mungkin terjadi biasanya penyangkalan terhadap kebijakan yang Anda buat. Protes-protes kecil dan keengganan melakukan apa yang Anda tugaskan, mungkin akan Anda temui. Tapi, enggak perlu resah dulu. Asalkan Anda bisa bersikap konsisten, mempunyai empati yang besar terhadap kesulitan rekan-rekan satu tim, dan menghargai setiap usaha dan prestasi mereka, lambat lain mereka juga akan memahami posisi Anda dan situasi linggkungan akan berjalan seperti biasa.

    Perlu juga dipahami, kembali ke kantor lama, berarti tuntutan perusahaan pada Anda juga lebih besar. Jangan jadikan itu sebagai beban, melainkan tantangan yang membaut Anda terpacu menghasilkan karya terbaik. Good luck!

    I am so lost without You


    Hari-hari terasa membosankan.. Kadang merasa penat, kadang pusing karena terlalu nganggur.. Jujur rasa hati kadang sepi. Kenapa aku merasa sendiri. Sibuk telp sana sini kalo pas ga ada yang nelpon. Mau doa rasanya susaah banget masukk. Ga kerasa apa2.. cape deee..

    Trus rasanya Dia udah ga berfirman lagi kemaren2.. huhh… Jumat lalu bener-bener mulai merasa.. Rasanya ada suatu ruang yang bener-bener kosong yang biasa diisi oleh Dia dulu. God.. I’m lost without You.. Aku ga sempurna tanpa Engkau..

    Liat rambut yang salah potong (kependekkan), pengen sambung rambut. Kawat ga gitu ada perubahan, mau ganti dokter.. Dan lain lain… My perfectionist mulai menggejolak…

    Kemaren.. Dia bilang "Jangan takut, sebab Aku ini bersamamu." Cukup buat gue rada tenang, menghadapi situasi akhir-akhir ini. Jujur aku benernya kadang ga merasa butuh sosok pria dalam hidupku.. Palagi udah banyak kegagalan relationship dan pernikahan yang gue liat.. dari soal kecil sampai besar. Laki-laki dan perempuan tidak lagi berada dalam porsi mereka yang sebenarnya dalam keluarga.

    Todayy.. Aku merasa dan berkata,"Apakah anak manusia, sehingga Kau mengindahkannya.." Seneng dung jadi anak manusia.. diperhatikan Sang Pencipta. Tak abis2nya Dia mencurahkan berkat-berkatNya yang tidak terhenti.

    Yahhh gue kadang ga paham juga sehhh akan semua.. Kayanya hari-hari ini gue ditempatin dalam situasi yang lebih belajar untuk melihat orang laen lebih bahagia.. Asalkan mereka bahagia gitu… Kadang seh aku jengkel liat orang boong, palagi karena dia ga bisa ‘face on the problem’. Kesannya pengecut banget.

    7 PELAJARAN TENTANG HIDUP


    Saya menulis cerita pendek ini untuk Mustard, sebuah majalah anak-anak.
    Tapi pelajaran yang luar biasa dalam cerita itu tidak hanya  untuk anak-anak.
    Sebenarnya, saya percaya orang-orang dewasa lebih perlu  mendengarkan ini daripada anak-anak!
    Berikut adalah 7 pelajaran tentang mengubah hidup dari cerita tersebut:

    Pelajaran #1: Jangan mencari penyembah-penyembah ;tetapi carilah sahabat-sahabat sejati.

    Tidak semua teman diciptakan sama.  Beberapa teman hanyalah penggemar.  Mereka mengagumi Anda.  Mereka menyanjung Anda.  Mereka takut terhadap Anda.  Mereka mengambil keuntungan dari Anda.  Namun ketika Anda membutuhkan mereka, mereka tidak ada.  Pilihlah sahabat sejati daripada penggemar.  Ketika Anda mengalami kesulitan, mereka akan tetap berada di sisi Anda.

    Pelajaran #2: Cara terbaik untuk mencari seorang sahabat sejati adalah menjadi seorang sahabat sejati.

    Apakah Anda seorang sahabat sejati?  Apakah Anda memberikan perhatian kepada orang lain?  Apakah Anda menunjukkan kasih Anda terhadap mereka dengan cara yang tidak biasa?  Investasi terbaik yang akan pernah Anda lakukan adalah dalam relasi Anda. Di situlah harta Anda berada.

    Pelajaran #3: Penggertak itu lemah.  Hindari atau tentanglah, namun jangan pernah takut terhadap penggertak.

    Apakah Anda punya penggertak dalam hidup Anda?  Anda akan selalu berhadapan dengan para penggertak.  Mereka mengintimidasi orang. Mereka ingin Anda merasa takut terhadap mereka.  Mereka memanipulasi Anda untuk mengikuti mereka.  Tergantung situasi, Anda dapat menghindari atau menentang mereka.  Namun jangan pernah takut terhadap mereka.  Karena semua penggertak adalah palsu.  Dengan paksaan, mereka menutupi kelemahan yang ada di dalam diri mereka.  Tapi jauh di dalam, seorang penggertak adalah seorang anak rapuh yang memiliki banyak
    ketakutan.

    Pelajaran #4: Ketika seseorang tidak suka menjadi temanmu, biarkan saja dan tetaplah bersukacita.
    Hidup terlalu indah untuk disesali hanya karena penolakan seseorang.

    ‘Orang yang selalu ingin menyenangkan orang lain’ ingin menyenangkan setiap orang.  Dan ketika seseorang menolak mereka, mereka akan tewas.  Karena mereka memerlukan perasaan dibutuhkan.  Ketika seseorang menolak mereka, mereka sangat terluka – dan membawa luka ini ke manapun mereka pergi dan membiarkan luka ini berdampak bagi hidup mereka selamanya.  Apa yang dilakukan seorang yang dewasa ketika mereka mengalami penolakan?    Mereka juga terluka sama seperti orang lain namun mereka tidak membawa luka itu terus-menerus.  Mereka mengebaskan debu di kaki mereka dan terus maju.  Mereka mencintai diri mereka.  Mereka mencintai hidup.

    Pelajaran #5: Ketika seseorang marah terhadap Anda dengan cara yang tidak adil, kasihanilah orang itu.
    Ia akan menyakiti dirinya sendiri.
    Jangan mengasihani diri sendiri ketika Anda menerima kemarahan yang tidak adil.  Ingatlah bahwa kemarahan yang tidak adil itu menghancurkan orang yang marah, bukan Anda.  Kasihanilah orang itu.

    Pelajaran #6: Selalu bersikap baik dan ramah kepada setiap orang – entah dia itu seorang raja atau seorang pengemis.

    Setiap manusia yang Anda temui dalam hidup adalah anak-anak Tuhan. Entah ia duduk di atas tahta atau terbaring di lumpur, tak ada bedanya.  Orang tersebut adalah keluarga Anda.

    Pelajaran #7: Takaran Anda yang sesungguhnya diukur dari keberanian,
    kearifan, dan cinta Anda.

    Apakah Anda seorang yang besar?  Ukurlah keberanian dan kearifan Anda.  Dengan cara Anda mengasihi, Anda bisa tahu apakah Anda sudah dewasa dalam hidup atau tidak.

    BANGUNKAN RAKSASA DI DALAM DIRI ANDA


    Takaran Anda Yang Sebenarnya Diukur Dari
    Keberanian, Kearifan, dan Cinta Anda.

           Bahkan sebagai bayi gajah sekalipun, Bulig sangat besar.
           Ketika Bulig bertumbuh dewasa, ia lebih tinggi dan lebih besar dari semua teman-teman sepermainannya.
           Tidak perlu waktu lama hingga gajah lain merasa takut padanya. Dan Bulig mengetahui hal ini.  Karena itu ia menggunakan ukurannya untuk menakuti yang lain untuk melakukan apa yang ia ingin mereka lakukan.
           Ia akan mendengus dan menggeram sambil berkata, "Aku akan  remukkan kamu!"  Itu merupakan salam yang biasa ia katakan pada siapapun yang ia jumpai di jalan.
           Kenyataannya, jika gajah-gajah lain merasa takut pada Bulig, binatang-binatang kecil lainnya juga demikian.  Para monyet, kijang, harimau, dan bahkan singa pun terkagum-kagum terhadap binatang yang sangat besar itu.
           Para gajah memberinya sebuah rumah istimewa di puncak sebuah  bukit
    kecil.  Dan tahta Bulig adalah sebuah ranjang berukuran raksasa.  Di situlah ia berbaring dan memerintah seluruh hutan.
           Setiap pagi, para gajah akan memberinya sekeranjang pisang.  Dan  para monyet akan memberinya sekeranjang apel.  Dan kijang akan memberinya sekeranjang kacang.  Hal ini terjadi setiap hari.
           Karena itu Bulig bertumbuh semakin besar.  Dan semakin ia  bertumbuh, semakin takutlah binatang-binatang terhadapnya.
           Ia sekarang menjadi sesosok dewa bagi seluruh binatang di sana. Sekelompok burung undan bergantian mengipasinya. Sekelompok burung parkit bernyanyi baginya setiap pagi. Sekelompok kera berakrobat sebagai hiburan malam baginya.
           Untuk waktu yang sangat lama, Bulig jarang meninggalkan  rumahnya.
           Sebenarnya, selama bertahun-tahun, ia bahkan tidak pernah  berdiri dari ranjang raksasanya.
           Yang ia lakukan hanyalah mendengus dan menggeram sesekali waktu,  "Aku
    akan remukkan kamu!"  Dan setiap kali ia mengatakan itu, semua binatang akan sangat ketakutan.
           Karena ia tidak banyak bergerak, ia menjadi segemuk seperti  sepuluh gajah yang dijadikan satu!
           Sekarang, bahkan binatang-binatang lain dari hutan-hutan lain  pun datang berkunjung untuk melihat dengan mata kepala sendiri kalau Legenda Gajah Raksasa itu benar adanya.  Dan mereka semua akan berdiri ketakutan melihat makhluk yang sangat besar itu.
           Salah satu binatang itu adalah seekor kura-kura kecil bernama  Pokito.
           Pokita mendengar tentang gajah ini dan ingin melihatnya.
           Sebagai seekor kura-kura muda dan senang bermain, ia berpikir  akan luar biasa sekali jika dapat berteman dengan gajah raksasa itu.
           Maka suatu hari, ia menghampiri Bulig yang tampak seperti sebuah gunung dibanding dirinya.  Tapi Pokito tidak takut.
           Ia berkata, "Hi Bulig besar!  Bolehkah aku menjadi temanmu?"
           Semua binatang di sekitar Bulig menahan nafas dengan tegang. Siapa yang berani berbicara seperti itu pada Bulig?  Apakah ia sadar apa yang sedang dikatakannya?  Kura-kura malang!
           Bulig merasa terhina karena seekor makhluk kecil itu tidak menyembahnya sebagai dewa.  Maka ia mendengus dan menggeram seperti biasanya dan berkata, "Aku akan remukkan kamu!"
           Namun Pokito adalah seekor kura-kura bijak.  Ia melihat ada  kelemahan besar di balik ukuran tubuh Bulig.  Ia kasihan padanya.  Karena itu ia hanya berkata, "Bulig, aku hanya ingin menjadi temanmu.  Jika engkau tidak mau, tidak apa-apa.  Aku akan tetap gembira…"
           Ketika ia membalikkan badan, Bulig bahkan menjadi lebih marah  dan mendengus dan menggeram lagi dan berkata dengan suara yang lebih keras, "AKU AKAN REMUKKAN KAMU!"
           Semua binatang lari terbirit-birit ke belakang semak-semak,  batu- batu, dan pohon-pohon.  Ini adalah pertama kalinya mereka mendengar Bulig marah sedemikian rupa.
           Pokito membalikkan badan menghadap raksasa itu lagi dan berkata dengan tenang, "Bulig, aku tidak akan melakukan itu kalau aku jadi dirimu.  Engkau akan menyakiti dirimu sendiri…"
           Wajah Bulig merah padam seperti sebuah mobil pemadam kebakaran. Ia berdiri.  Atau paling tidak ia berusaha.
           Ingat, sudah bertahun-tahun sejak ia terakhir kali berdiri!
           "Ummph…  Ummmph…. Ummmmmmmmmph! "  Berkali-kali Bulig mencoba
    namun ia tak dapat berdiri!
           "Bulig, jangan lakukan itu…," kata Pokito.
           Semua binatang keluar dari persembunyian mereka.  Mereka sangat terkejut melihat dewa mereka mengalami kesulitan untuk berdiri!
           Akhirnya, kaki Bulig tertekuk dan ia jatuh ke tanah.  Whaaam!
           Sekarang Bulig kesakitan, tapi penghinaan yang dialaminya jauh  lebih besar dari sakit fisik yang ia alami saat itu.
           Pertama, seekor monyet kecil mulai mengejek. Tak lama, monyet-monyet lain melakukan hal yang sama. Dan setelah beberapa saat, semua binatang mulai mempermalukan  Bulig.
    Mereka mencemooh dan memberinya julukan.  "Makhluk lemah!", "Si gendut!", dan "Gudang lemak!"
           Tiba-tiba Pokito berteriak, "Hentikaaaaaaaaaaan !"
           Semuanya berdiam diri di hadapan kura-kura pemberani ini.
           "Selama bertahun-tahun, kalian menyembah Bulig sebagai dewa, " kataPokito, "tapi sekarang, kalian menghinanya seperti musuh.  Mengapa kalian lakukan itu?  Bulig hanyalah salah satu dari kita, sama seperti binatang lainnya."
           Pokito berjalan mendekati Bulig yang tertunduk dan dipenuhi rasa  malu serta berkata, "Apakah engkau butuh bantuan untuk berdiri?"  Dengan perlahan, Bulig menganggukan kepalanya.
           Kura-kura itu berbalik ke gajah-gajah lain, "Bantu temanmu  berdiri."
           Gajah-gajah lain takjub dengan kearifan kura-kura kecil ini.
      Mereka semua berdiri di samping raksasa itu, dan bersama-sama, mengangkatnya.
           Dengan upaya yang keras, gajah raksasa itu berdiri.
           Dengan lututnya yang masih gemetar, Bulig tersenyum kepada  kura-kura
    itu dan berkata perlahan, "Terima kasih.  Engkaulah raksasa sesungguhnya. "
           Pokito tersenyum.  "Terima kasih."
           Bulig bertanya, "Maukah engkau menjadi temanku?"
           Kura-kura itu berkata, "Dengan satu syarat.  Engkau harus  jogging bersamaku setiap pagi."  Ia berkedip.
           Dan semua binatang tertawa serentak.

    Work Silent Killer


    Suka menunda pekerjaan sudah jadi penyakit umum di dunia kerja. Saking common-nya,
    banyak orang lantas menjadikannya pemakluman. Efek jangka pendeknya
    jelas: merepotkan. Bila tak segera disembuhkan, kebiasaan ini bisa jadi
    "penyakit mematikan".

        Salah satu penelitian yang dilakukan
    Timothy Pychyl, Director of the Procrastination Research Group at
    Carleton University, Ottawa, menyebutkan, hampir 70 persen penduduk
    Amerika Utara memiliki problem suka menunda-nunda. Jadi, Anda tak perlu
    merasa sendirian.
    Tapi, bukan berarti ini bisa jadi pembenaran.
    Dalam dunia kerja yang semakin kompetitif dan bergerak ceat, penundaan
    selalu berpotensi merugikan. Bukan cuma bagi perusahaan, tapi juga bagi
    si penunda. Pekerjaan menumpuk di belakang dan Anda pun lintang-pukang
    menyelesaikannya.

        Akibat lebih lanjut, Si Penunda kehilangan
    banyak kesempatan, produktivitas menurun dan harus menanggung stres
    yang tidak perlu. Bila berlangsung terus-menerus, kebiasaan seperti ini
    bisa mengancam kelangsungan karier. Itu sebabnya, para pakar karier
    sering mengistilahkan penundaan sebagai "work silent killer". Diam-diam mematikan.

       
    Mengakui kelemahan ini sudah merupakan pertanda bagus untuk
    menyembuhkan "penyakit" ini. Lalu, bagaimana cara mengatasinya? Sebagai
    langkah awal, para ahli psikologi perilaku menyarankan untuk mengetahui
    alasan di balik penundaan. Apakah Anda tergolong:
    * Tipe perfektionist yang sulit melakukan sesuatu sampai segala sesuatunya sempurna.
    * Tipe dreamer atau pemimpi yang selalu penuh dengan gagasan-gagasan besar tapi membenci hal-hal yang berurusan dengan detil.
    * Tipe dreader, takut atau selalu khawatir pada tugas di tangan dan mencari berbagai cara untuk menghindarinya meski sekadar menunda.

        Bila anda sudah mengetahuinya, Anda bisa membuat rencana untuk menyembuhkan penyakit suka menunda ini.

    PERFECTIONIST
    * Buat Prioritas
        Tulis segala hal yang dibutuhkan untuk menyelesaikan pekerjaan dalam susunan berdasarkan tingkat kepentingan atau urgency-nya.
    Lebih baik menghabiskan waktu lebih banyak untuk menyelesaikan tugas
    yang Anda anggap lebih penting, baru kemudian menyelesaikan sisanya.

    *Tentukan Deadline
       
    Meski atasan tak memberi waktu yang ketat, buatlah tenggat waktu untuk
    diri sendiri dan paksalah diri untuk menaatinya. Bila sulit
    mendisiplinkan diri sendiri, mintalah teman atau mungkin atasan untuk
    menyiapkan "pecut" untuk memastikan bahwa Anda tetap berada di jalur
    yang benar.

    * Alokasikan Waktu
        Beri
    patokan waktu pengerjaan lebih banyak dari yang Anda pikir dibutuhkan.
    Dengan begitu, Anda punya kesempatan untuk melakukan check and recheck.

    * Enough is Enough
       
    Pertahankan standar kerja Anda yang tinggi itu, tapi sadari juga kapan
    Anda harus berhenti. Contohnya, jangan habiskan waktu Anda hanya untuk
    mengurusi hal yang sesungguhnya kurang penting, sementara hal yang
    lebih prinsip jadi terabaikan.

     

    DREAMER
    * Pecahkan Ide
        Bentangkan visi besar Anda, lalu pecahkan menjadi bagian-bagian kecil yang lebih spesifik, jelas dan terukur.

    * Terorganisasi
       
    Mulailah dengan perencanaan yang matang. Siapkan bahan-bahan yang
    dibutuhkan sebelum memulai pekerjaan. Buatlah daftar pekerjaan yang
    realistis dan lakukan pengecekan tentang apa saja yang sudah Anda
    selesaikan.

    *Hindari Gangguan
        Batasi diri
    dari unsur-unsur yang berpotensi melemahkan semangat Anda dan membuat
    Anda kembali "mengawang-awang". Misalnya, terlalu banyak berdiskusi
    dengan orang lain, terlalu banyak informasi yang membuat Anda bingung
    memilih mana yang penting atau tidak. Atau mungkin terlalu banyak
    memikirkannya untuk membuatnya lebih baik dan lebih baik lagi.

    * Wake up!
       
    Berpikir dan berkhayal itu penting. Tapi Anda perlu ingat bahwa Anda
    perlu meralisasikannya. Begitu Anda berhenti memikirkannya dan mulai
    mengerjakan pekerjaan itu, Anda akan merasa lebih baik dan bisa
    menyempurnakannya ketimbang hanya mengerjakannya dalam pikiran.

     

    DREADER
    * Small Steps
       
    Pecahkan proyek atau pekerjaan besar menjadi bagian-bagian lebih kecil
    yang sepertinya lebih sanggup Anda hadapi. Begitu Anda bisa mengatasi
    bagian yang kecil, bagian berikutnya yang lebih besar akan lebih mudah
    dikerjakan karena Anda sudah lebih percaya diri.

    * Pilih Waktu
        Mulailah pada saat kondisi Anda sedang bagus-bagusnya. Misalnya, pada pagi hari ketika baterai Anda masih full dan pikiran masih segar. Dengan mulai sesegera mungkin, Anda juga tidak memberi kesempatan kekhawatiran bersarang di pikiran.

    * Target Jangka Pendek
       
    Buatlah tujuan jangka pendek untuk tugas yang Anda hindari. Bila Anda
    bisa mengatasi 15 menit pertama, Anda akan sanggup menghadapi waktu
    yang lebih panjang.

    * Rayakan keberhasilan
       
    Berikan penghargaan pada diri sendiri usai menyelesaikan suatu tugas
    yang Anda "takuti". Misalnya, dengan sekadar makan malam enak, nonton
    film atau beli baju baru.

        Di luar semua itu, cara terbaik mengatasi kebiasaan menunda-nunda adalah menggantinya dengan kebiasaan baru. Next time, bila Anda merasa "stuck", tanyalah ke diri sendiri ‘Adakah hal -sesederhana apa pun- yang bisa saya mulai kerjakan?’. Bila Anda sudah sanggup mengerjakannya, Anda telah berhasil memutuskan rantai penundaan dan berada di jalur yang benar.

    9 Cara Jaga Reputasi dan Harga Diri


    Mempertahankan harga diri berarti segala sesuatu yang berhubungan dengan rasa hormat terhadap diri sendiri, rasa percaya diri, serta sikap adil. Supaya terhindar dari kesalahan yang dapat merusak semua itu, ada baiknya menerapkan kiat-kiat berikut agar karier Anda terus meroket.

    1. TUNJUKKAN SIKAP POSITIF
    Selalu tunjukkan sikap positif pada atasan, rekan kerja, dan kondisi kantor. Buktikan bahwa Anda aset kantor yang berharga dan berkontribusi terhadap perkembangan perusahaan.

    2. JANGAN SUKA MENGELUH
    Sikap Anda yang sering mengeluh, sering izin tidak masuk kantor karena sakit, atau meminta keringanan atas batas waktu suatu tugas, akan membuat atasan Anda tidak senang. Sikap tidak senangnya ini akan mempengaruhi karier serta rasa percaya diri Anda. Dan kenyataannya, tukang mengeluh tidak akan mendapatkan promosi.

    3. PEKERJAAN SESUAI
    Anda berhak mendapatkan pekerjaan dengan kompensasi yang sesuai dan pantas, serta kondisi pekerjaan yang aman. Perjuangkan hak Anda dan jangan jual harga diri. Jangan pernah takut untuk menanyakan segala sesuatu hal yang penting bagi diri Anda kepada atasan. Bersikap tegas tetapi jangan menyerang serta utamakan kepentingan perusahaan.

    4. JANGAN SELALU IKUT ARUS
    Jangan pernah takut untuk mandiri. Bekerja sama dengan sesama rekan kerja, itu perlu. Tapi, Anda tidak akan dihargai bila membiarkan teman sekerja memanfaatkan Anda.

    5. JAGA REPUTASI
    Tidak ada salahnya bersenang-senang sesudah jam kerja atau pada acara-acara yang diadakan kantor, tetapi tetap jaga sikap dan perilaku. Perilaku sama halnya dengan harga diri.

    6. MASALAH PRIBADI? NO!
    Jaga volume suara bila berbicara di telepon untuk masalah-masalah pribadi.

    7. KENDALIKAN EMOSI
    Jika teman sekerja ada yang berulah sehingga mengganggu pekerjaan Anda, sebaiknya tetap kendalikan emosi. Reaksi Anda akan memengaruhi persepsi orang lain terhadap Anda. Pertahankan harga diri dengan mengendalikan emosi.

    8. WASPADA PELECEHAN
    Laporkan pada pihak berwenang bila terjadi pelecehan di tempat kerja, baik yang menimpa Anda atau teman sekerja. Pelecehan di tempat kerja berpengaruh kepada harga diri seseorang.

    9. KEPEMIMPINAN KREATIF
    Di dalam dunia kerja, inovasi merupakan kunci masa depan. Gunakan bakat kreatif Anda untuk membantu pertumbuhan perusahaan tempat Anda bekerja. Hal ini akan meningkatkan rasa percaya diri Anda.